Prediksi Puncak peradaban, Manusia Setengah Malaikat.

0
420

teradesa.com. Jika membaca sejarah, terutama mulai abad pertengahan kemajuan Islam, sekira awal abad 19—mulai Dinasti Abbasiyah, Dinasti Utsmaniyah, Bani Aglabiyah, dan Bani Fatimiyah, maka rasa optimis terhadap ilmu pengetahuan terasa begitu kuat. Ada hiroh yang kuat dikalangan pemimpin dunia, para cendekiawan, dan masyarakat pada umumnya untuk menuntut ilmu. Bahkan, mereka sangat kuat menggantungkan pada ilmu pengetahuan dalam mewujudkan kesejahteraan umat dan bangsa. Sehingga pikiran ini terus membayangkan, jika hidup pada masa itu maka mungkin akan dapat berguru langsung kepada al-Adawiyah, Bustami, ibnu Arabi, Ibnu shina, Ibnu Rusy. Disitulah, pengetahuan tasawuf falsawi saya semakin kuat, wkwkwkwk.

Begitu memasuki abad 20, nostalgia keilmuan ini seakan hancur lebur. Dunia dilanda pesimis berkepanjangan terhadap ilmu pengetahuan dan teknologi. Betapa tidak, situasi berubah 100%. Ilmu pengetahuan dan teknologi tidak lagi didedikasikan untuk kesejahteraaan umat dan bangsa. Tetapi, justru dipakai sebagai alat untuk menghancurkan dunia itu sendiri. Nafsu keserakahan manusia-lah yang mendorong semua negara-negara untuk saling menghancurkan melalui dua perang dunia terbesar dalam sejarah kehidupan manusia. Ya, di awal abad berkembangnya ilmu pengetahuan meletus perang dunia I dan II.

Ideologi pembangunan berubah antara sebelum dan sesudah abad 19. Ideologi pembangunan peradaban bangsa yang berkembang sebelum abad 19 adalah mengintegrasikan antara nilai-nilai agama dengan ilmu pengetahuan. Mau tidak mau, temuan ilmu pengetahuan dan teknologi memperkuat keterikatan manusia terhadap Tuhan. Keseluruhan proses dan temuan ilmu pengetahuan pada akhirnya menimbulkan kesadaran kebertuhanan yang semakin kuat. Inilah, yang dalam al-Qur’an disebut sebagai ulul albab.  Tetapi tidak, ideologi pembangunan peradaban yang dimulai abad 20, justru menjauhkan manusia dari Tuhan.  Renaisans telah menjadi tonggak pembelahan ilmu pengetahuan dengan agama. Sehingga ilmu pengetahuan dan teknologi bersifat bebas nilai.

Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi abad 20 mengikuti proses tiga gelombang utama. Pertama, industrialisasi dan kapitalisme. Kaum kapitalis (pemodal) bukan hanya merupakan ciri abad 20. Pada abad-abad sebelumnya kaum kapitalis ini telah berkolaborasi dengan penguasa, terutama pada periode pemimpin negara/kerajaan pragmatis. Bertemunya kaum kapitalis dengan teknologi industri menimbulkan model baru penguasaan negara satu terhadap negara lainnya. Tidak lagi bersifat ekspansi wilayah sebagaimana terjadi sebelum abad 20. Kaum kapitalis cukup menguasai industri dan sumber daya alam di beberapa negara, terutama negara-negara sedang berkembang dengan dalih pembangunan.

Kedua, teknologi digital dan kapitalis.  Gelombang ini dimulai sejak ditemukan teknologi internet. Tentu, teknologi satelit yang ditemukan pada gelombang pertama menyumbang dan memperlancar proses internetisasi. Perlu dicatat bahwa individu-individu kelompok kapitalis juga turut berubah. Pada gelombang pertama para kapitalis adalah mereka yang menguasai industri dan sumber daya alam. Sementara, kaum kapitalis pada gelombang kedua ini adalah mereka yang menguasai teknologi digital. Pada gelombang ini dunia ditandai dengan semua aspek kehidupan telah ditopang oleh teknologi digital. Bidang pendidikan, politik, sosial, budaya, ekonomi, agama, dan budaya—semuanya berbasis digital.

Ketiga, cyberspace dan kapitalis. Kaum kapitalis akan didominasi oleh anak-anak millenial, atau setidaknya mereka yang mampu beradaptasi dengan teknologi digital. Kaum millenial ini akan merubah aspek kehidupan fisik menjadi serba maya. Sekolah tidak perlu lagi membangun gedung dan murid-murid datang ke sekolah. Tempat belanja (mall) tidak perlu dibangun secara mewah, dan orang-orang datang. Begitu pula dengan tempat-tempat umum lainnya—semua akan tergantikan dengan tempat-tempat maya. Orang-orang cukup belanja, bertemu dengan teman-teman, kolega, bercengkerama, reuni, dan bahkan ngobrol di mall maya, cukup dari rumah masing-masing. Anak-anak sekolah sekolah cukup dari rumah; mereka juga bisa bermain, mendengarkan ceramah guru, makan bareng.

Mata uang di semua negara tidak lagi menjadi alat tukar utama, tetapi ia bagian dari komoditas yang dapat diperdagangkan, karena semua alat tukar berbentuk digital, kode. Orang-orang tidak perlu melakukan mobilitas fisik ke beberapa negara, kota, tempat ibadah, tempat umum untuk bertemu dengan kolega. Semua aktifitas manusia dapat dilakukan di tempat maya dan bertemu langsung seperti layaknya bertemu secara fisik. Ini-lah masa depan manusia, bukan di dunia fisik tetapi dunia maya berdimensi penuh, manusia setengah Malaikat. #Nur Kholis.

 

 

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here