Lelaku Manusia

0
59

teradesa.com. Manusia diciptakan dalam bentuk “potensial”, baik fisik maupun nonfisiknya. Dunia dan segala aktifitas manusia merupakan proses penyempurnaan ciptaan potensi tersebut. Oleh karena itu, tugas manusia atau orang tua anak adalah mencarikan tempat yang baik untuk mengembangkan potensi itu. Secara fisik, tentu memberikan asupan nutrisi, dan treatment yang dapat menumbuhkan dan mengembangkan fisik secara baik. Begitu halnya dengan nonfisik, diperlukan pembelajaran, pergaulan, dan perlakuan untuk mengembangkan kemampuan akal dan spiritualnya.

Sifat “potensial” diri individu manusia memungkinkan ia tumbuh dan berkembang menjadi baik, atau sebaliknya. Inilah keunikan manusia, dibanding dengan makhluk-makhluk lainnya. Makhluk-makhluk lainnya sebagian bersifat taat dan statis, ingkar dan statis, tumbuh-tidak berkembang tetapi taat. Sedangkan manusia, dicipta menjadi makhluk tumbuh, berkembang, taat dan/atau ingkar bahkan ia bisa menemukan hal-hal baru. Terdapat beberapa faktor keunikan manusia, diantaranya adalah;

Pertama, tiupan ruh ilahiyah. Pada saat bentuk fisik manusia terbentuk, Tuhan kemudian meniupkan ruh-Nya ke dalam diri manusia. Sebagaimana firman-Nya, “dan Ketika Aku sempurnakan (ciptaan-fisik)-nya (manusia), maka Aku tiupkan ke dalamnya bagian ruh-Ku”. (QS. Shaad/38: 72). Ini, yang kemudian disebut sebagai konsep tajalli-Nya (bersemayam) ke dalam semua ciptaan-Nya. Sebenarnya tidak hanya pada diri manusia, Tuhan ber-tajalli, terhadap semua makhluk-pun Tuhan ber-tajalli. Dalam setiap kebaikan berfikir, bersikap, dan berperilaku manusia sesungguhnya disebabkan potensi ruh ilahiyah berkembang sesuai kodratnya.

Kedua, diberikan akal. Akal merupakan alat utama untuk berkembangnya potensi non-fisik manusia. Akal-lah yang mampu mengenali hal-hal yang baik dan buruk, konsep, benda-benda, dan menemukan hal baru. Melalui akal itulah Tuhan mengajarkan kata benda, sebagaimana firman-Nya, “Dia mengajarkan Adam semua nama-nama (benda), kemudian menampilkan semuanya di hadapan Malaikat, lalu mengatakan, ‘Sebutkanlah kepada-Ku nama-nama semua benda itu jika kamu memang benar orang-orang yang benar,’” (QS. al-Baqarah/02: 31).

Ketiga, diberikan nafsu. Nafsu merupakan potensi dorongan alamiah yang dimiliki manusia, begitu halnya dengan makhluk-makhluk lainnya agar ia secara fisik dapat tumbuh dan berkembang. Tanpa nafsu manusia tidak memiliki keinginan untuk mempertahankan eksistensi diri dan mengembangkan potensi yang dimilikinya. Ekspresi nafsu dapat berupa memproduksi, mengkonsumsi, menghabiskan sesuatu, memodifikasi dan/atau menemukan kebaruan. Berdasarkan nafsu ini pula, Tuhan memercayakan manusia menjadi khalifah di bumi (QS. al-Baqarah/02: 30).

Tugas utama manusia adalah berakhlak sesuai akhlak Tuhan sesuai janji potensialnya (QS. al-A’raf/72: 172), “bukankah Aku ini Tuhanmu? Mereka menjawab, benar (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi, agar pada hari kiamat kamu tidak mengatakan, ‘sesungguhnya kamu (Bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)”. Ketiga hal di atas (ruh ilahiyah, akal, dan nafsu) hendaknya dapat dikelola secara baik, proporsial dan seimbang agar dapat mengaktualisasikan akhlak Tuhan dalam kehidupan bermasyarakat maupun keindividuan (hablum min al-Allah wa hablum min al-Nas).

Menurut Ibnu ‘Arabi berakhlak dengan akhlak Tuhan dapat dilakukan dengan mengaktualisasikan asma’-Nya dalam kehidupan keseharian manusia. Sebagaimana dijelaskan Haidar Bagir bahwa al-asma’ al-husna dapat dikategorikan menjadi dua, yaitu; asma’ jalaliyah dan asma’ jamaliyah. Asma’ jalaliyah merupakan nama-nama Tuhan  yang mencerminkan kedahsyatannya yang menggetarkan (tremendum). Sedangkan asma’ jamaliyah adalah nama-nama Tuhan yang mencerminkan keindahan dan kelembutannya yang memesonakan (fascinans). Jumlah Asma’ jamaliyah lebih banyak dari pada asma’ jalaliyah, hal ini menunjukkan bahwa Tuhan lebih besar kasih sayang-Nya dari pada menakutkan.

Mengimplementasikan asma’-asma’ ini tidak boleh dilakukan secara parsial, tetapi harus seimbang dan proporsional agar dapat menampilkan akhlak yang mulia (al-akhlak al-karimah). Misalnya menerapkan sifat keras (al-qohr) dan kuasa (al-jabr) tanpa diimbangi sifat kasih sayang (al-rahman) dan keadilan (al-‘adl) maka akan mengakibatkan kesombongan dan kesewenangan yang menindas. Dengan demikian setiap orang hendaknya selalu berinteropeksi, mengevaluasi dan selalu mengembangkan, dan mengkombinasikan al-asma’ al-husna secara utuh-menyeluruh dan seimbang dalam kehidupan individu maupun sosialnya, termasuk kebertaannya kepada Tuhannya. Cak Nur

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here