Hanya Padanya

0
77

teradesa.com. Tugas manusia adalah bekerja dan belajar. Bekerja sebagai basis agar seseorang dapat melanjutkan kehidupannya. Sementara, belajar bertujuan agar dalam bekerja semakin berkualitas. Dalam kondisi apapun, manusia harus tetap bekerja. Tetapi perlu dipahami bahwa semakin tinggi kemampuan atau derajat belajar seseorang, maka akan semakin menemukan cara bekerja yang lebih baik, bermutu, efektif, dan efisien.

Belajar seharusnya memiliki nilai guna; berguna untuk menemukan dan menciptakan peluang kerja, berguna untuk meningkatkan kualitas hasil bekerja, berguna meningkatkan kualitas hidup, dan berguna meningkatkan kualitas dan intensitas hubungan individu dengan Tuhannya. Bukan sebaliknya, belajar hanya untuk mendapatkan pekerjaan. Belajar seharusnya tidak dimaknai sebagai instrument untuk memperoleh pekerjaan (pragmatism).

Pertama kali Tuhan mengenalkan nama-nama benda kepada Nabi Adam a.s (QS. al-Baqarah/2: 31). Pengajaran model ini dimaksudkan agar Adam (manusia) memiliki kreatifitas dan inovasi untuk menghasilkan sesuatu yang berfungsi bagi hidup dan kehidupannya. Kemampuan demikian sebagai hasil dari pengetahuan dan pengalaman yang diperoleh dari proses belajar. Begitulah seharusnya nilai guna dari belajar diposisikan.

Pengetahuan (belajar) yang semakin baik, akan memungkinkan seseorang mendapatkan posisi yang baik pula di masyarakat. Masyarakat selalu mempersepsi cendekiawan dan ulama (orang yang berilmu) sebagai navigasi dalam kehidupan. “Niscaya Allah akan mengangkat derajat orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat” (QS. al-Mujadilah: 11).

Bekerja dan belajar merupakan satu kesatuan agar kualitas hidup dan keberagamaan seseorang semakin baik. Karena memang tujuan diciptakan manusia untuk mencapai kebaikan, kebahagiaan hidup di dunia (di sini) dan di akhirat (di sana). Jadi bekerja dan belajar merupakan kesatuan instrument untuk kebaikan manusia. Oleh karenanya, jangan dipahami sebaliknya, menggantungkan diri pada pekerjaan dan belajar.

Atau, dengan kata lain, jangan menggantungkan diri pada hasil belajar dan bekerja. Sering terjadi pada diri kita, Ketika usaha, kerja dan belajar yang sedang dibangun tidak menghasilkan sesuai ekspektasi, kemudian putus asa. Putus asa dalam bekerja dan belajar, hakikatnya adalah karena kita menggantungkan diri pada pekerjaan atau belajar. Dan, itu sama maknanya dengan menggantungkan pada diri sendiri.

Ketergantungan terhadap diri sendiri, sama halnya makna menduakan Tuhan. Dan, tentu hal demikian tidak boleh. Dalam hukum alam yang berlaku bahwa dalam setiap usaha, kerja dan belajar akan menghasilkan sesuatu yang diharapkan. Tetapi hasil dari suatu usaha manusia tersebut juga sangat berkaitan dengan usaha manusia-manusia lainnya. Ada yang bersifat saling menguntungkan, tetapi juga bisa sebaliknya.

Benturan antar kepentingan manusia (teman) membutuhkan penengah, yang berfungsi mengatur secara adil, sesuai perspektif pengatur, itulah Tuhan. Memaksakan harapan kita, sehingga bertentangan dengan hukum alam hakikatnya adalah menentang ketentuan Tuhan. Oleh karenanya, jalan terbaik adalah menggantungkan hasil usaha, bekerja, dan belajar hanya kepada Tuhan. Dengan demikian, tidak aka nada cerita putus asa dalam suatu usaha, bekerja dan belajar.

Putus asa sejatinya adalah melawan hukum alam, kehendak Tuhan. Manusia seharusnya dapat membedakan antara wilayah kemanusian dan wilayah ketuhanan. Terkadang, karena kurang sabar, maka seseorang mudah memasuki wilayah ketuhanan. Dan merasa seakan-akan ia memiliki kemampuan, kuasa—sehingga sangat menggantungkan diri pada kemampuannya. Jadi, janganlah menggantungkan diri pada hasil kerja dan belajar (diri sendiri) dan orang lain atau sesuatu diluar dzat Tuhan. Cak Nur

 

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here