Bersahabat dengan Alam

0
47

teradesa.com. Perjalanan ini sengaja menggunakan sepeda motor. Saya paling suka, karena dapat menyasar daerah-daerah yang tidak mungkin menggunakan kendaraan lainnya. Perjalanan di daerah puncak Pagerwojo dan Sendang lebih menyenangkan dibanding di daerah selatan, sepanjang jalur lintas selatan, terutama bagian timur…Gersang.

Banyaknya air laut di daerah ini, sampai saat ini belum dapat dimaksimalkan untuk kepentingan pertanian dan pemenuhan kebutuhan sehari-hari masyarakat sekitar. Melimpahnya air laut sebetulnya berkah, jika dikelola dengan baik, yakni merubah dari air asin menjadi air tawar. Teknologi ini sebetulnya sudah aplicable hanya saja Pemerintah belum melihatnya sebagai peluang.

Di beberapa wilayah Selatan, misalnya di Wonotirto, Pucanglaban, Besuki, Watulimo, dan Munjungan air laut masih sebatas digunakan untuk tambak udang. Pemanfaatan seperti ini hanya menguntungkan pengusaha dan sedikit pamasukan APBD. Perlu ada usaha maksimal lagi, agar selain digunakan untuk tambak, ditambah usaha untuk merubah menjadi air tawar agar bermanfaat bagi masyarakat sekitar.

Selain itu, perlu ada usaha perintisan rekayasa melimpahnya air pada saat musim hujan untuk pengairan di saat musim kemarau. Misalnya pembuatan terowongan niama di Sidem mampu mengatasi masalah banjir di Kota Tulungagung. Tetapi pelimpahan air yang bersumber dari pegunungan Pagerwojo dan Sendang ini terbuang percuma, bahkan banyak membawa sampah perkotaan ke dasar laut. Sementara, masyarakat sekitar masih membutuhkan untuk kebutuhan pengairan pertanian.

—————

Cerita di atas hanyalah contoh kecil gambaran bagaimana manusia dapat bersahabat dengan alam. Memang sudah seharusnya kita merubah mindset menjadikan alam sebagai sahabat/mitra. Ada semacam perubahan pola pikir tentang posisi alam dihadapan manusia. Misalnya pada era tradisional alam dimaknai sebagai tempat para dewa karenanya dikultuskan. Sementara, pada era modern alam dijadikan sebagai objek pembangunan.

Dampak dari mindset demikian menimbulkan trend masalah besar krisis lingkungan yang dihadapi masyarakat adalah kekeringan dan banjir. Hal demikian setidaknya disebabkan oleh dua hal. Pertama, masalah-masalah lingkungan hidup yang disebabkan oleh kemiskinan ditambah dampak konsentrasi penduduk. Kedua, masalah perusakan dan pengotoran lingkungan hidup yang diakibatkan oleh proses pembangunan.

Baiklah, disini saya hanya akan menganalisis problem kepadatan/konsentrasi penduduk yang berdampak pengotoran dan kerusakan lingkungan. Terkonsentrasinya penduduk pada kota-kota tidak dapat terhindari selama Pemerintah belum memecah kota administrasi dan pusat bisnis. Kebanyakan kota-kota besar di Indonesia, selain berfungsi sebagai pusat administrasi pemerintahan, juga berfungsi sebagai pusat bisnis.

Tidak bisa dipungkiri bahwa urbanisasi menjadi trend baru. Urbanisasi yang tiada henti, dari satu generasi ke generasi berikutnya akan berdampak pada beberapa problem pengikut. Misalnya banjir, kotor, dan tidak sehatnya air bersih/rumah tangga. Semakin banyaknya jumlah penduduk, maka mau tidak mau pemerintah perlu menyediakan rumah dan/atau apartemen. Dengan demikian pembangunan perumahan dan perkantoran menjadi suatu niscaya.

Dampak lanjutannya adalah layanan kota (municipal service), seperti penyediaan listrik, pengambilan dan penumpukan sampah, riolering (drainage system, sewers), air leding, transportasi untuk masyarakat umum. Gambaran ini hanyalah sebagian kecil poblem masyarakat perkotaan. Belum lagi ditambah masalah pengangguran, kekurangan perumahan, kekerasan, dan narkoba dll.

Pembangunan kota yang tidak terencana akibatnya tidak mungkin dapat menampung luapan air di musim hujan. Pembangunan drainase tradisional, yang hanya berfungsi untuk mengalirkan air, sekarang tidak lagai relevan. Perlu ditambah biopori dalam drainase. Masyarakat perkotaan juga perlu diwajibkan untuk membuat biopori sebanyak-banyaknya di pekarangan/halaman rumah.

Ditempat lain, di daerah perdesaan dan pegunungan juga menghadapi problem yang hampir mirip. Kemiskinan yang menyelimuti kebanyakan masyarakat di daerah ini memungkinkan melahirkan sikap acuh dan pengrusakan hutan menjadi lahan pertanian. Sudah menjadi pemandangan umum bahwa misalnya di daerah selatan Tulungagung ratusan hektar hutan disulap menjadi tanaman tebu dan jagung.

Perubahan pemanfaatan hutan menjadi lahan pertanian dan perikanan akan berdampak pada ancaman banjir dan kekeringan. Sementara, kemungkinan akibat pembangunan Bandara Kediri dan ambisi Pemerintah untuk pembangunan jalan lingkar wilis akan menjadi ancaman terhadap hutan lereng Wilis yang sekarang menjadi satu-satunya hutan yang sangat menyejukkan.

Sudah dapat kita pahami bahwa sekarang dan ke depan perlu dibangun keserasian antara manusia dengan alam. Keserasian yang dimaksud di sini adalah pentingnya membangun “rasa”, yaitu induk penglihatan dan pemikiran kita, bahkan tidak bisa lepas dari intuitif, ekspresif dan estetis manusia serta kemampuan untuk berkomunikasi secara non-verbal. Rasa, bahwa manusia hakikatnya tidak bisa hidup tanpa kesempurnaan alam. Maka, tugas manusia adalah membangun lingkungan fisik dan nonfisik yang ramah lingkungan alam.  Salam satu jiwa dengan alam. Cak Nur.

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here