teradesa.com. Pada hakikatnya tidak seorang-pun yang tidak pernah mendapat cobaan, kesedihan, kesulitan, dan kekurangan. Begitu pula sebaliknya, tidak seorang-pun yang tidak pernah merasakan kebahagiaan, kelapangan, dan kegembiraan.

Kesulitan-kemudahan, kesempitan-kelapangan, kesukaran-kemudahan, kesedihan-kegembiraan selalu datang silih berganti. Kesempitan pasti ada ujungnya, begitu pula kelapangan juga ada ujungnya. Tetapi ujung keduanya tidak bersifat final. Selalu ada kesempitan dan kelapangan yang baru.

Kehidupan setiap individu manusia selalu dinamis, karena memang hakikat dari hidup adalah dinamis. Setiap fenomena materi yang hidup selalu dinamis. Bahkan immateri yang melekat pada materi juga dinamis. Misalnya, pikiran seseorang (immateri) karena ia menempel pada materi (jasad manusia hidup), maka pikiran itu dinamis.

Setiap yang jasadi (materi) selalu menampakkan pertumbuhan dan perkembangan. Baik, aspek kualitatif maupun kuantitatif. Manusia, hewan, tumbuh-tumbuhan selalu mengalami pertumbuhan dan perkembangan yang mengarah pada perubahan struktur pertambahan dan pengurangan (kuantitatif). Manusia juga selalu mengalami perubahan menjadi lebih pinter, sehat, dewasa dan bermoral (kualitatif).

Dinamika internal ini juga terkait secara langsung maupun tidak langsung dengan dinamika di dunia eksternalnya. Kisah Siti Asiyah Binti Muzahim, istri Fir’aun misalnya, ia tetap beriman dan bertaqwa kepada Allah swt, meski suaminya orang yang paling dzalim dan durhaka kepada Allah swt.

Menurut Ibnu Jarir bahwa suatu ketika Siti Asiyah Binti Muzahim disiksa dibawah terik matahari oleh Fir’aun. Kemudian Fir’aun meninggalkannya sendiri dalam terik-panasnya matahari, Malaikat menutupinya dengan sayapnya dan ia melihat rumahnya didalam surga. Rumah itu jauh lebih indah dibanding dengan rumah yang dibangunkan oleh Fir’aun.

Kesaksian Siti Asiyah Binti Muzahim ini merupakan bentuk respon dari doa yang selalu dimunajatkan setiap hari sebagaimana diabadikan didalam QS. At-Tahrim/66: 11, “Ya Tuhankubangunkanlah untukku sebuah rumah di sisi-Mu dalam surga dan selamatkanlah aku dari Fir’aun dan perbuatannya, dan selamatkanlah aku dari kaum yang dzalim”.

Doa-doa yang dipanjatkan oleh Siti Asiyah Binti Muzahim ini merupakan wujud cintanya kepada Allah swt, meski ia dikelilingi oleh tumpukan harta dan kehormatan duniawi. Kekayaan dan kehormatan di dunia ini tidak sebanding dengan kehormatan dan kemulyaan di sisi-Nya.

Kenyataan yang kita alami di dunia ini; dalam wujud kesulitan-kelapangan dan sebagainya hakikatnya adalah wujud pembelajaran bagi setiap manusia agar dapat tumbuh dan berkembang menjadi lebih dewasa, bermartabat dan bertaqwa. Maka, selalu bertemu, berkumpul dan berdiskusi dengan orang-orang yang dapat meneguhkan kebaikan adalah kewajiban kita semua.

“Ya Allah aku memohon curahan cinta-Mu dan kecintaan orang-orang yang mencintai-Mu, serta mohon curahan amal yang dapat menghantarkan diriku mencintai-Mu. Ya Allah, jadikanlah kecintaan kepada-Mu lebih tertanam dalam jiwaku melebihi kecintaanku kepada diri sendiri dan keluargaku”. (Imam Nawawi, 1987: 398) Riyadus Sholihin, Darrurayyan li turats.Cak Nur

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here