Kekhasan Rasa Kopi Robusta Blitar, Imam Ghozali: Saya Bosan Jadi Buruh Kebun Kopi

0
386

teradesa.com. Kali ini, saya cus ke lereng Gunung Kawi. Biasa, untuk isi hari libur. Pagi, setelah lari pagi 30 menit, saya berangkat ke Desa Sidorejo. Awalnya, penasaran dengan kopi robusta merk takasih. Home industri kopi robusta takasih milik Imam Ghozali, tepatnya di Dusun Klakah Desa Sidorejo Kecamatan Doko Kabupaten Blitar.

Dusun Klakah cukup jauh dari rumah. Dusun itu terpencil, berada di lereng Gunung Kawi. Akses jalan menuju Dusun Klakah sebagian besar sudah rusak. Di sepanjang belasan kilometer jalan tersbut jika malam hari tidak ada lampu penerangan sama sekali. Tentu, membuat penduduk setempat tidak mau keluar dari desa terpencil itu.

Setelah sampai Desa Sidorejo, saya menanyakan ke penduduk setempat letak Dusun Klakah. Di Dusun Klakah itu-lah saya ketemu dengan Mas Imam Ghozali. Saya panggil mas Imam saja, karena dia masih muda, usianya 35 tahun.

“Hidup harus berubah. Perubahan hidup saya mulai dari keinginan untuk berubah, karena bosan hanya menjadi buruh tani kebun kopi. Menjadi buruh kebun kopi membosankan. Mulai saat itu-lah saya berfikir untuk meninggalkan pekerjaan tersebut. Saya memulai mengolah kopi sendiri; mulai memisahkan kopi, menjemur, menggoreng, dan memasarkannya”. Tutur Imam Ghozali.

Dari perbincangan dengan Mas Imam Ghozali, beberapa hal yang menarik mengapa ia terjun ke bisnis kopi. Menurutnya, “Tidak mau dipermainkan tengkulak, terutama tentang harga kopi, apalagi ia hanya buruh tani kopi”. Selain itu menurutnya, bisnis kopi tidak pernah mati. Ia menegaskan, “orang-orang Indonesia minum kopi tidak lagi menjadi kebiasaan, tetapi sebagai kebutuhan”.

Ia memiliki kebun kopi seluas 1,5 Ha. Setiap hari kebun kopi tersebut menghasilkan 1 kwintal kopi, nilainya rata-rata Rp. 6 juta. Selain dari kebun sendiri, Imam Ghozali juga membeli kopi hasil panenan tetangga-tetangganya. Ia bangga bisa membeli kopi tetangganya dengan harga lebih mahal daripada dibeli tengkulak. Ia membeli kopi basah atau tegalan seharga Rp. 5.000/kg.

Sebelum di goreng kopi harus dijemur selama kurang lebih sebulan. Disekitar rumahnya dengan luas 400 m² itulah 4 karyawannya menjemur dan mengepak kopi. Sedangkan untuk menggoreng dilakukan sendiri oleh Imam Ghozali.

Sekarang usaha home industri, kopi robusta takasih, Imam Ghozali ini mampu menghasilkan 2 sampai 3 kwintal per-hari. Dari usahanya ini, ia meraup penghasilan Rp. 4 juta per-hari, belum dipotong biaya operasional.

Hampir semua kedai kopi di Blitar sudah menjadi langganan kopi robusta takasih milik Imam Ghozali. Menurutnya selain pasar domistik, Blitar. Ia juga memasarkannya ke Bali, Surabaya, Gresik, Yogyakarta, dan Kalimantan.

Ia juga bercerita, awalnya sich ga mudah. Ia pernah ditolak oleh kebanyakan kedai kopi di Blitar, hasilnya nihil. Alhamdulillah, sekarang kebanyakan sudah menjadi pelanggan tetap kopi robusta takasih. Tutur Imam Ghozali.

Di sela-sela cerita, istrinya, Dwi Wira Sapitri nyugui kopi robusta takasih. Saya minumnya tanpa gula biar merasakan kekhasan rasa aslinya. Hmmmmm betul-betul top cer, rasanya khas robusta Doko, ada rasa campuran asam, manis, dan juga ada gurih-gurihnya. #Nur Kholis

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here