Pesan Pak Tua

0
65

teradesa.com. Tidak disangka-sangka, tiba-tiba Pak Tua datang. Ia memakai hem puith, bawahan hitam dan memakai tutup kepala “udeng”. Ia tersenyum, dan menyampaikan pesan singkat. “Hati-hati ya, kedepan ujianmu sangat berat, tetap istiqomah mendekat kepada Allah swt. Hanya ada dua yang akan menolongmu, yaitu; Allah swt dan seseorang”. Sebetulnya saya tidak kenal siapa dan dari mana dia. Hanya saya jawab ringan, “inshaallah mbah”.

Seperti yang dia pesankan itu, beberapa pekan berikutnya ujianku begitu dramatis, tidak masuk akal, dan sungguh diluar kemampuanku. Memang sejak lima bulan lalu, aku pindah dari Kota P kembali menempati rumah peninggalan kedua orang tua di Kota T. Di kota T ini, aku tinggal sendiri, anak semata wayang sedang kuliah di luar kota.

Perpindahanku dari Kota P ke Kota T, hanya karena suamiku menghilang sejak dua tahun lalu, entah ke mana tiada kabar sampai hari ini. Dan, aku-pun sudah tidak peduli lagi dengannya. Aku tidak memiliki pekerjaan tetap, kadang diminta membantu teman untuk merias dan menerima pesenan bakpia. Ketrampilanku membuat bakpia, karena selama di Kota P, aku bekerja pada home industry bakpia.

Anakku, yang semata wayang memiliki keinginan yang kuat untuk melanjutkan kuliah, tetapi apa dayaku. Allah swt Maha adil, ada saja jalan keluar atas kesulitan biaya kuliah anakku, setahun ini ia mendapatkan beasiswa kerja di kampusnya, kontrak kerja 11 bulan. Alhamdulillah, dapat membantu biaya harian di luar kota. Untuk saat ini, biaya kuliah anak, bagiku sudah tidak ada masalah.

Perpindahanku ke Kota T, semakin membuat sepupu-sepupuku tidak nyaman, entah kenapa? Aku tidak tahu. Memang sejak dulu, mereka tidak pernah peduli dan tidak menyukai keluargaku. Bahkan akhir-akhir ini menginginkan warisan dari orang tuaku. Kedua orang tuaku meninggal sejak tiga tahun lalu. Dan, kedua adikku juga telah meninggal. Begitu-lah aku sendiri di rumah tanpa pekerjaan yang jelas.

Sehari makan sekali adalah kebiasaanku. Pernah aku seharian tidak makan, karena tidak ada yang dimakan, ya sudah sekalian puasa. Meskipun untuk buka puasa-pun belum tahu dapat dari mana. Sepekan itu, hari-hariku terasa sangat panjang. Ku-lalui dengan perut kosong, haus, dan perasaan tidak menentu. Hanya ada satu teman yang mengetahui cerita sedih ini, itupun orang jauh. Tidak bisa berbuat banyak.

Sesekali ia mengirim makanan via grab. Itu-pun malah menimbulkan fitnah. Sepupuku ke rumah sambil marah, membentak, dan menuduhku telah menjual diri. Juga, kiriman ikan asin dari teman yang kujemur dibelakang rumah hilang diambil orang. Aku hanya bisa makan jika ada sayur hijauan, biasanya kurebus ditambah ikan asin sudah cukup. Sambel-pun aku tidak suka.

Malam itu, tiba-tiba ada orang yang tidak kukenal gedor-gedor pintu depan. Aku semakin takut, tidak kubuka pintu. Mereka semakin menggedor dan membentak-bentak memaksa untuk dibukakan. Aku semakin ketakutan, aku pegang pisau sambil gemetar, berdiri dibalik pintu. Jika mereka memaksa dan merusak pintu, maka akan aku tusuk mereka dengan pisau dapur ini. Dan, sengaja lampu-lampu dalam rumah aku matikan.

Mereka sepertinya berjalan ke jendela kamar samping rumah. Ya Allah, aku semakin ketakutan. Mereka melemparkan batu kearah jendela, aku semakin gemetar. Sambil sesekali aku chat teman jauh untuk meminta sarannya. Ia menyarankan mematikan semua lampu rumah, menunduk di lantai, dan terus berdzikir, “hasbunallah wanikmal wakil nikmal maula wanikman nashir laa haula wala quwwata illah billah”.

Sepertinya mereka sudah tidak ada di sekitar rumah. Tetapi, aku ingat teriakannya yang terakhir, “keluarlah, ambil tulisan dikertas yang kutaruh di jendela”. Aku masih gemetar, dalam kondisi lapar dan haus. Kuambil secarik kertas itu, tertulis dikertas itu pesan singkat. “jika kamu masih tidak mau menjual tanahmu, maka kamu akan kami bunuh”. Ya Allah, cobaan apa lagi ini, apakah aku kuat menjalani hari-hari kedepan sendiri seperti ini.

1# Cerbung nonfiksi, by Cak Nur

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here