teradesa.com. Dinasti Abbasiyah berdiri sebagai hasil perebutan kekuasaan dengan dinasti Umayyah. Dinasti ini didirikan oleh salah satu kerabat Nabi Muhammad SAW, Abu Abbas as-Safah dengan Abu Muslim al-Khurasani yang masyhur dikenal sebagai panglima gagah perkasa. Paradigma dinasti ini berkeyakinan bahwa kekuasaan pemerintah harus dipimpin oleh keturunan atau kerabat dekat Rasulullah SAW. Hal inilah yang melatarbelakangi gerakan pemberontakan terhadap dinasti Umayyah.

Dinasti ini dipimipin oleh 37 khalifah dengan melewati fase-fase sejarah dan mencatatkan namanya sebagai era keemasan (golden age) bagi dunia Islam. Salah satu khalifah yang menghantarkan dinasti ini menuju puncak kejayaan dalam berbagai aspek kehidupan baik politik, ekonomi, pendidikan, sosial, dan budaya adalah khalifah Abdullah al-Makmun.

Khalifah Abdullah al Makmun merupakan putra khalifah Harun ar-Rasyid yang juga dikenal sebagai salah satu khalifah termasyhur dalam Dinasti ini. Ia diangkat sebagai khalifah setelah mengatasi pertempuran dengan saudaranya al-Amin. Abdullah al-Makmun telah menguasai berbagai macam ilmu pengetahuan ketika usianya masih muda. Karena itulah, ia dikenal sebagai putra Harun ar-Rasyid yang jenius dan cerdas.

Ia juga dikenal sebagai administrator ulung yang mengatur jalannya roda pemerintahan secara tertib dan stabil. Khalifah Abdullah al Makmun dijadikan sebagai tokoh utama dalam hal kesabaran, keilmuan, kehebatan, keberanian, dan kecerdasan. Ia dijadikan sebagai khalifah paling berjasa yang membawa dinasti Abbasiyah mencapai peradaban tertinggi dalam sejarah Islam.

Abdullah al-Makmun berjasa besar atas perkembangan ilmu pengetahuan dalam Islam. Ia melakukan berbagai program dan kegiatan, serta merancang strategi yang membawa kemajuan luar biasa bagi bidang keilmuan. Ia melakukan perluasan dan perbaikan terhadap Baitul Hikmah yang merupakan perpustakaan terbesar pada masa itu.

Selanjutnya, ia juga mengkonstruksi Baitul Hikmah sebagai lembaga pendidikan dan tempat penelitian terbesar yang menjadi tanda kekuatan kebangkitan dunia Timur dimata dunia. Abdullah al-Makmun juga melakukan proses penerjemahan buku-buku yang akhirnya mendorong umat Islam menguasai warisan intelektual dari India, Persia, dan Yunani.

Proses penerjemahan ini dipimpin oleh Hunain ibnu Ishaq serta melibatkan tokoh-tokoh intelektual yang beragama nasrani. Selain itu, Abdullah al-Makmun juga sangat memperhatikan kemajuan dalam bidang sosial dan politik. Ia mendirikan beberapa lembaga negara seperti Badan Negara (lembaga legisltif), dan badan intelegen. Inilah yang kemudian membawa Baghdad menjadi pusat pemerintahan sekaligus pusat perkembangan budaya dan ilmu pengetahuan. #Tsania Utsma Tausih



LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here