Beragama Tanpa Kekerasan, Lauren Booth: Menjadi Muslim Merupakan Suatu Kedamaian

0
303

teradesa.com. Lauren Booth, adalah wartawan senior Inggris. Kakaknya, Cherie Blair adalah istri Perdana mentri Ingris, Tony Blair. Lauren dibesarkan dalam keluaraga tidak religius di London Utara, ayahnya adalah seorang aktor, Tony Booth, selalu berjudi dan suka pub.

Lauren merupakan jurnalis senior dan sangat produktif. Ia banyak menulis laporannya di berbagai Koran di Inggris seperti New Statesman, The Sunday Times, Guardian dan Daily Mail. Moment awal spiritualitas penting yang dialaminya adalah pada saat dia melakukan perjalanan jurnalis, tepatnya di kota Rafah, Palestina.

Lauren, pada saat itu mengunjungi rumah salah satu Muslim Palestina. Dia mengetuk pintu rumah yang sangat miskin, tuan rumah membuka dan mengatakan, “wassalamu’alaikum wr wb, salam salam salam, silahkan masuk”, dengan penampakan wajah yang selalu tersenyum dan sangat bahagia. Lauren, mengamati seluruh ruang rumah yang hanya ada dinding batako tanpa perabot apapun.

Kunjungan Lauren Booth yang kedua ini adalah pada tahun 2008, kunjungan pertamanya adalah pada tahun 2005 untuk sebuah wawancara ekslusif dengan Mahmoud Abbas. Tepat di bulan Ramadlan itu, saat berada di rumah Muslim miskin, Lauren Booth bertanya kepada tuan rumah, “mengapa kamu rela berlapar selama 30 hari, sementara di malam hari kamu tidak memiliki makanan? Mengapa kamu mau berhaus selama 30 hari, sementara kamu sulit mendapatkan air bersih? Bagaimana mungkin Tuhanmu memaksa kamu tidak makan dan minum selama 30 hari?

Perempuan sederhana dengan beberapa anak kecilnya, tersenyum dan menjawab, “saya mencintai Tuhan dan karenanya kami ingin merasakan penderitaan orang-orang miskin”. Booth tidak habis pikir, bagaimana mungkin orang ini sudah sangat miskin, tetapi mereka rela berpuasa demi Tuhannya dan ingin merasakan penderitaan orang miskin. Bagi Lauren, keluarga ini telah mengajarkan kepadanya tentang kebahagiaan pada saat mencintai Tuhannya.

Pada saat Israel mengepung dan menggempur Gaza, Lauren Booth tidak mau keluar dari Kota Rafah, ia berkata, “suatu kehormatan bagi saya berada dibawah pengepungan bersama dengan orang-orang Palestina yang ingin bertahan hidup dibawah pendudukan Israel”.

Ditengah gempuran roket dan bom Israel, Booth tampak menangis di belakang rumah. Tuan rumah menghampiri dan bertanya, “mengapa kamu menangis?”. Lauren Booth menjawab, “saya menangis karena menyaksikan perempuan dan anak-anak terancam dan terus dalam intaian pembunuhan oleh zionis Israel”.

“Kamu menangis merasa sedih karena kami, sementara kami di sini selalu merasa bahagia”. jawab tuan rumah. Lauren, sedih bercampur bahagia menyaksikan dan merasakan kesabaran muslim di Kota Rafah.

Lauren, juga menjadi juru kampanye penentangan pengepungan dan pembunuhan massal oleh Amerika Serikat bersama sekutu Inggris terhadap Irak, yang berakhir dihukum gantung Presiden Irak, Saddam Hussein.

Pada semuah seminar “Islam, Fear Or Not To Fear?” yang merupakan bagian dari acara Koferensi Islam yang digelar Islamic Society Essex University, Colchester (6/2021).

Perempuan kulit putih itu menjadi pembicara dengan topik “My Journey to Islam”. Seminar itu dihadiri lebih dari 200 peserta termasuk walikota Colchester, Sonia Lewis. Dia mengatakan Muslim ingin semua orang menjadi bahagia. “Menjadi Muslim merupakan suatu kedamaian”.

Saat ini, Lauren telah menjadi seorang Muslim, enam pekan setelah mengunjungi makam Fatima al-Masumeh di kota Qom, Iran. Lauren berkata, “Pada saat itu saya duduk dan merasakan keadaan yang penuh dengan spiritual, kebahagiaan mutlak dan sukacita,”.

Pilihannya ini kemudian diikuti oleh kedua anaknya, ia selalu memberikan contoh berakhlak yang baik, dan selalu mengajarkan kepada mereka untuk beragama tanpa melakukan kekerasan terhadap sesama. Dan, kini kami merasakan kebahagiaan.#Nur Kholis

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here