Pendekatan Sejarah dalam Studi Keislaman

0
574

teradesa.com. Seiring berjalannya waktu, Islam tidak lagi hanya menyentuh persoalan tekstual dan doktrinal, tetapi telah menjadi fenomena yang kompleks. Islam bukan sekedar way of life, Islam telah melebur menjadi sebuah sistem budaya menuju peradaban. Mengkaji dan mendekati Islam tidak mungkin lagi hanya dari satu aspek, yang mana hanya akan menyebabkan ketidakluasan pemikiran. Oleh karena itu diperlukan metode dan pendekatan interdisipliner.

Dalam metodologi Islam, sejarah diperlukan untuk mengetahui kebahasaan masa lalu, karena sangat miskin dalam mempelajari ajaran Islam dengan menggunakan pendekatan Historis. Sejarah bahkan telah menjadi objek kajian Islam. Memberikan pentingnya Pendekatan Historis dalam studi Islam. Karena sesungguhnya sejarah itu akan meluaskan pandangan seorang muslim. (Muqaddimah Al mausu’ah al muyassaroh fi tarikh islami).

Sejarah adalah suatu ilmu yang di dalamnya dibahas berbagai peristiwa dengan mempertahankan unsur, tempat, waktu, objek, latar belakang dan pelaku dari peristiwa tersebut. Menurut ilmu ini, segala peristiwa dapat dilacak dengan melihat kapan peristiwa itu terjadi, dimana, apa sebabnya, dan siapa yang terlibat dalam peristiwa tersebut.

Sejarah juga dapat mengacu pada bidang akademis yang menggunakan narasi untuk memeriksa dan menganalisis urutan peristiwa masa lalu dan secara objektif menentukan pola sebab dan akibat yang membentuk mereka. Semua aspek kehidupan tidak lepas dari faktor sejarah, sejarah merupakan bukti yang nyata bahwa sesuatu telah ada, dan karena dengan sejarah, manusia bisa belajar apa saja yang telah tejadi. Dalam metodologi Islam, diperlukan sejarah untuk mengetahui kebenaran yang valid tentang keadaan masa lampau, untuk itu sangatlah penting dalam mengkaji ajaran Islam dengan menggunakan pendekatan Sejarah (Historis).

Bila sejarah dijadikan sebagai sesuatu pendekatan untuk mempelajari agama, maka sudut pandangnya akan dapat membidik aneka ragam peristiwa masa lampau. Sebab sejarah sebagai suatu metodologi menekankan perhatiannya kepada pemahaman berbagai gejala dalam dimensi waktu. Aspek kronologis sesuatu gejala, termasuk gejala agama atau keagamaan, merupakan ciri khas di dalam pendekatan sejarah.

Karena itu penelitian terhadap gejala-gejala agama berdasarkan pendekatan ini haruslah dilihat segi-segi prosesnya dan perubahan-perubahannya. Bahkan secara kritis, pendekatan sejarah itu bukanlah sebatas melihat segi pertumbuhan, perkembangan serta keruntuhan mengenai sesuatu peristiwa, melainkan juga mampu memahami gejala-gejala struktural yang menyertai peristiwa. Inilah pendekatan sejarah yang sesungguhnya perlu dikembangkan di dalam penelitian masalah-masalah agama.

Sebelum memperhatikan pengertian dari pendekatan sejarah secara utuh, perlu diperhatikan arti dari tiap kata itu sendiri. Pendekatan secara etimologi adalah derivasi kata dekat, artinya tidak dekat, artinya tidak jauh. Setelah mendapat awalan pe dan ahiran yang mana artinya proses, perbuatan, cara mendekati usaha dalam rangka aktivitas penelitian untuk mengadakan hubungan dengan orang yang diteliti atau metode-metode untuk mencapai pengertian tentang masalah penelitian.

Pendekatan dari sudut terminologi adalah cara pandang atau paradigma yang terdapat dalam suatu bidang ilmu yang selanjutnya digunakan dalam memahami agama. Dari keterangan diatas, dapat kita pahami bahwa pendekatan merupakan sudut pandang objek kajian yang akan digunakan dalam mengkaji apa saja yang akan ditelitinya dengan metode ilmiah.

Sedangkan Ibnu Khaldum dalam kitabnya al-Muqoddimah mendefinisikan sejarah sebagai catatan tentang masyarakat umat manusia atau peradaban dunia tentang perubahan perubahan yang terjadi watak masyarakat itu, seperti kelahiran, keramah-tamahan dan solidaritas golongan-golongan tentang revolusi dan pemberontakan oleh segolongan rakyat melawan golongan lain.

Menurutnya ilmu sejarah adalah ilmu yang sangat luar biasa yang mempunyai tujuan dan makna yang mendalam karena ilmu ini memberi informasi kepada manusia tentang keadaan umat dan perilaku umat masa lalu, sehingga persoalan dunia dan agama tidak akan sempurna tanpa pemahaman yang mendalam akan ilmu sejarah.

Pendekatan sejarah dalam Studi Islam memiliki banyak fungsi, namun Nugroho Notosusanto hanya menyebutkan empat fungsi sejarah yang dominan.

