Ilusi Perubahan

0
82

teradesa.com. Liburan kali ini saya sempatkan mengunjungi seseorang yang saya anggap sebagai kakek. Dia berada di suatu tempat, pegunungan, tempatnya asri. Rumahnya sangat sederhana, untuk tidak menyebutnya sangat tidak layak. Lingkungan alamnya sangat menyenangkan, hijau alami, ada aliran sungai kecil yang deras, airnya sangat bening.

Tentu, tumbuhan, rumput dan bunga tumbuh liar. Ohya, di pekarangan belakang rumahnya terdapat ternak ayam kampung dan kambing. Tiap hari kakek, sejak beberapa tahun lalu kukenal ya hanya merumput untuk ternak kambingnya. Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari dari menjual ayam dan kambing.

Seperti biasanya, saat berkunjung ke rumahnya. Saya selalu membawakan mbako yang kubeli dari pasar langgananku. Dia memang perokok berat, tetapi ngelinting sendiri. Katanya tidak cocok dengan rokok yang sudah jadi. Saya seh asyik saja ngobrol dengannya sambil merokok, meski saya sendiri tidak merokok.

Hidup dan kehidupannya tidak pernah berubah, yang berubah hanyalah usianya, yang semakin menua. Jika berbicara sangat berapi-apai sambil mengebulkan uap rokoknya. Dia bercerita bahwa sampai sekarang ia mengalami beragam masa pemerintahan; penjajahan, orde lama, orde baru, orde reformasi dan post reformasi. Baginya, tidak ada bedanya, tetap saja seperti ini hidupnya.

—————

Hakikat dari perubahan adalah ilusi bagi kebanyakan kelompok masyarakat yang tidak memiliki akses politik, seperti si kakek ini. Dan, sebaliknya, perubahan adalah fatamorgana bagi sebagian masyarakat shadow, yang terbuai oleh efek politik dalam dunia maya. Sementara, perubahan adalah fakta bagi komunitas kecil yang memiliki akses politik dan ekonomi.

Perubahan hidup dan kehidupan seseorang hakikatnya tidak dirubah oleh seorang pemimpin, atau oleh apapun diluar individu yang bersangkutan. Hanyalah kita sendiri yang bisa merubahnya. Patut kita renungkan hadis Nabi saw bahwa kita sendirilah yang dapat merubah hidup kita. Perubahan hidup tidak banyak tergantung dari luar kita.

Perubahan yang dilakukan oleh pemimpin, misalnya pemimpin politik-Negara adalah menciptakan regulasi dan fasilitas umum negara-masyarakat. Fasilitas-fasilitas umum, baik berupa fisik maupun kebijakan dalam bidang pendidikan, kesehatan, ekonomi dan sosial budaya tidak serta merta dapat merubah kehidupan individu tanpa usaha yang bersangkutan.

Fasilitas dan kebijakan dalam berbagai bidang di atas tidak ada yang diberikan pemerintah secara gratis kepada masyarakat. Semuanya, lagi dan lagi, individu bersangkutan yang harus mengusahakan. Misalnya, pendidikan, trend-nya lembaga yang bermutu biaya sekolah semakin tinggi. Kesehatan, masyarakat “dipaksa” ber-iuran BPJS. Kebijakan ekonomi dijalankan secara liberal bahkan lebih liberal dibandingkan dengan negara-negara liberal sekalipun.

Setiap individu hanya harus terus belajar berdamai dengan keadaan masing-masing. Kebijakan dan fasilitas umum adalah kondisi eksternal yang disiapkan oleh pemerintah, lembaga, dan masyarakat untuk umum. Untuk dapat mengaksesnya diperlukan kemampuan (kondisi internal) yang mencukupi. Jika tidak mampu, lagi-lagi individu harus berdamai untuk tidak mengaksesnya.

Individu perlu selalu belajar mensiasati kemampuan internalnya untuk dapat mencapai tujuan hidupnya masing-masing. Seperti yang dialami kakek, hidupnya tidak perlu muluk-muluk. Baginya kebahagiaan bukan terletak pada kepemilikan materi, tetapi terletak pada apa yang dipikirkan dan diresapi dalam hatinya. Setiap hari jika sudah ada persediaan untuk makan, merokok dan minum kopi, baginya sudah cukup.

Hidup adalah proses belajar yang tiada henti, karena setiap orde pemerintahan memiliki tantangan yang terus harus ditundukkan sendiri. Pemerintah tidak pernah hadir dalam setiap solusi individu masyarakat. Kebijakan pemerintah dan fasilitas umum dalam berbagai aspek kehidupan hanya dapat diakses oleh orang-orang yang memiliki hak privileged.

Masyarakat beserta rona-rona yang ada didalamnya hanyalah beckground kehidupan. Bagi orang-orang yang berkecukupan dan memiliki akses politik, maka beckground itu tampak indah, bahkan ingin sekali berlama-lama di tempat tersebut. Tetapi, bagi yang lain belum tentu indah. Maka keindahan kehidupan bukan terletak beckgorund-nya, tetapi keindahan hidup terletak pada “rasa” diri.

Tugas kita semua adalah hendaklah terus hanya belajar dari setiap perubahan kondisi eksternal kita, untuk selalu mampu menyesuaikan dengan kemampuan kondisi internal kita. Selain itu, memang kewajiban kita adalah  selalu belajar untuk dapat eksis dalam mengoptimalkan peran dan potensi agar dapat menjadi diri yang wajar. Cak Nur

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here