Giesel, Film 19 detik, & Tuhan

0
191

teradesa.com. Maaf, penulis tidak bermaksud membandingkan antara film berdurasi 19 detik, dan Giesel Anastasia dengan Tuhan. Karena bukan hal yang patut dibandingkan. Penulis hanya ingin menunjukkan kecenderungan orang Indonesia yang dicari di internet (google trends), apakah hal-hal yang berbau porno ataukah spiritualitas? Hasilnya menakjubkan bahwa rata-rata dibawah 10% masyarakat mencari hal-hal berbau porno selama bulan Maret. Sedangkan rata-rata 90% cenderung naik ke 100% masyarakat mencari topik berkaitan dengan spiritualitas. Hal ini menunjukkan bahwa masyarakat Indonesia cenderung agamis.

Secara teoritis, sikap demikian dapat dijadikan dasar bahwa kita masih memiliki harapan masyarakat Indonesia dapat menjadi “kandidat” leader pengembangan peradaban di masa yang akan datang. Lho, apa hubungannya antara sipitualitas dengan peradaban? Dalam sejarah perkembangan peradaban, mulai zaman Yunani, Islam, dan Barat—semua peradabannya ditopang atau digerakkan dari sikap spiritualitas yang kuat. Selain itu, sebenarnya peradaban dapat berkembang karena digerakkan oleh ide utama—kebaikan. Kebaikan selalu bersumber dari “rasa” spiritualis manusia.

Marilah kita bayangkan melangkah dari peradaban satu ke peradaban lainnya. Misalnya mulai dari Yunani, Islam, Hindu, Budha, Asia Tenggara, Maori di Selandia Baru, Indian di Amerika Utara, Indian di Amazon, suku Yourba dan di tempat-tempat lain—jantung peradabannya adalah agama. Perdaban Barat, meskipun telah memisahkan dengan Kristen, tetapi spiritnya adalah agama Kristen. Pemisahan (sekularisasi) karena adanya perbedaan pandangan antara penguasa ortodoksi  Kristen Katolik dengan para ilmuwan—dengan korban Galilio Galilie. Pada awalnya ilmuwan, agamawan, dan Raja selalu bersanding mesra.

Peter Berger, dalam sebuah buku, The secularization of the world, berpendapat bahwa apa yang telah berlangsung di dunia selama beberapa dekade lalu bukanlah sekularisasi masyarakat, tetapi desekularisasi. Secara substansial istilah desekularisasi memiliki makna yang sama dengan integrasi, dedualisme, dediferensiasi dan semua kata lainnya yang memiliki arti penyatuan atau rujuk kembali. Jika dikaitkan dengan problema keilmuan, maka desekularisasi keilmuan berarti penyatuan kembali agama dengan ilmu pengetahuan (sains). Oleh karena-nya, jangan heran jika di beberapa Negara maju kecuali Eropa, agama-agama tetap berkembang dengan baik.

Kebutuhan spiritualitas di negara-negara Barat sebenarnya telah dirasakan sejak tahun 1960an. Alvin Tofler, sejak tiga dekade lalu menyebutkan tak kurang dari 4000 organisasi suci di Amerika serikat. Sementara, majalah Time dalam sebuah survey-nya beberapa tahun lalu menyimpulkan bahwa di Amerika Serikat ada lebih banyak orang yang melakukan kebaktian ketimbang menonton sinema, melakukan olah raga, dan aktivitas seksual. Begitu halnya di negara-negara mayoritas agama Islam, India yang Hindu, Asia yang Budha, bahkan Cina yang komunis di mana Konfusianisme lebih kuat di masa sekarang dari pada era Mao.

Lihat juga, apa yang dilakukan oleh Steven Waldman, mantan editor US News dan World Report, bahwa kata “Tuhan” merupakan salah satu kata yang paling popular di mesin pencari di internet. Berdasarkan data tersebut, ia bersama temannya, Robert Nylan, seorang Chief Executive dari New England Monthly, pada tahun 2000 mengembangkan situs beliefnet.com. Sebuah situs yang menyediakan berita-berita, kelompok diskusi dan fitur-fitur tentang agama-agama dan spiritualitas di dunia. Siapa sangka jika kemudian situs ini menjadi rujukan banyak orang yang dahaga “rasa” spiritualitas-Tuhan.

BBC pada April 1998 melakukan jajak pendapat, hasilnya menunjukkan bahwa mayoritas masyarakat di dunia Barat masih merasa membutuhkan agama. Ketika ditanya apakah agama telah kehilangan maknanya, 53% mereka menjawab tidak. Sedangkan menurut laporan CNN, tahun 2000 merupakan tahun peziarah spiritual. Di Indonesia, sampai saat ini ribuan orang sabar mengantri untuk menunaikan ibadah haji, ribuan orang tiap bulan melakukan umrah. Dikutip dari Umrah Statistics Bulletin yang dirilis Badan Otoritas Statistik Arab Saudi, jumlah jamaah umroh sepanjang 2021 mencapai 6,49 juta atau meningkat 11,61% dibandingkan tahun 2020. Cak Nur

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here