Konflik Sosial Negatif?

0
158

teradesa.com. Kecenderungan manusia adalah mendambakan kedamaian, harmoni, dan ujung-ujungnya adalah kebahagiaan. Semua orang membenci percekcokan, konflik, dan permusuhan. Baiklah, hal demikian memang manusiawi. Tetapi, apakah kecendrungan demikian selalu diperoleh oleh setiap individu? Pasti semua orang pernah mengalami, dan merasakan ketidakcocokan dengan suami/istri, teman, tetangga, bahkan antar komunitas/kelompok. Secara makro-pun demikian, hubungan antara organisasi, dan antar negara selalu mengalami pasang-surut.

Konflik selalu menjadi potensi hantu, kadang tiba-tiba muncul dan menghilang. Setiap individu, kelompok, dan negara berupaya sekuat tenaga untuk menghindari konflik. Sejelek itukah konflik? Setiap moment selalu berwajah ganda; baik-buruk, boleh-tidak boleh, menguntungkan-merugikan. Begitu halnya dengan konflik berwajah ganda. Kebanyakan kita melihatnya hanya dari satu sisi, yaitu kejelekan atau negatifnya saja.

Akibatnya, kehidupan individu, kelompok, dan kebangsaan selalu diliputi oleh kesemuan konflik. Menghantui pikiran, sikap, dan kadang salah dalam mengambil tindakan antisipasi. Oleh karena itu, sesekali coba mindset kita rubah, melihat moment konflik dari aspek kebaikan dibaliknya. Setiap orang yang mampu melewati jebakan konflik dalam kehidupan keluarga, berkelompok, berorgansasi dan berbangsa akan menemukan oase. Dalam konsep Islam, akan selalu ada kemudahan dibalik kesulitan (QS. Al-Insyirah/94: 5-6).

Setiap individu oleh Tuhan diberi potensi untuk dapat bertahan dan eksis dalam setiap kondisi bagaimanapun. Potensi itu tergantung dari cara pandang terhadap kondisi yang dihadapi. Kesulitan, kesempitan, dan konflik yang dialami akan menghasilkan daya elastisitas, kelenturan atau dalam bahasa kerennya adalah resiliensi, jika ia dipahami atau dimaknai secara positif. Dan, sebaliknya, ia akan menghasilkan kehancuran dan malapetaka apabila kondisi tersebut dimaknai atau dipahami secara kaku, dualisme, atau hitam putih.

Setiap konflik haruslah kita maknai dan disikapi secara positif. Tidak ada konflik yang abadi, karena ketika terjadi ketegangan, maka semua orang yang terlibat didalamnya akan mencari cara untuk meregangkan. Ketegangan dan perenggangan adalah selalu silih berganti secara alamiah menghampiri pikiran, sikap, dan tindakan setiap individu normal. Maka, pada saat perenggangan itu akan melahirkan potensi harmoni, kedamaian, dan kebahagiaan. Kembangkan momentum tersebut sampai menemukan titik puncak harmoni.

Seiring berjalannya potensi sampai titik puncak harmoni, seseorang, kelompok, dan negara-bangsa berusaha keras melakukan penyesuaian, setidaknya dengan dua model. Pertama, menggunakan cara sebelumnya dengan melakukan modifikasi beberapa aspek (hybrid). Kedua, menemukan model sama sekali baru sesuai dengan budaya harmoni baru pasca konflik (inovation). Dengan demikian konflik sesugguhnya adalah proses menemukan pola hubungan antar individu, kelompok dan negara bangsa secara dinamis.

Harmoni-konflik-anomali-harmoni-konflik dan seterusnya adalah proses dinamika budaya dan peradaban sosial masyarakat bangsa. Fenomena ini hendaknya tidak dilihat secara mikro dan satu aspek, karena akan menciutkan nyali. Tetapi, sebaliknya hendaknya dilihat secara makro sebagai proses menemukan model budaya individu, kelompok dan bangsa secara lebih modern sesuai nilai-nilai, normal, dan etika dunia kontemporer. Nilai-nilai dan norma baru yang muncul berbarengan dengan era baru suatu masyarakat pada hakikatnya menjadi salah satu pemicu konflik sosial individu, tetapi juga model baru budaya dan peradaban sosial masyarakat.

Akhirnya, semakin jelas bahwa konflik adalah pemicu lahirnya budaya dan peradaban baru sesuai dengan tuntutan nilai-nilai, norma budaya baru. Tanpa adanya konflik, maka budaya dan peradaban individu, kelompok masyarakat, dan bangsa tidak akan mengalami perubahan. Konflik juga merupakan dinamisator yang diperlukan untuk melahirkan budaya baru. Konflik, anomaly, dan lahirnya budaya baru atau hybrid adalah proses alamiah yang tidak terelakkan, sesuai kodrat manusia untuk selalu berubah. Cak Nur

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here