Kesadaran Aku Segalanya

0
214

teradesa.com. Semua adalah relatif. Kiri-kanan, jauh-dekat, atas-bawah, cepat-lambat, tinggi-rendah, ujung-pangkal—semua berawal dari titik kesadaran “Aku”. Navigasi bergerak bermula dari posisi atau lokasi, sedangkan narasi berawal dari “Aku”. Tanpa kesadaran “Aku”, maka tidak akan ada timur-barat, awal-akhir, atas-bawah, dan lain sebagainya. Maka, pada hakikatnya manusia tidak akan mengenal ruang dan waktu, tanpa kesadaran “Aku”, baik ruang geometris maupun ruang sosial.

Gerakan atau mobilitas “Aku” dalam ruang itulah yang menimbulkan strata, dan degradasi, baik pada aspek sosial maupun ekonomi. Lihat saja, fenomena degradasi ijasah. Pada tahun 1990an untuk menjadi guru di sekolah dasar cukup lulusan PGAN, SPG, dan/atau SGO (setingkat SLTA). Kemudian mengalami degradasi di tahun 2000an harus lulusan Diploma 2. Dan, tahun 2010an harus lulus S1. Sekarang, dan ke depan sudah banyak yang lulusan S2.

Sesering “Aku” melakukan mobilitas, baik mobilitas vertikal maupun horizontal menimbulkan berubahnya strata sosial atau ekonominya. Semakin intensif mobilitas yang dilakukan oleh setiap “Aku”, maka akan menimbulkan perubahan struktur sosial di suatu masyarakat. Beberapa keluarga yang sebelumnya strutur sosialnya tinggi atau sedang, ketika ada keluarga lainnya yang mampu melakukan mobility vertical, maka struktur sosial di masyarakat tersebut berubah.

“Aku”-lah yang menjadi pusat gaya sentripetalnya. Adapun, yang lainnya hanyalah efek dari pada geraknya “Aku”, sehingga bersifat semu, seperti semunya gerakan gaya sentrifugal. Ini, karena seakan-akan bergerak menjauhi pusat, tetapi sejatinya tidak bergerak sama sekali. Sikap dan perilaku seseorang hanyalah bayangan, pantulan, dan respon dari setiap kesadaran “Aku”. Oleh karena itu, setiap orang seyogyanya harus selalu dapat mengendalikan “Aku”.

Dalam konsepsi fisika, acuan gaya sentripetal bersifat inersia (tetap). Sedangkan, acuan sentrifugal bersifat non-inersia (tidak tetap). Oleh karena itu, hakikat “Aku” setiap orang sama. Tidak terpengaruh oleh warna kulit, etnis, bahasa, suku, bangsa, tingkat pendidikan, status sosial, ekonomi, politik, sejarah, zaman, agama, dan ideologi/madzhab keyakinanya. Kesadaran “Aku” itulah yang menyebabkan hakikat kebenaran bagi setiap orang sama.

Kesadaran “Aku” bersifat melintasi ruang dan waktu. Karenanya kebenaran yang ditimbulkan dari kesadaran “Aku” yang bersumber dari sentripetal bersifat abadi dan mengglobal. Walaupun gaya sentrifugal kelihatannya berlawanan dengan gaya sentripetal, tetapi pusat gaya tidak pernah memandang gerak sentrifugal sebagai musuh, karena pusat tahu persis bahwa itu hanya efek yang bersifat semu. Sikap dan perilaku kita, kadang terlihat bertentangan dengan jiwa, hati nurani—itu, sejatinya bersifat semu, dipengaruhi oleh kepentingan-kepentingan materialistik dan sementara.

Pada puncaknya, selama kesadaran “Aku” menguat atau mendominasi, maka semua efek dan gaya sentrifugal akan tersedot kedalam energi gaya sentripetal. Dengan demikian, sikap dan perilaku individu semakin cool. Bahkan dapat mentarnsformasi menjadi sembrani menginspirasi Aku Aku lainnya untuk baik. Tetapi, juga bisa berlaku sebaliknya, jika kesadaran “Aku” rendah, maka alih-alih menciptakan kesejukan dalam kehidupan sosial, malah justru menciptakan demarkasi dalam bermasyarakat.

Fenomena ini-lah yang dapat kita rasakan sekarang, banyaknya oragnaisasi sosial/keagamaan atau tokoh yang mengibarkan bendera poros persatuan. Tetapi, justru kian memperbanyak kubu-kubu yang saling berhadap-hadapan. Mereka memperebutkan konstituen, memperluas wilayah keanggotaan ke dalam wilayah pihak lain, saling menjegal pengaruh, adu bendera, bahkan saling memperebutkan kebenaran. Semua ini, semakin mempertegas acuan non-inersia; “kita” dan “mereka”.

Ujung-ujungnya bukannya membangun sikap dan perilaku moderat atau demokrasi, tetapi justru semakin memperkuat dan mempertegas demarkasi sosial. Jika, anda menyebrang ke luar, maka anda bukan bagian kita. Anda sudah menjadi bagian dari mereka. Kondisi ini-lah yang tidak diinginkan oleh Plato, bahwa demokrasi amat riskan. Demokrasi bisa menaikkan tiran, diktator, demagog, dan “boneka” ke pusat kekuasaan. Solusinya, Plato menawarkan konsep philosopher-kings.

Yuk, sadar…saat ini kondisi Inodonesia tidak baik-baik saja. Benih perpecahan bangsa semakin terasa, dan, jika kesadaran “Aku” para pemimpin dan “Aku” Aku” lainnya tidak tumbuh, maka perpecahan akan semakin melebar. Semoga tidak akan terjadi.

Penulis: Nur Kholis

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here