Peradaban Islam di Masa Pemerintahan Khalifah Abu Bakar ash-Shiddiq

0
2019

teradesa.com. Beban khalifah Abu Bakar ash-Ahiddiq cukup berat. Wafatnya Rasulullah saw adalah kabar yang mengejutkan bagi siapapun. Ada beragam respon Umat Islam dan non-Islam atas berita wafatnya beliau. Setidaknya dapat dipetakan sebagai berikut. Pertama, umat Islam terpola menjadi dua, yaitu percaya dan tidak percaya. Abu Bakar langsung mempercayainya. Kedua, Kerajaan Romawi Timur mulai berfikir ulang untuk melakukan ekspansi ke Jazirah Arab.

Dikalangan internal umat Islam, Abu Bakar menghadapi beberapa kelompok pasca Rasulullah saw wafat, yaitu; kaum yang tidak mau/ingkar membayar zakat, keluar dari Islam/murtad (riddah), dan beberapa orang mengaku sebagai nabi. Untuk yang terakhir ini, diantaranya adalah; Musailamah bin Habib al-Kazab, Thulaihah bin Khuwailid bin Naufal, Al-Mukhtar bin Abi Ubaid, Sajah binti Al-Haris bin Suwaid, dan Tsurayya Manqus.

Tugas utama Khalifah Abu Bakar adalah menjamin stabilitas inernal umat Islam. Oleh karenanya, ia fokus ke masalah menyeleseikan masalah internal terlebih dahulu. Misalnya, Abu Bakar menyiapkan pasukan untuk memerangi kelompok murtad (riddah). Sebelum memerangi kelompok umat yang murtad, Khalifah Abu Bakar terlebih dahulu mengirim surat dan mengajak mereka kembali bertaubat. Khalifah juga menyiapkan sebelas pasukan. Setelah dikirim surat, dan mereka tidak mengindahkan ajakan Khalifah, maka Umat Islam kemudian memeranginya. Dalam peperangan tersebut umat Islam menang gemilang, meskipun sebagian umat Islam ada yang wafat.

Dalam peperangan melawan kaum riddah, orang-orang yang hafal al-Qur’an (hafidz) banyak yang wafat. Atas kejadian ini, Umar bin Khattab waktu itu mengusulkan kepada Khalifah Abu Bakar, untuk mengumpulkan dan membukukan al-Qur’an. Tujuannya adalah agar kelak masih dapat dibaca oleh umat Islam. Awalnya khalifah enggan, tetapi akhirnya Khalifah menyetujuinya. Dan, menugaskan Zaid bin Tsabit untuk mengumpulkan dan menulis al-Qur’an.

Khalifah Abu Bakar dalam menjalankan kepemimpinan terhadap umat Islam menjalankan tiga fungsi sekaligus, yaitu tugas; eksekutif, legislatif, dan yudikatif. Namun demikian, Khalifah Abu Bakar selalu bersikap demokratis. Dalam mengambil keputusan, dia selalu mengajak para sahabat besarnya untuk bermusyawarah terlebih dahulu, sebagaimana hal ini dilakukan oleh Rasulullah saw.

Startegi kedua adalah konsolidasi yang berefek keluar umat Islam. Strategi ini tujuan utamanya adalah memperkokoh internal umat islam, dan menghalau keinginan Kerajaan Romawi Timur untuk mengusai Jazirah Arab. Khalifah Abu Bakar mengirim pasukan yang dipimpin oleh Khalid bin Walid ke Iraq. Pasukan ini berhasil mengusai al-Hirah pada tahun 634 M. Berikutnya, Khalifah mengirim pasukan ke Syiria. Pasukan besar ini dipimpin langsung oleh empat Jendral, yaitu; Abu Ubaidah, Amru bin `Ash, Yazid bin Abi Sufyan dan Syurahbil. Khalid bin Walid, seusai tugasnya di Irak diperintahkan untuk memperkuat pasukan Islam ke Syiria.

Penguasaan umat Islam pada wilayah Iraq dan Syiria merupakan hal yang strategis. Pertama, untuk menghalau keinginan Romawi Timur menguasai Arab. Kedua, bahwa kedua daerah tersebut merupakan bagian dari wilayah semenanjung Arabia. Juga, banyak umat Islam dan orang-orang yang berbahasa arab menempati daerah ini. Upaya Khalifah Abu Bakar menguasai daerah-daerah strategis ini berhasil. Khalifah Abu Bakar tercatat telah mampu mengembalikan stabilitas Negara Islam Madinah. #Nur Kholis.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here