Beda mindset tentang Aset Masyarakat di Negara Maju dengan Sedang Berkembang

0
385

teradesa.com. Ini lho juga saaangat penting di era digital! Apa itu? Kreatifitas. Coba amati orang-orang di sekitar kita. Setiap hari berangkat kerja sama. Pagi berangkat, sore atau malam pulang. Waktu yang dibutuhkan sama, potensi jasmaniahnya sama, tetapi pendapatannya beda. Di era digital, tidak hanya dibutuhkan kerja keras, tetapi yang tidak kalah penting adalah kerja cerdas dan kreatif.

Apa bedanya mindset masyarakat di negara-negara maju dengan masyarakat di negara-negara sedang berkembang? Menurut mentri keuangan, Sri Mulyani bahwa bedanya terletak pada cara kerja. Masyarakat di negara-negara maju kerjanya biasa-biasa saja tetapi asetnya bekerja keras. Sementara, masyarakat di negara sedang berkembang orangnya kerja keras tetapi asetnya didiamkan.

Yah itu karena mereka kreatif. Orangnya diam, duduk, ngopi dan/atau jalan-jalan, sementara asetnyanya yang bekerja. Mereka memaksimalkan aset untuk menghasilkan aset dan aset. Aset dapat dibagi menjadi dua. Pertama, aset dinamis, misalnya perhiasan, tanah, kendaraan, ternak, dll. Kedua, aset potensial. Aset ini dimiliki oleh semua manusia, tetapi perlakuannya berbeda, yaitu potensi akal (otak), inilah sumber kreatifitas. 

Aset yang pertama (aset dinamis) dapat berfungsi secara maksimal jika berada pada orang-orang yang memiliki aset kedua (aset potensial) yang baik. Orang yang memiliki aset potensial yang baik adalah mereka yang dapat menyulap semua kendala dan tantangan sebagai sebuah peluang. Carlos Ghosn misalnya, 1999-2002 berhasil membangun Nissan Revival Plan dengan konsep dasarnya adalah turn-arround Nissan. Nissan yang terpuruk, memiliki hutang $20 Milliyar di tahun 1998-1999 berhasil disulap bangkit kembali, bahkan tahun 2016 berhasil membeli saham mitsubishi 34%.

Aset, dengan demikian tidak selalu dalam bentuk barang atau capital. Otak yang kita miliki ini justru aset yang paling berharga. Tony Buzan, dalam bukunya, head strong mengatakan bahwa otak kita dirancang sebagai mekanisme sukses. Otak memiliki prinsip-prinsip yang sangat berguna untuk menjadikan seseorang kreatif, cerdas, dan fit secara fisik dan mental.

Kreatifitas dapat dilatih? Ya bisa. Ingat, pertama kali yang diajarkan Allah swt kepada Nabi Adam a.s agar dapat menjadi seorang aktor adalah mengajarkannya tentang nama-nama (benda-benda) (QS al-Baqarah/2: 30-31). Ini rahasia kuncinya, mengapa manusia sanggup menjadi khalifah dan pemakmur bumi dibanding makhluk lainnya. Bahkan para Malaikat-pun protes kepada Allah swt.

Mengapa bukan mengajarkan kata kerja? Memperkenalkan kata kerja hanya akan menyebabkan seseorang menjadi robot, tidak kreatif. Sementara memperbanyak kosa kata tentang benda-benda di sekitar kita (dalam diri dan alam semesta) akan menjadikan seseorang kreatif, dan mampu memecahkan segala problem yang dihadapi. #Nur Kholis.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here