Orang yang Sabar Memiliki Kedudukan Istimewa Disisi Allah swt, Begini Balasannya.

0
294

teradesa.com. Di akhirat, Allah swt akan mengumpulkan hamba-hambaNya bersama keluarganya yang seiman di tempat yang baik, yaitu syurga ‘Adn. Mereka berkumpul dengan nenek moyangnya, suami-istrinya, dan anak cucunya (QS ar-Ra’d/13: 23). Para Malaikat menyambut, dan mengucapkan, “selamat sejahtera atas kesabaranmu” (QS ar-Ra’d/13: 24).

Allah swt menjanjikan hal demikian bagi orang-orang yang memenuhi syarat, yaitu; mereka yang sabar untuk mendapatkan ridlo Allah swt, mengerjakan shalat, menginfakkan sebagian harta bendanya, dan menolak kejahatan dengan kebaikan (QS ar-Ra’d/13: 22).

Kemudahan dan kesulitan dalam hidup adalah ujian. Allah swt memberikan kemudahan hidup untuk menguji apakah tetap dapat bersabar, dan istiqomah dalam beriman dan bertaqwa, apakah sebaliknya, sebagaimana Firaun? Aapakah harta dianggap sebagai “milik” ataukah “amanah”. Sejatinya manusia tidak memiliki hak sepenuhnya bahkan termasuk tubuh diri.

Hanya karena kasih sayang-Nya, manusia dapat hidup, memiliki tubuh, memiliki ruh, diberi kelimpahan harta benda. Begitu sebaliknya; kemiskinan, kesulitan hidup juga ujian, apakah manusia tetap sabar dan istiqomah mengharap ridlo Allah swt, dan hanya bergantung pada-Nya (QS al-Ikhlash/112: 2).

Nabi Ayub a.s. memberi contoh kepada kita. Setelah kemudahan hidup dan kekayaan melimpah ia diuji dengan meninggalnya semua anak-anaknya, jatuh miskin, dan berpenyakit qudis. Bahkan istrinya yang setia tetap sabar meski harus menjadi pembantu rumah tangga. Mereka sabar telah diuji demikian selama 18 tahun.

Nabi Ayub tetap sabar, ia hanya berdoa, “Ya Allah, sungguh aku telah ditimpa penyakit, padahal Engkau Tuhan Yang Maha Penyayang dari semua yang penyayang”. Lalu Allah mengabulkan, ia sembuh dari penyakit dan diberi karunia dengan keturunan berlipat ganda (QS. al-Anbiya/21: 83-84).

Nikmatnya hidup sejatinya terletak dari keberkahan yang dilimpahkan Allah swt bagi setiap diri yang selalu sabar. Kekayaan tanpa diikuti kesabaran tetap menjadikan berkeluh kesah, karena nikmat duniawi bersifat fatamorgana. Sebaliknya, kesulitan hidup jika diikuti dengan sikap sabar tetap menghasilkan nikmat, itulah keberkahan atas kasih sayang-Nya.

Sabar dalam menerima kejahatan orang lain dengan tidak membalas dengan kejahatan. Allah swt mengajarkan, balaslah kejahatan dengan memaafkan. Jika kejahatan dibalas dengan kejahatan itu pertanda rasa dendam. Rasa dendam itu menyakitkan, karena dendam ibarat api yang membakar sekam dalam gudang akan merambah kemana-mana tidak ada putusnya. Sedangkan membalas kejahatan dengan memaafkan akan meneduhkan hati diri dan mematikan kobaran “api” dendam.

Jadi, apapun kondisinya, itu hanya pakaian. Dalam pakaian apapun, apakah kita tetap mau berbagi pada sesama, meski hanya sekedar secangkir kopi dan se-uthil rokok di pagi hari? Nikmatnya hidup teletak jika seseorang telah berbagi. Itulah keberkahan bagi orang yang selalu berbagi. #Nur Kholis

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here