Revitalisasi Tradisi Spartan pada Era Serba Berubah

0
161

teradesa.com. Wahai para spartan, ingatlah air mata ibumu menjadi saksi bahwa kami (orang tua) bangga dititipi dirimu. Kau adalah anak-anak yang membanggakan, kau tumbuh menjadi pribadi yang baik. Memiliki visi atas pilihan masa depanmu. Memiliki pilihan alternatif roadmape tahapan yang akan kau lakukan menuju titik asa yang penuh cahaya keilahian.

Ini bukan air mata kesedihan, karena ortumu yakin bahwa air mata ini kelak akan berubah menjadi air mata kebahagiaan. Air mata ini bersumber dan memancar dari kasih sayang yang tak terbendung.

Ibumu, juga bapakmu sadar bahwa betatapun kamu hidup bersama dalam keluarga, pasti tidak akan dapat melindungimu dan menjagamu selama 24 jam, karena yang dapat melakukan semua itu hanyalah Allah swt.

Diusiamu yang masih anak-anak, kami lepas untuk belajar memecahkan masalahmu sendiri. Jadilah pribadi yang baik dan mandiri. Di luar sana, tentu akan banyak masalah yang harus dapat kamu pecahkan sendiri. Berbagai tantangan, dan rintangan harus kamu hadapi, karena sejatinya hidup tidak boleh mundur, harus tetap maju.

Hukum rimba pasti akan berlaku; siapa yang kuat, dialah yang akan menang. Kamu tidak boleh lebay…itulah prinsip yang dipegang dalam tradisi suku Spartan. Saat anak menginjak usia 7 tahun, dia harus dilepas kedalam hutan belantara. Jika ia kelak dapat pulang (karena dapat mengatasi semua kesulitannya), maka ia menjadi pemenang dan diagungkan sebagai pemimpin.

Prinsip yang perlu kau miliki untuk menjadi spartan kesatria adalah; mencintai kebaikan, menicintai kebenaran, dan mencintai keindahan.

Pertama, kebaikan dalam Islam dikonsepsikan sebagai al-Ma’ruf (yang dikenali). Jika kau mengedepankan otak manusia (cortex prefrontalist), maka kamu pasti tahu apa yang baik-tidak baik; boleh-tidak boleh; anjuran-larangan, dsb. Jika kamu berucap, bersikap, dan berperilaku yang dalam hati kecilmu merasa tidak senang, takut, was was…itulah ketidakbaikan, dan harus kamu tinggalkan.

Kedua, kebaikan (al-Birru) adalah mengedepankan kesenangan orang lain, memberikan apa yang sangat kamu cintai pada orang lain (QS. ali-Imran/3: 92). Jika kamu masih memiliki kesenangan pada selain Allah swt, maka ego-mu lah yang akan memimpinmu. Otak kemanusiaanmu (cortex prefrontalist) tidak akan dapat bekerja dengan baik, dan pasti kamu tidak dapat mengenali kebaikan.

Buang egomu, pasrahkan ruhanimu dan jasmanimu pada pemilik kebaikan. Besarkan ruang gerak cortex prefrontalist-mu, dengan memperbanyak melakukan dan mencintai kebaikan; baik dalam berucap, bersikap, dan berperilaku dalam berinteraksi dengan sesama spartan dan guru spartan. Kelak, Inshaallah kau akan menjadi spartan kesatria. #Nur Kholis

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here