Perspektif Pendidikan

0
128

teradesa.com. Pada forum FGD bersama para Nelayan, saat melakukan penelitian yang dibiayai unicef, terdapat jawaban yang menurut persepsi penulis kurang lazim. Saat itu, penulis bertanya, misalkan bapak-bapak mempunyai uang yang hanya cukup untuk membiayai sekolah satu anak, sementara anak bapak dua, yaitu; laki-laki dan perempuan. Mana yang dipilih untuk sekolah lebih tinggi? Mereka sepakat memilih anak perempuannya, ketimbang yang laki-laki. Pada umumnya, orang tua lebih memilih menyekolahkan anak laki-laki ke jenjang yang lebih tinggi dari pada anak perempuan. Ini, tidak, malah sebaliknya.

Ini, menarik. Penulis melanjutkan pertanyaan, mengapa bapak-bapak lebih memilih menyekolahkan anak perempuan ketimbang anak alaki-laki. Mereka menjawab bahwa anak-anak perempuan lebih mudah atau tanpa modal untuk menjadi tenaga kerja wanita (TKW) keluar negeri. Sedangkan, anak-anak laki-laki yang penting memiliki kemampuan dan ketrampilan nelayan, sudah cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Pada umumnya TKW yang bekerja di luar negeri tidak membutuhkan modal awal yang besar, karena biaya awal ditalangi terlebih dulu oleh agen.

Pilihan orang tua sangat pragmatis. Kehidupan yang layak dapat diperoleh oleh anak-anak mereka yang dapat bekerja di luar negeri sebagai tenga kerja Indonesia (TKI). Dan, lingkungan sosial ekonomi sebagai nelayan cukup mempengaruhi pandangan mereka terhadap pilihan pekerjaan bagi anak-anak laki-laki mereka. Lagi-lagi ini adalah persoalan cara pandang terhadap diri, keluarga dan komunitasnya terhadap masa depan anak-anaknya. Cara pandang selalu dipengaruhi oleh lingkungan sosial kesehariannya. Pekerjaan dan orang-orang yang sering bertemu dan berkomunikasi cenderung membentuk pola pikir, pola sikap, dan pola tindakan.

Menurut Broom dan Selznick, kasus di atas berkaitan dengan konsep perspective  preceived  role, yaitu peran yang didasarkan pada pertimbangan pribadi. Peran ini mungkin saja tidak sejalan dengan apa yang diharapkan masyarakat (social espectation), tetapi harus dilakukan karena menurut pertimbangan hal itu adalah baik. Pandangan pribadi masing-masing orang tua terhadap orientasi pendidikan anak-anaknya melekat sangat kuat, sehingga anak-anak tidak memiliki alasan kuat untuk menolak. Bahkan, pandangan pribadi demikian ini secara akumulatif membentuk model baru dalam komunitasnya, sehingga menjadi pandangan umum atau yang biasa disebut sebagai harapan sosial.

Siklus ini, mengingatkan kita terhadap suatu pandangan bahwa perspektif seseorang terbentuk didasarkan pada harapan sosialnya. Padahal, awalnya pandangan orang tuan nelayan ini berbeda dengan kelaziman pandangan masyarakat pada umumnya. Tetapi, karena orientasi pendidikan mereka kuat dan mendominasi sehingga menjadi sistem harapan sosial komunitas nelayan. Meskipun berbeda dengan kelaziman masyarakat yang lebih luas, tetapi kekompakan mereka sehingga mampu menjadi arus orientasi baru dalam pendidikan anak-anaknya.

Terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi pergeseran pandangan suatu komunitas, yaitu; Pertama, kondisi internal sosial komunitas. Para nelayan setiap hari berjibaku, mulai dari A sampai Z bekerja, mengamati, dan merasakan pola kehidupan melayan, untuk menopang kebutuhan dasar rumah tangganya. Kebanyakan mereka hanya sebagai buruh nelayan, paling tinggi adalah sebagai nahkoda (juragan laut) atau pedagang ngarep. Kondisi demikian membentuk persepsi, cita-cita, dan harapan terhadap anak-anaknya. Bahwa, mereka harus memiliki ketrampilan dan kemampuan lebih maju. Ketrampilan dan kemampuan nelayan hanya dapat dimiliki oleh mereka yang secara rutin dan sistematis melakukan suatu pekerjaan.

Kedua, harapan sosial komunitas (social espectation). Harapan komunitas terhadap peran apa yang dapat dilakukan oleh generasi muda (anak-anak) mereka di masa yang akan datang mempengaruhi cukup kuat alternatif pilihan pekerjaan dan unsur-unsurnya. Sekolah adalah alat bagi anak-anak untuk dapat memahami dan terlibat dalam suatu pekerjaan baru, atau membantu anak-anak untuk memiliki karakter, kemampuan, dan ketrampilan yang akan dibutuhkan di masa-masa berikutnya. Karena itu, orang tua, sesuai kapasitas ekonominya, akan memilih sekolah/tingkat sekolah dengan pertimbangan cukup pragmatis.

Ketiga, kemudahan mendapatkan pekerjaan. Bekerja sebagai nelayan, bagi orang-orang/generasi baru di lingkungan pesisir selatan sebetulnya bukan hal yang sulit. Setiap anak/orang dapat menjadi anak buah kapal (ABK), asal mau bekerja. kebanyakan, mereka adalah buruh karena pemilik kapal biasanya orang jauh. Begitu halnya dengan bekerja sebagai TKI, terutama bagi perempuan, cukup mudah dan tanpa membutuhkan modal banyak, biaya awal akan ditalangi oleh agen dengan sistem potong gaji. Kondisi demikian, cukup kuat mempengaruhi pilihan orang tua menyekolahkan anak perempuannya, minimal harus lulus SLTA.

Penulis: Cak Nur

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here