Alam (pemikiran) imajinal (bagian 2)

0
574

teradesa.com. Alam (pemikiran) manusia yang kedua adalah alam imaginal. Kata imaginal diambil dari kata imaginaly yang maknanya berbeda dengan kata imaginary. Kata imaginaly lebih menunjuk pada sifat imajiner  atau merujuk pada suatu tempat. Sedangkan, kata imaginary lebih bermakna khayalan. Lebih tepatnya dalam konsep yang akan penulis jelaskan, kata imajinal lebih mengarah pada makna tempat (alam) perantara, tempat diantara yang fisik dengan non-fisik, material dengan ruhani. Atau, dengan kata lain dapat juga disebut sebagai barzakh.

Henry Corbin membedakan antara konsep imajiner dengan imajinal. Imajiner dimaknai sebagai dunia maya, dunia tidak riil. Sedangkan, imajinal dimaknai sebagai imajinasi yang riil (imaginatio vera). Imajinal (alam mitsal) bukan saja riil, tetapi bahkan lebih riil dan lebih inten dibandingkan dengan alam empiris. Pemikiran, pengetahuan dalam alam imajinal sesungguhnya lebih riil dibandingkan dengan pemikiran atau pengetahuan dalam alam (pemikiran) logis-empiris. Pemikiran logis-empiris berada dalam tingkat paling rendah dalam konsep hirarki wujud menurut Ibnu ‘Arabi.

Alam (pemikiran) barzakh (imajinal) dalam konsep Islam ada tiga, yaitu; sebelum kelahiran, mimpi, dan setelah kematian. Ketiga alam ini merupakan tempat (alam) perantara dua alam yaitu antara ruhani dengan material-majemuk, jasad dengan ruhani, immateri dengan material, dan duniawi-ukhrowi. Bagi ruh, ketiga tempat ini memiliki sifat yang sama, yaitu alam mitsal, mimpi. Ia berada diantara dua alam, yaitu alam berdimensi ganda (wadak)—membutuhkan ruang dan waktu dengan alam yang tidak berdimensi.

Alam imajinal sebelum masa kelahiran dalam konsep hirarki wujud, Ibnu ‘Arabi menyebutnya sebagai alam mitsal/alam barzakh, alam yang berada diantara ruhani dengan material-majemuk. Alam mitsal berada diantara alam jabarut (ruhani-majemuk) dengan alam mulk/alam ajsam/alam empiris (materi-majemuk). Para waliyullah yang mempunyai kemampuan akses ke sini bisa melihat gambaran persis sesuatu, padahal sesuatu itu tidak ada bentuk konkritnya, termasuk gambaran masa depan—kemampuan demikian disebut sebagai kasyf (fath).

Rasulullah ketika isra’nya diragukan oleh umatnya saat itu, Allah membuka (fath) akses beliau detail gambar/bentuk masjid al-Aqsa dan nikmat syurga atau siksa neraka. Ya, kemampuan kasyf (fath) persis ketika seseorang melihat tayangan film atau suatu tempat/peristiwa di layar TV.  Dari kemampuan kasyf itu Nabi dapat menjelaskan kepada umatnya tentang detail yang dilihatnya. Kemampuan demikian, bagi para para Nabi dan awliya’ dapat dialami dalam keadaan terjaga (yaqazhah) maupun dalam keadaan tertidur (mimpi).

Setiap tidur manusia selalu bermimpi. Bermimpi adalah peristiwa barzakh, ruh manusia mengalami suatu peristiwa yang dapat dirasakan, dilihat oleh yang bersangkutan. Dalam konsep ilmu jiwa, bermimpi adalah kesadaran yang terbawa dalam alam bawah sadar. Peristiwa-peristiwa dan pikiran yang berkembang dialam riil, dunia, atau alam kesadaran terbawa saat tidur. Jadi, tidur itu peristiwa istirahat jasmaniah, sedangkan ruhaniah manusia tidak pernah tidur karena ia tidak membutuhkan ruang dan waktu (wadak).

Mirip dengan bermimpi. Kematian adalah berpisahnya antara ruh dengan jasmani atau material majemuk. Ruh akan kembali ke alam jabarut sedangkan material-majemuk (jasmani) kembali menyatu dengan bumi/tanah. Dalam alam kematian (barzakh), ruh melihat (memperoleh pengetahuan) semua peristiwa yang telah menimpanya di alam dunia, Tuhan memperlihatkan semua perkataan, sikap, dan perilaku selama di dunia. Ia juga merasakan kebahagiaan dan siksaan. Ruh manusia sajalah yang melihat dan merasakannya—sekali lagi ruh itulah inti kemanusiaan.

Dalam alam jabarut (ruhani-majemuk) setiap ruh merasakan dan melihat (bermimpi) mengalami peristiwa di alam material-majemuk (dunia), dan alam barzakh. Ruang dan waktu di dunia tidaklah bermakna bagi setiap ruh manusia. Seakan bermimpi masuk kedalam jasad manusia dan mengalami kebahagiaan dan kesengsaraan, kemudahan dan kesulitan, menyakitkan dan menyenangkan. Begitu halnya ketika di barzakh—semua seperti peristiwa mimpi.

Alam (pemikiran) imajinal (alam mitsal) adalah tempat sebenarnya perjuangan/pengujian setiap kesatuan ruhani-material majemuk (manusia). Ia juga tempat pemerolehan pengetahuan yang dialami. Alam ini penting karena ia merupakan wahana citra yang merepresentasikan pengalaman pengetahuan dan pengalaman religius. Pada saat pemerolehan pengalaman itu terkait dengan alam ruhani, bersifat presensial (menghadir, mengalami), eksistensial, dan sintetik-holistik ketimbang logis-analitis dan repersentasional. Jadi, pengetahuan yang diperoleh dalam alam (pemikiran) imajinal adalah pengetahuan yang lebih tinggi tingkatannya dibanding pengetahuan logis-empiris. Nur Kholis (LSP Community).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here