Gunung Budeg: Nama dan Asal Usulnya (Part-2)

0
2847

teradesa.com. Saat pertama kali mendengar nama Gunung Budeg, pasti Anda kurang nyaman, betul ga?. Jamak dipahami kata budeg, dalam bahasa Indonesia berarti tuli. Lalu timbul pertanyaan, mengapa ada gunung yang tuli? Apa gunung yang lain tidak tuli? Itu beberapa pertanyaan rekaan ketika menyebut nama gunung budeg.

Menurut cerita juru kunci, sebenarnya nama ini bukan disematkan karena gunungnya tuli. Tetapi nama gunung ini diambil dari peristiwa yang konon terjadi pada masa lalu, jaman masa pemerintahan kerajaan Majapahit. Legenda tentang gunung budeg menjadi salah satu bagian dari cerita babad Tulungagung.

Saat itu, ada gadis cantik yang bernama Roro Kembangsore. Ia gadis ningrat yang lari dari rumah. Lalu gadis cantik ini pergi ke arah selatan dan sampai pada satu desa bernama Dadapan (saat ini bernama Boyolangu).

Di desa itu ia bertemu dan diterima di rumah janda yang disebut Mbok Rondo Dadapan. Mbok Rondo Dadapan punya anak laki-laki, yang bisa dibilang kurang cerdas bernama Joko Bodo. Singkat cerita, setelah berinteraksi beberapa lama denga Roro Kembang Sore, Joko Bodo tertarik kepada gadis cantik tersebut.

Namun sayang, Roro Kembangsore tidak memiliki perasaan yang sama dengan Joko Bodo. Ketika Joko Bodo mengutarakan isi hatinya (istilah anak jaman sekarang: nembak), Roro Kembangsore tidak tega untuk menolak cinta Joko Bodo, tetapi ia juga tidak ingin menerimanya.

Roro Kembangsore mendapatkan ide untuk masalah yang dihadapinya. Roro Kembangsore mengatakan bahwa ia akan menerima perasaan Joko Bodo, tapi ada syarat yang harus dipenuhi, yaitu Joko Bodo harus bertapa di bukit arah tenggara dari rumah Joko Bodo dengan memakai topi cikrak (tempat membuang sampah yang terbuat dari bambu yang dianyam).

Selain itu, Joko Bodo juga tidak boleh berbicara kepada siapaun selama bertapa. Joko Bodo menerima syarat yang diminta oleh Roro Kembangsore dan mulailah Joko Bodo bertapa.

Beberapa hari Joko Bodo bertapa di bukit. Ternyata ia tidak minta ijin pada ibunya sehingga ibunya kebingungan mencari keberadaan Joko Bodo.

Mbok Rondo Dadapan kesana kemari mencari keberadaan anaknya, namun belum jua ketemu. Lalu ia mencoba mencarinya dengan naik bukit arah tenggara rumahnya. Setelah naik hingga sesetengah ketinggian bukit, ia menemukan Joko Bodo duduk di situ bertopi cikrak.

Dipanggillah Joko Bodo oleh ibunya. Namun Joko Bodo tidak menjawab. Mbok Rondo Dadapan berulang kali memanggil nama anaknya namun tak jua dijawab. Karena merasa kesal, mbok Rondo Dadapan berkata, “pancen budeg kowe yo!” (memang tuli kamu ya !)”.

Seketika badan Joko Bodo membatu dan tidak bisa digerakkan. Peristiwa itu selanjutnya dijadikan pengingat dan tempat di mana Joko Bodo bertapa diberi nama gunung budeg. Ada juga yang menyebut tempat tersebut sebagai gunung cikrak karena saat bertapa Joko Bodo memakai topi cikrak. #Musrikah (kobtributor desa)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here