Negara Tidak Berdaya, MD KAHMI Blitar: Pola Pengalihan Konflik Vertikal ke Horizontal Selalu Jadi Pilihan

1
254

teradesa.com. Pola penyeleseian masalah yang dilakukan pemerintah selalu dapat ditebak, selalu mengikuti pola yang sama. Mengubah konflik vertikal menjadi konflik horizontal. Membenturkan antar kelompok di masyarakat. Ini adalah pola imperialis, juga model kapitalis saat ini. Tutur Fuad Fauzi.

Sekarang konfliknya beralih antara petani (jagung) dengan peternak ayam petelur. Kalau harga jagung naik kan petani untung. Bahkan, di perdesaan di Blitar, banyak yang memiliki sawah petani jagung sekaligus peternak ayam petelur. Sekarang Suroto saja yang mendapat bantuan jagung 20 ton, sementara peternak lainnya tidak menikmati. Ini bukan kebijakan yang diharapkan peternak ayam petelur di Blitar, tetapi ini pola pemecah konflik dan pengalihan isu saja.

Sudah lama sebetulnya problem latent peternak ayam petelur. Dalam periode bulan tertentu selalu mengalami paceklik; harga telur murah, sementara harga pakan konsentrat cenderung naik. Jagung hanyalah campuran, yang utama adalah pakan konsentrat. Harusnya pemain pakan utama inilah yang diatur berdasar pemihakan kepada peternak, bukan pada produsen semata. Setidaknya seimbang lah. Tegas Ana Luthfi.

Sejak lima tahun lalu hal ini sudah saya tanyakan kepada anggota DPR-RI, tetapi jawabnya negara tidak berdaya. Tegas Anam. Pemain pakan konsentrat sudah berbentuk kartel. Sebetulnya hanya satu orang/keluarga, tetapi mereka membuat pabrik pakan konsentrat dengan merk yang berbeda. Bahkan mereka tidak hanya memproduksi pakan, tetapi juga lainnya termasuk kuthuk. Sehingga nyaris mereka menguasai dari hulu sampai hilir. Ana Luthfi menyimpulkan.

Sumbangan peternak ayam petelur di Blitar adalah 30% dari kebutuhan konsumsi telur Nasional. Bahkan, telur asal Blitar adalah yang terbaik, berbeda teksturnya dibanding dengan telur asal daerah lain. Harusnya potensi ini dijadikan sebagai modal utama oleh Pemerintah Daerah. Fokus di bidang ini akan memudahkan bagainya menorehkan prestasi. Baiklah, jika Pemerintah Pusat tidak berdaya menghadapi kartel pakan konsentrat dan sebangsanya, ada baiknya Pemerindah Daerah Blitar membuat gerekan memandirikan peternak ayam petelur.

Banyak pilihan. Diantaranya adalah membuat koperasi produsen pakan konsentrat. Atau membuat Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) pakan konsentrat. Jangan malah membuat BUMD pertecetakan. Lihat, apa pernah BUMD percetakan untung? Selalu rugi kan. BUMD jangan hanya dijadikan instrument balas jasa. BUMD harusnya disetting sebagai bagian dari sumber pendapatan daerah dan bermanfaat untuk kemaslahan masyarakat. Di era digital banyak penerbitan atau percetakan yang gulung tikar, karena memang situasinya berbeda dengan sebelum era digital.

Tidak hanya itu, potensi sumber daya alam di Blitar, terutama di bagian utara atau selatan sangat luas. Sebetulnya dapat dijadikan lahan pembudidayaan jagung. Di wilayah selatan yang sangat luas malah dijadikan lahan penenaman tebu dan pendirian “topeng” pabrik gula. Ibaratnya orang sudah memiliki daging malah ditinggal mencari rempelo. Ada sekitar 6.500 Ha jika ditanami jagung, maka dapat mengatasi masalah peternak ayam petelur. Bukan, tetapi malah ditanami tebu dan pabrik gula, yang lagi-lagi menyisakan problem pencemaran lingkungan. #Nur Kholis.




1 COMMENT

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here