Pengalaman Belajar di al-Azhar Mesir pada Musim Pandemic COVID-19

0
398

teradesa.com. Pengalaman belajar di musim pandemic corona saya kira hampir sama, yakni belajar offline dan online (blended learning). Begitu halnya di al-Azhar, di Fakultas Syariah tingkat satu pembelajaran offline dilaksanakan pada hari Senin dan Kamis. Sedangkan pembelajaran online dilaksanakan pada hari Sabtu dan Ahad. Belajar dimulai pada jam 9, dan terkakhir gak selalu sama tiap harinya, kadang jam 4 kadang juga bisa jam 5 bahkan mepet maghrib.

Ya, waktu kuliah cuma 4 hari dalam sepekan. Media pembelajaran online biasanya menggunakan microsoft teams, telegram pake VN. Kalau pakai VN biasanya dikit banget materinya. Mungkin kesannya kuliah di al-Azhar santai banget. Tinggal datang ke kuliah, duduk mendengarkan dosen jelasin materi, selesai pulang dan tidur lagi tanpa beban dan tanpa tugas. Benar-benar terkesan santai belajar sini. Bahkan ga kuliah-pun terkesan ga masalah. Tapi, bagaimana hasil yang ga belajar, yang males-malesan, yang gak punya semangat? Tentu, beda. Semua bisa list sendiri di akhirnya.

Ada perbedaan antara mahasiswa Indonesia (masisir) dengan mahasiswa Mesir (misriyat). Mahasiswa masisir, anak-anak Malaysia, dan beberapa wafidat selalu ambil mata kuliah fiqih mazhab Syafii. Sedangkan misriyat ambil mata kuliah fiqih mazhab Hanafi, mazhab yang masyhur di negara Mesir. Dan, maddah-maddah asasi itu dipelajari di termin dua, di samping ada juga maddah tauhid (ilmu kalam) dan bahts (penelitian/cara penulisan ilmu fiqih dan ushul fiqih). Pelajaran al-Quran adalah bersifat hafalan atau murajaah secara mandiri, tanpa dukturah pengampu matkul.

Semua maddah diujikan dengan secara tulis, dan tambahan ujian lisan untuk dua maddah, yaitu al-Qur’an dan Qadaya. Deg-degan juga ya untuk ujian lisannya. Belum lagi ketika aku ngerasa belum punya kemampuan berbahasa arab yang cukup, gimana aku bakal jawab pertanyaan-pertanyaan dari dukturah, belum lagi ketika ngeblank tentang materi-materi yang udh disiapin. Semoga Allah selalu mudahkan, amin yra.

Aku seneng banget sih, ternyata banyaknya jumlah mahasiswa Indonesia di Mesir, membuat kami sangat mudah dalam belajar, mencari lingkungan, atau pun fasilitas belajar. Kayak bimbingan belajar, mudah banget kita dapetin, terutama di tingkat 1, ketika kami masih cupu-cupu dan perlu adaptasi cara belajar dan memahami muqoror. Di kuliah banat sebagian besar pembelajaran dukturoh memakai bahasa ‘Ammiyah (Bahasa Lokal Mesir). Sementara, selama ini di Indonesia atau di Darul Lughah kami menyiapkan belajar Bahasa Arab fusha.

Mahasiswa dari Indonesia umumnya sudah memiliki kemampuan Bahasa Arab yang baik. Kebanyakan udah belajar di pondok pesantrean bertahun-tahun dan belajar Bahasa Arab. Di Darul Lughah, kebanyakan masisir hanya menempuh kursus bahasa selama beberapa bulan aja. Sementara, mahasiswa dari Malaysia atau Nigeria dan negara lain, bisa selesai setelah 1 tahun bahkan lebih. Masisir kebanyakan bisa langsung masuk level 3 atau 4, bahkan 5, sedangkan mereka biasanya masuk level 2 atau bahkan 1 dulu.

Tapi ada hal besar yang perlu disayangkan, mungkin itulah bukti kalau tidak ada sesuatu di dunia ini yang sempurna wkwk. Semangat belajar masisir gak setinggi mahasiswa negara lain. Entah siapa yang menciptakan tradisi rebahan. Mahasiswa Malaysia datang pagi-pagi bareng misriyat. Sementara, masisir belum beranjak dari tempat tidur. Dan ketika di kelas masih ada muhadoroh di jam-jam akhir menjelang hilangnya kekuatan, Masisir udah kembali merebahkan diri di rumah. Padahal rumah kami sangat sangatlah dekat dengan kampus, klo dibandingin sama Misriyat yang ketika berangkat jam 6 pagi, mereka baru sampe di kampus jam 9. #Nabila

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here