Jalan Berliku Pendidikan di Indonesia

0
226

teradesa.com. Tidak bisa dipungkiri bahwa setiap orang mendambakan hidup sejahtera, lahir maupun batin. Banyak cara yang ditempuh, diantaranya adalah sekolah ke jenjang lebih tinggi. Menurut teori deprivation trap bahwa salah satu unsur kerawanan kemiskinan adalah karena pendidikan rendah. Oleh karena itu, teori ini menyarankan untuk meningkatkan jangkauan dan pemerataan pendidikan bagi Negara-Negara sedang berkembang.

Indonesia termasuk negara yang berhasil meningkatkan kesejahteraan masyarakatnya melalui jalur pendidikan. Di tahun 70-an Presiden Soeharto mengembangkan SD inpres untuk tujuan demikian. Dan, hasilnya signifikan, sejak tahun 1973-1978 berhasil membangun 61.000 SD, sehingga dapat meningkatkan partisipasi pendidikan dasar mencapai 99,6%. Meskipun demikian, program SD inpres tidak diikuti oleh program pendidikan yang lebih tinggi. Akhirnya, tenaga kerja Indonesia masih didominasi oleh lulusan sekolah dasar, yaitu sebesar 49,03 juta atau 37,41% (BPS, 2021).

Bagi sebagian besar masyarakat di Indonesia pendidikan merupakan beban yang besar kebutuhan keluarga. Ditambah biaya sekolah di Indonesia cukup tinggi dibanding sekolah- sekolah di negara lain. Survey BPS, 2018 menguatkan temuan HSBC bahwa Indonesia menempati urutan ke 13 dari 15 Negara yang disurvey. Rata-rata kenaikan uang pangkal pertahun berkisar 10-15%, lebih dibanding negara lain, yang hanya 5%. Tingginya biaya pendidikan di Indonesia memungkinkan anak-anak sering mengalami putus sekolah (DO).

Riset yang dilakukan oxfarm menemukan anak dari keluarga miskin di negara sedang berkembang mempunyai peluang tujuh kali lebih kecil untuk menyeleseikan sekolah menengah dibanding dari keluarga kaya. Hanya tiga perempat anak dari keluarga miskin yang mampu menyeleseikan sekolah menengah, dibanding 90% anak-anak dari keluarga kaya. Laporan ini menujukkan bahwa pemerintah yang tidak melakukan investasi pendidikam gratis cenderung menyumbang tingkat DO lebih tinggi.

Berdasarkan hasil penelitian Abhijit Banerjee, Ester Dufo, dan Micahel Kemeer, menunjukkan bahwa dampak SD inpres dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat di Indonesia antara 6,8% – 10,6%. Dengan demikian, mau tidak mau, pembangunan sumber daya manusia hendaknya menjadi perhatian serius dari Pemerintah. Pilihan ini adalah tepat, tinggal pemerintah melanjutkan menekan biaya pendidikan di sekolah lanjutannya. Bahkan, sampai perguruan tinggi.

Berdasarkan kajian akademik lainnya bahwa pemerataan kesejahteraan di suatu negara dapat dicapai melalui pendidikan. Menurut teori the great equalizer bahwa meningkatnya pendidikan seseorang memungkinkan dapat melakukan mobilitas. Terutama, up-mobility dan horizontal mobility. Oran-orang yang berpendidikan tinggi cenderung mudah melakukan penyesuaian dan perubahan ke tangga yang lebih tinggi. Baik, secara sosial, politik dan ekonomi. Inilah yang penulis pahami sebagai tiket untuk memiliki privilise dalam memenangkan “pertarungan” di belantara kehidupan.

Privilise tidak boleh hanya dimaknai sebagai pemilikan ekonomi, terutama keluarga kaya. Karena, realitanya ada juga anak dari keluarga kaya yang justru tidak berkembang. Dan, sebaliknya anak dari keluarga miskin mampu melakukan up-mobility. Oleh karenanya, privilise dapat juga dimaknai sebagai network, attitude, skill, dukungan orang tua, dan sebagainya. Mereka ini pula yang mampu mekahirkan dan mengembangkan growth mindset. Memiliki motivasi berkembang sangat kuat, lebih berkarakter, dan dapat diandalkan.

Selain menggratiskan sekolah sampai perguruan tinggi, sebagaimana dilakukan oleh negara-negara maju, terutama kiblatnya negara pendidikan, Belgium. Sekolah hendaknya juga diarahkan untuk mampu menumbuhkan, apa yang oleh Gwendolym M. Lawson, Martha J. Farah & Cayce J. Hook, disebut sebagai fungsi eksekutif. Yaitu sekumpulan ketrampilan kognitif yang memungkinkan anak berfikir kritis, dapat membuat rencana (road mape), fokus, mengingat perintah, dan mengerjakan beberapa hal sekaligus. Atau dikenal sebagai sistem manajemen otak.

Seseorang dapat dikatakan memiliki sistem pengelolaan otak yang baik, manakala mampu melibatkan tiga fungsi otak dalam suatu aktifitas, yaitu; memori kerja kuat, mampu berfikir fleksibel, dan dapat mengendalikan diri secara baik. Saya kira, inilah muara perjalanan pendidikan dan pembelajaran panjang yang perlu ditempuh di Indonesia. Sekuat apapun batu di depan, jika semua orang bergerak maju, maka akan dapat memecahkannya.

Subang, 11 September 2022
Nur Kholis

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here