Kebenaran Pengetahuan

0
273

teradesa.com. Apakah kebenaran pengetahuan itu ada? tidak mudah menjawab pertanyaan sederhana ini. Hal ini tergantung dari sudut pandang, pandangan dunia (worldview) atau paradigma yang dipakai oleh masing-masing orang. Bagi kaum materialisme kebenaran pengetahuan cenderung dihubungkan dengan konsep-konsep material dan observasi empiris. Sedangkan, menurut kaum non-materialisme, kebenaran dihubungkan dengan aspek non-materi, seperti; kesadaran, pikiran, dan makna dalam pemahaman tentang kebenaran dan realitas.

Berdasarkan konsep dasar tersebut, berikut diuraikan konsep kebenaran pengetahuan menurut kedua kelompok di atas. Kaum materialisme memahami kebenaran; Pertama, kebenaran pengetahuan terkait dengan sejauh mana suatu pernyataan sesuai dengan fakta-fakta yang dapat diamati dan diukur. Pandangan demikian lebih cenderung positivistic-saintific. Panca indra, karenanya merupakan instrument utama untuk mengukur kebenaran dimaksud. Dengan demikian, pengamatan dan eksperimen merupakan suatu keniscayaan dalam penentuan kebenaran pengetahuan.

Kedua, kebenaran pengetahuan ditentukan oleh kesepakatan bersama dalam suatu komunitas atau kelompok tertentu. Jika mayoritas anggota (orang) setuju terhadap suatu pernyataan atau keyakinan, maka hal tersebut dianggap benar. Paradigma dan ideologi sangat menentukan kebenaran pengetahuan dalam perspektif teori consensus ini. setiap anggota suatu komunitas tentu, sangat mudah memiliki pandangan yang sama, karena mereka sudah terwadahi dalam kesatuan ideologi.

Ketiga, kebenaran pengetahuan ditentukan oleh konsistensi internal dari suatu sistem keyakinan atau pernyataan. Jika suatu pernyataan sesuai dengan pernyataan lain dalam suatu kerangka pemikiran yang lebih besar, maka pernyataan tersebut dianggap benar. Hasil penelitian, pernyataan dan/atau keyakinan yang sesuai dengan teori lainnya, atau pandangan para ahli, maka hasil penelitian atau pernyataan dimaksud adalah suatu kebenaran pengetahuan. Kebenaran kehesifitas ini sebetulnya mirip dengan pandangan kebenaran koherensi, yaitu kebenaran jika terjadi keterkaitan dengan pernyataan lainnya.

Keempat, kebenaran pengetahuan pragmatis. Pandangan ini berfokus pada efektifitas suatu pernyataan dalam praktik dan situasi kehidupan sehari-hari. Suatu pernyataan dianggap benar jika ia memiliki manfaat praktis dan dapat digunakan untuk mencapai tujuan tertentu. Contoh dari kebenaran pengetahuan ini, misalnya; hasil penelitian teknologi tepat guna pengubahan sampah palstik bahan bakar, pencampuran beberapa unsur kimia menjadi minyak wangi, dan lain sebagainya. Pencapaian tujuan pragmatis menjadi kunci kebenaran pengetahuan dalam teori ini.

Kelima, kebenaran pengetahuan menurut teori sosial budaya adalah kebenaran bersifat relatif dan dibangun oleh interaksi sosial dan budaya. Oleh karenanya, pandangan tentang kebenaran pengetahuan dapat bervariasi antara kelomok-kelomok di masyarakat. Ada banyak yang menyebabkan perbedaan tentang kebenaran dalam perspektif ini, diantaranya; tingkat pendidikan, ekonomi, sosial, dan budaya. Beberapa faktor tersebut, semuanya bermuara pada ideologi pemikirannya.

Pengalaman pribadi, intuisi dan refleksi batin memiliki peran penting dalam mencapai pemahaman yang lebih dalam tentang realitas kebenaran. Semua kebenaran yang dibincangkan di atas pada hakikatnya adalah kebenaran relatif. Relatifitas kebenaran demikian didasarkan pada suatu kenyataan bahwa semua yang dihasilkan dari pengindraan manusia bersifat sementara, tentatif dan lokalistic. Karena kemampuan indra manusia memang terbatas (relatif).

Dalam tradisi keilmuan ilmiah bahwa semua teori, realitas dan sesuatu yang ada bersifat sementara. Sesuatu yang sekarang diyakini, dianggap, dan ditetapkan sebagai suatu kebenaran, bisa jadi di tempat lain atau waktu yang akan datang ditetapkan sebagai suatu ketidakbenaran. Oleh karenanya, dalam bidanag ilmiah (saintific) dikenal dengan tesa, antitesa, dan sintesa. Begitulah, kebenaran ilmiah dan kebenaran pengetahuan non-ilmiah bersifat relatif.

Begitulah, kebenaran relatif hakikatnya merupakan bayangan, pantulan, dan tanazzul dari kebenaran hakiki. Kebenaran hakiki merupakan sumber dari segala sumber kebenaran pengetahuan manusia. Tuhan-lah kebenaran mutlak. Meskipun demikian, sebetulnya melalui akalnya, manusia dapat mengenali dan menemukan kebenaran relatif dan kebenaran hakiki. Oleh karena itu, dalam kalimat persyahadatan, kebenaran mutlak ditulis dalam kata “Allah”, mendapat awalan “al ma’rifat”, sehingga berubah dari kata “ilah”. Artinya, Tuhan yang sudah dikenali melalui media al-Qur’an, realitas alam semesta dan manusia. Nur Kholis.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here