Bertindak Baik

0
96

teradesa.com. Manusia diciptakan Tuhan sebagai makhluk bebas (otonom) dalam berfikir, bersikap, dan bertindak. Kebebasan merupakan prinsip utama yang seharusnya dijalankan manusia. Karena Tuhan telah membekalinya dengan hati, akal, dan nafsu. Tetapi, ketiganya ini, saya pahami dalam kesatuan makna ruhani/jiwa. Dua unsur utama manusia yaitu; jasmani dan ruhani. Ruhaniah ini bersifat kompleks, didalamya termasuk akal, kalbu, nafsu, jiwa, dll.

Potensi ruhaniah itu menjadi alat bagi manusia untuk memiliki kepekaan atau cenderung kepada kebenaran [al-hanif] (QS. al-An’am: 79; ar-Rum: 30). Begitulah—manusia ditakdirkan memiliki kecenderungan kepada kebenaran/kebaikan. Sejak didalam kandungan, manusia ditiupkan ruh-ilahiyah [ruh kebenaran/kebaikan] (QS. al-A’raf: 172). Karenanya, jika seseorang mendengarkan dan memperhatikan bisikan qalbunya, maka ia akan selalu berada dalam jalan kebenaran/kebaikan.

Suara hati itulah sejatinya kebenaran/kebaikan. Bukan suara tetangga, teman, kerabat, suami/istri atau bahkan nafsu. Karena, suara-suara yang terakhir ini kebanyakan masih terselip kepentingan diluar kebenaran (tidak obyektif). Dalam kondisi apapun—sulit-longgar suara hati selalu muncul. Suara hati juga dapat disebut sebagai kebenaran obyektif. Nabi saw mengajarkan bahwa hati itulah sumber utama baik buruknya sikap dan perilaku manusia.

Kehendak baik itu tidak dibatasi oleh apapun. Tidak dibatasi oleh jabatan, struktur, sosial, ekonomi. Karena kebaikan yang tanpa pembatasan adalah kehendak baik. Bakat ruhani, ciri perangai, dan sifat-sifat watak seseorang hanya akan mempunyai nilai moral [kebaikan] apabila diabdikan pada kehendak baik itu. Kehendak yang menentukan apakah watak seseorang dipakai dengan baik atau buruk.

Kehendak baik itu adalah dengan selalu memenuhi kewajiban, karena kewajiban itu sendiri. Sebagai penghamba, manusia memiliki kewajiban kodrati [asali] dan kewajiban sosial. Kewajiban kodrati adalah suatu kewajiban universal kemanusiaan. Sedangkan kewajiban sosial adalah tuntutan peran karena struktur didalam keluarga atau/dan komunitasnya masing-masing. Tentu, kewajiban demikian berbeda antar individu satu dengan individu lainnya.

Berpikir, bersikap, dan berperilaku sesuai tata aturan peran/pemenuhan kewajiban kodrati dan sosial itulah kebaikan yang hakiki. Bertindaklah semata-mata menurut prinsip yang dapat sekaligus engkau kehendaki menjadi hukum universal. Penilaian terhadap suatu tindakan moral itu didasarkan pada ukuran otonomi individu pelaksana, tanpa mempertimbangkan konteks tindakan dan tujuannya. Kewajiban melakukan sesuatu merupakan keniscayaan, tanpa harus melihat konsekuensinya.

Ketika saya memberi uang pada pengemis dengan niat agar dikenal [apalagi dipublikasikan] sebagai dermawan, maka itu bukan kebaikan [tindakan bermoral]. Seseorang yang melakukan sholat dhuha agar rizkinya dipalangkan—itu bukan kebaikan. Seorang guru mengajar penuh dedikasi dan professional, karena merasa seharusnya dia melakukannya [kewajiban]—itulah kebaikan [tindakan moral]. Atau, dalam konteks apapun [kondisi diri sempit atau longgar) seseorang membantu orang lain—itulah kebaikan.

Bertindak baik pada prinsipnya dapat dilakukan oleh setiap manusia, beragama atau tidak beragama. Agama hanya bersifat me-refresh pengetahuan ilahiyah. Terdapat dua analisis mengapa demikian. Pertama, setiap manusia dibekali korteks prefrontal, yang ada dalam otak manusia, dibagian depan-atas. Komponen otak manusia ini memiliki kemampuan mengenali baik-buruk, boleh-tidak boleh, dan benar-salah sesuai konteksnya. Inilah yang disebut hati dalam konsep Islam.

Kedua, dalam kajian psikoanalisis, dalam akal manusia terdapat apa yang disebut motorik kasar dan motorik halus. Motorik halus memungkinan seseorang bertindak sesuai logika baik-buruk, boleh-tidak boleh. Sedangkan, motorik kasar memungkinkan seseorang bertindak secara reflektif—tanpa analisis terlebih dulu. Sikap dan Tindakan orang yang sedang marah, tidak dapat disebut sebagai tindak beretika, karena semua bersifat reflek, tanpa analisis kebaikan [digerakkan motorik kasar]. Nur Kholis

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here