Pematangan Diri

0
49

teradesa.com. Siklus semua manusia sama, yaitu; bayi, anak-anak, remaja, dewasa, tua, dan usia lanjut. Dalam perspektif pendidikan, maka pembelajaran hendaknya dimulai sejak dalam kandungan dan pasca kelahiran, bahkan sampai dewasa. Bagi orang tua, sejak anak dalam kandungan perlu bahu membahu menyediakan suasana psikis dan kondisi fisik ibu bayi selalu dalam kondisi baik. Karena, pengaruh kedua faktor tersebut langsung ke janin/bayi.

Dalam konsep Islam, pendidikan dimulai sejak dalam kandungan, mengapa? Karena sejak dalam kandungan Tuhan sudah meniupkan ruh-Nya. Ruh itulah yang akan mendengarkan suara dari luar (terkoneksi), mendengarkan keluh-kesah dan kegembiraan ibunya, merasakan situasi psikis ibunya. Perkembangan pengetahuan dan kognitif anak, oleh karenanya dimulai sejak ia dapat merespon semua kondisi dan situasi diluar dirinya.

Kelahiran di dunia, bagi bayi merupakan proses untuk pematangan diri dan berelasi dengan dunia sekitarnya. Jika secara psikis perkembangannya dimulai sejak dalam kandungan, maka perkembangan fisik mulai normal sejak setelah kelahirannya (meskipun dalam anak fisiknya juga sudah berkembang). Pada masa pasca kelahiran itulah semua unsur fisik dan psikis anak berkembang sesuai dengan takdir (potensialnya). Ia tidak lagi individual, tetapi makhluk sosial.

Sebagai makhluk sosial, ia harus mampu mengembangkan diri menjadi lebih matang (dewasa), sehingga dapat merespon dan beradaptasi dengan lingkungan sosial secara baik. Selain juga, bahwa sosialisasi dengan lingkungan luarnya menyebabkan ia dapat berkembang dewasa (matang) secara baik. Oleh karena itu, sebenarnya keduanya (kematangan dan berproses) merupakan satu kesatuan yang saling mempengaruhi.

Berproses untuk menjadi manusia merupakan keniscayaan selama ia menjalani kehidupan. Dengan kata lain, pendidikan/belajar sejatinya adalah berlaku sepanjang hayat. Belajar sepanjang hayat adalah konsepĀ  di mana seseorang harus belajar dan berkembang sepanjang hidupnya. Baik yang dilakukan secara mandiri maupun komunal, di lingkungan keluarga, sekolah formal/non formal, maupun lingkungan pergaulannya. Untuk itulah, perlu kesadaran selalu berproses untuk menjadi dewasa (matang).

Setidaknya terdapat enam kematangan yang sebaiknya dicapai dalam berproses. Pertama, kematangan kognitif. Perkembangan ini mengacu pada kemampuan individu untuk berfikir secara abstrak, analitis, dan kritis. Ia dapat merencanakan, membuat keputusan yang baik, dan mengevaluasi konsep-konsep kompleks. Berproses pada tahap ini ditujukan pada pengembangan ketrampilan berfikir yang lebih tinggi, kemampuan memecahan masalah, dan menganalisis.

Kedua, kemandirian. Kematangan dalam konsep kendidikan mencakup kemandirian dalam belajar dan mengelola kehidupan sehari-harinya. Ia dapat mengambil tanggung jawab atas pendidikan/belajar dan perkembangan pribadinya. Ia mampu mengatur waktu, mengatur prioritas, dan mencari informasi dengan lebih efektif. Mampu memecahkan masalahnya secara mandiri, baik yang berkaitan dengan sekolah, pekerjaan, maupun kehidupan sosialnya.

Ketiga, ketrampilan sosial dan emosional. Bagian penting dari pendidikan kedewasaan adalah mengembangkan ketrampilan sosial dan emosional yang diperlukan untuk mampu berinteraksi dengan orang lain secara sehat dan produktif. Hal ini, meliputi kemampuan berkomunikasi dengan baik, bekerja dalam tim, mengatasi konflik, dan mengelola emosi secara bijaksana. Termasuk, konflik yang terjadi didalam dunia maya (medsos).

Keempat, etika dan nilai. Pendidikan/belajar juga melibatkan penguatan nilai-nilai etika dan moral. Ini mencakup pemahaman tentang apa yang benar dan salah, kemampuan untuk membuat keputusan yang sesuai dengan nilai-nilai agama dan sosialnya. Ketrampilan bersosial saat ini sudah melampaui batas-batas demografi klasik. Diperlukan kemampuan beretika dalam komunikasi sosial di media sosial, karena tulisan mencerminkan pandangan, sikap dan perilakunya.

Kelima, pengembangan karir dan ketrampilan kerja. Bagi banyak orang, pendidikan untuk kedewasaan juga berhubungan dengan pengembangan ketrampilan yang relevan dengan karir dan kehidupan profesionalnya. Ini termasuk pelatihan teknis, diklat kepemimpinan, dan pemahaman tentang dunia kerja. Membangun jejaring (networking) baik daring maupun luring menjadi pilihan yang efektif dan efisien untuk saat ini.

Keenam, pengembangan identitas. Pendidikan untuk kedewasaan membantu individu mengembangkan pemahaman yang lebih mendalam tentang diri mereka sendiri, termasuk minat, bakat, dan tujuan hidupnya. Hal ini dapat membantunya dalam mengambil keputusan yang lebih baik tentang arah kehidupannya. Banyak pilihan media mengembangkan identitas diri ini. Setiap individu perlu membangun identitas (merk) diri yang baik, agar respon pihak luar terhadapnya bersifat positif. Nur Kholis

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here