Perjalanan Hidup Manusia

0
1482

teradesa.com. Hidup dan/atau kehidupan hakikatnya adalah menempuh suatu perjalanan. Tidak seorang-pun berhenti menempuh perjalanan itu, selama ia hidup. Tumbuh-tumbuhan selalu melakukan perjalanan. Hewan darat dan laut-pun juga selalu melakukan perjalanan. Bahkan, semesta tidak pernah berhenti bergerak. Semua makhluk berjalan atau bergerak pada porosnya masing-masing.

Perjalanan kehidupan manusia sudah diatur oleh Tuhan, bahkan agar perjalanan itu efektif mencapai tujuan hakikinya. Maka, sebelum mereka dilepas (start) lahir ke dunia, mereka ditunjukkan tujuan yang harus ditempuhnya. Peristiwa ini dikenal sebagai perjanjian antara manusia dengan Tuhannya.

Tatkala Allah SWT bertanya kepada, ”Bukankan Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab, ”Betul (Engkau adalah Tuhan kami), kami menjadi saksi. (Kami lakukan ini) agar di hari kiamat nanti kami tidak mengatakan, Sesungguhnya kami (Bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Allah).” (QS Al-A’raf/7: 172).

Dalam kitabnya, Tafsir al-Quran al-Adzhim, Ibnu Katsir menjelaskan, iman dan syahadah seperti disebut dalam ayat di atas, adalah iman dalam bentuk fitrah yang merupakan kecenderungan atau watak dasar manusia. Berdasarkan tafsir ayat tersebut, maka pada hakikatnya setiap orang memiliki ke-iman-an dalam dirinya.

Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” (QS Ar-Rum/30: 30).

Inilah hakikat tujuan perjalanan hidup manusia. Diawali dengan dialog untuk melahirkan dan menumbuhkan kesadaran diri. Menyadari siapa dirinya, apa tujuannya, bagaimana ia harus menempuh perjalanan itu, pedoman apa yang seharusnya menjadi pegangannya. Kesadaran diri (self awarness) akan tertanam dalam alam bawah sadarnya dan menjadi pedoman dalam hidup, apabila ia tetap menempuh laku suluk (perjalanan) yang digariskan.

Setidaknya terdapat dua hal yang seharusnya ditempuh oleh seseorang dalam melakukan perjalanan hidup dan kehidupan, yaitu; mujahadah dan riyadhah. Mujahadah adalah upaya sekeras mungkin melawan hawa nafsu. Hawa nafsu bersumber dari kecintaan yang berlebihan terhadap dunia. Jika kecintaan demikian tidak dibatasi, maka akan memungkinnya menjadi awal kehancuran diri dan tatanan sosial. Rusaknya sifat kemanusiaan adalah berawal dari menurutkan nafsu. Karena hakikatnya nafsu adalah bersifat menyerang.

Riyadhah adalah melakukan praktik-praktik ibadah  yang dapat mendekatkan diri kepada Tuhan (tujuan hakikat hidup/suluk). Umumnya praktik riyadhah dilakukan secara istiqomah/pembiasaan. Menurut teori perilaku bahwa perilaku seseorang dapat ditumbuhkan melalui proses pembiasaan.  Misalnya, membiasakan diri setiap malam sholat tahajud, membaca al-Qur’an dua lembar setiap sholat lima waktu, berdzikir, membaca sholat setiap pagi dan petang, beristighfar setiap pagi dan petang, dan masih banyak lainnya—yang penting adalah istiqomah meski sedikit.

Dalam konsep perjalanan (suluk)-nya, Ibnu Arabi menjelaskan bahwa dalam menempuh perjalanan itu, seseorang akan menemui dua hal, yaitu maqomat (tempat/stasiun) dan hal (keadaan). Maqomat merupakan stasiun yang harus dilewati oleh pejalan spiritual sebelum bisa mencapai ujung perjalanannya. Begitu pula, perjalanan manusia selalu dilalui dari satu tahap, etape, periode ke tahap, etape dan periode berikutnya. Maqomat adalah halte kehidupan yang harus dilalui dan tempat penghentian sementara.

Haal (keadaan) adalah kondisi atau keadaan yang menyelimuti qalbu seseorang. Haal (keadaan) bersifat tidak stabil, dapat berubah-ubah sesuai dengan kondisi internal dan eksternal seseorang. Kebanyakan haal (keadaan) qalbu seseorang banyak dipengaruhi atau bereaksi terhadap kondisi eksternalnya. Jika kondisi eksternal seseorang masih banyak mengendalikan, maka seseorang harus terus berusaha membaliknya, yaitu mengendalikan situasi eksternalnya. Dalam konsep tradisi filsafat stoic seseorang harus berusaha mencintai takdir (amor fati) agar dapat mengendalikan kondisi eksernalnya.

Kemampuan untuk mengendalikan kondisi eksternalnya atau tidak cepat bereaksi terhadap situasi diluar dirinya akan melahirkan sikap bijak dan perilaku yang baik (berakhlak tinggi). Kemampuan mengendalikan situasi dan kondisi eksternal adalah menjadi indikasi dari semakin dewasa, cerdas, atau mampu berfikir tingkat tinggi. Reaktif dalam konsepnya, Piaget bahwa seseorang masih didominasi motorik kasar. Motorik kasar adalah kondisi di mana pengetahuan/rasio seseorang belum menjadi dasar sikap dan perilaku.

Motorik halus harus mendominasi menggerakkan sikap dan perilaku seseorang. Motorik halus adalah elemen dasar dalam otak manusia sehingga dapat berfikir, bersikap dan berperilaku logis dan etis. Motorik halus ini pula yang dalam konsep neurology disebutnya sebagai sumber berkembangnya otak manusia (cortex prefrontalis). Cortex prefrontalis menjadi media berkembangnya akhlak yang baik. Oleh karena itu, dalam perjalanan manusia seharusnya memperkuat cortex prefrontalis. Bagaimana cara? Sebagaimana dijelaskan di atas, yaitu; melakukan mujahadah dan riyadhah secara terus menerus tidak berkesudahan.

Pada akhirnya, perjalanan hidup manusia adalah usaha yang tidak berkesudahan bermujahadah dan melakukan riyadhah agar dapat mencapai hakikat tujuan hidup secara efektif dan efisien. Semakin meninggalkan perilaku mujahadah dan riyadhah, maka ia semakin jauh dari hakikat pencapaian tujuan hidupnya. Keduanya (mujahadah dan riyadhah) adalah teknik menghaluskan dan membaikkan akhlak. Dengan demikian, akhlak yang baik dapat menghantarkan pencapaian tujuan hidup sejati. Nur Kholis

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here