Fungsi rekreatif

Sejarah sebagai pendidikan keindahan, sebagai pesona perlawanan. Hanya pada upaya untuk menumbuhkan rasa senang untuk belajar dan menulis sejarah. Apabila yang dipelajari berkaitan dengan sejarah naratif dan isi kisahnya mengandung hal-hal yang terkait dengaan keindahan, dengan romantisme, maka akan melahirkan kesenangan estetis. Tanpa beranjak dari tempat duduk, seseorang yang mempelajari sejarah dapat menikmati bagaimana kondisi saat itu

Fungsi inspiratif

Fungsi ini terkait dengan suatu proses untuk memperkuat identitas dan mempertinggi dedikasi sebagai suatu bangsa. Dengan menghayati berbagai peristiwa dan kisah-kisah kepahlawanan, memperhatikan karya-karya besar dari para tokoh, akan memberikan kebanggaan dan mana yang begitu dalam bagi generasi muda. Fungsi inspirasi juga dapat dikaitkan dengan sejarah sebagai pendidikan moral. Sebab setelah belajar sejarah, seseorang dapat mengembangkan inspirasi dan berdasarkan keyakinannya dapat menerima atau menolak pelajaran yang terkandung dalam peristiwa sejarah yang dimaksud. Kaitannya dengan fungsi inspiratif,C.P. Hill juga menambahkan bahwa belajar sejarah dapat menumbuhkan rasa ingin tahu terhadap perjuangan dan pemikiran serta karya-karya tokoh pendahulu.

Fungsi instruktif

yaitu sebagai alat bantu dalam proses pembelajaran. Dalam hal ini sejarah dapat berperan dalam upaya penyampaian pengetahuan dan keterampilan kepada subjek belajar. Fungsi ini sebenarnya banyak dijumpai, tetapi nampaknya kurang dirasakan, atau kurang disadari, karena umumnya terintegrasi dengan bahan pelajaran teknis yang bersangkutan.

Fungsi Edukatif

Sejarah dapat dijadikan pelajaran dalam kehidupan keseharian bagi setiap manusia. Sejarah juga mengajarkan tentang contoh yang sudah terjadi agar seseorang menjadi arif, sebagai petunjuk dalam berperilaku.

Pendekatan kesejarahan sangat dibutuhkan dalam studi Islam, karena Islam datang kepada seluruh manusia dalam situasi yang berkaitan dengan kondisi sosial kemasyarakatan masing-masing. Melalui pendekatan sejarah ini seseorang diajak untuk memasuki keadaan yang sebenarnya berkenaan dengan penerapan suatu peristiwa. Dari sini, maka seseorang tidak akan memahami agama keluar dari konteks historinya, karena pemahaman demikian itu akan menyesatkan orang yang memahaminya.

Seseorang yang ingin memahami sejarah turunnya alquran yang selanjutnya disebut ashab al-Nuzul (ilmu tentang sebab-sebab turunnya ayat al quran) yang pada intinya berisi sejarah turunnya ayat alquran. Dengan ilmu asbabun nuzul ini seseorang akan dapat mengetahui hikmah yang terkandung dalam suatu ayat yang berkenaan dengan hukum tertentu dan ditunjukan untuk memelihara syariat dari kekeliruan memahaminya.

Melalui pendekatan sejarah seseorang diajak menukik dari alam idealis ke alam yang bersifat empiris dan mendunia. Dari keadaan ini seseorang akan melihat adanya kesenjangan atau keselarasan antara yang terdapat dalam alam idealis dengan yang ada di alam empiris dan historis. Banyak sekali istilah Al-Quran yang merujuk kepada pengertian pengertian normatif yang khusus, doktrin-doktrin etik, aturan-aturan legal dan ajaran-ajaran keagamaan pada umumnya.

Istilah-istilah atau singkatnya pernyataan-pernyataan itu mungkin diangkat dari konsep-konsep yang telah dikenal oleh masyarakat Arab atau bisa jadi merupakan istilah-istilah baru yang dibentuk untuk mendukung adanya konsep-konsep religius yang ingin diperkenalkan. Yang jelas istilah itu kemudian di integrasikan kedalam pandangan dunia Al-Quran, dan dengan demikian lalu menjadi konsep-konsep yang otentik.

Selain itu, terdapat banyak sekali konsep baik yang bersifat abstrak maupun konkret. Konsep tentang Allah, Malaikat, Akhirat, Ma’ruf, Munkar dan sebagainya adalah termasuk yang abstrak. Sedangkan konsep tentang fuqara’, masakin, dhuafa’, munafiq, musyrikin, kafir, termasuk konsep yang konkret.

Sebagai objek studi, Islam harus didekati dari berbagai aspeknya dengan menggunakan multidisiplin ilmu pengetahuan, salah satunya adalah melalui pendekatan sejarah agar dapat memahami tentang Islam dengan benar. Pendekatan sejarah mengutamakan orientasi pemahaman atau penafsiran terhadap fakta sejarah yang berperan sebagai metode analisis, atau pisau analisis, karena sejarah dapat menyajikan gambaran tentang unsur-unsur yang mendukung timbulnya suatu kejadian, maka agama sebagai sasaran penelitian haruslah dijelaskan fakta-faktanya yang berhubungan dengan waktu.

Dalam Studi Islam dikenal adanya beberapa metode yang dipergunakan dalam memahami islam. Penguasaan dan ketetapan pemilihan metode tidak dapat dianggap sepele. Karena penguasaan metode yang tepat dapat menyebabkan seseorang dapat mengembangkan ilmu yang dimilikinya. Sebaliknya mereka yang tidak menguasai metode hanya akan menjadi konsumen ilmu, dan bukan menjadi produsen. Oleh karenanya disadari bahwa kemampuan dalam menguasai materi keilmuan tertentu perlu diimbangi dengan kemampuan dibidang metodologi sehingga pengetahuan yang dimilikinya dapat dikembangkan.

Penulis: M. Bimas rara sukma (17), Nurul widhayanti (28), Padma junia mustika S (29), Siti nur aisyah (40), Ulin nuha kusuma wandhani (43)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here