Thursday, May 23, 2024
Home Blog

Kalimat Berjiwa

0

teradesa.com. Saya termasuk satu diantara banyak orang yang percaya bahwa rangkaian kata, kalimat, sikap, dan perilaku seseorang mengandung jiwa. Ia memiliki kekuatan mempengaruhi pihak lain untuk memiliki pandangan, sikap dan keputusan yang sama. Kemampuan mempengaruhi pihak lain adalah merupakan wujud adanya jiwa atau ruh didalamnya.

Pihak lain tidak dapat memahami keinginan jiwa dibalik simbolisasi kata, sikap dan perilaku seseorang dengan cara menafsirkan simbolik itu. Penafsiran demikian pada puncaknya melahirkan pandangan, sikap, dan perilaku pihak lain, yang dalam konsep psikologi disebut respon. Nah, respon inilah yang kemudian kadang meinimbulkan masalah, yang biasanya disebut dengan; salah tafsir.

Jiwa Yang Bersedih menceritakan tentang perjalanan seseorang dalam menjalani kehidupan. Perasaan lelah, letih, terluka, merasa tidak dihargai, berpura pura sempurna, bersikap seolah olah kuat dan baik saja, tersenyum walaupun menangis tentu pernah dirasakan semua orang dan lagu ini hadir untuk menyemangati orang orang yang sedang mengalami fase lelah itu”.

Kalimat di atas pure dicopas dari deskripsi video lagu Ghea Indrawari, “jiwa yang bersedih”. Suatu ketika deskripsi tersebut diunggah oleh seseorang yang usianya 50an dalam sebuah grup WA. Menurut penulis, dari beragam respon dapat dikategorikan menjadi tiga model respon.

Pertama, menolak tua. Dalam usia diatas 50 tidak selayaknya seseorang mendengarkan lagu-lagu yang cocok untuk anak usia muda/remaja. Atau, deskripsi dalam lagu di atas hanya cocok untuk anak-anak mudah. Atau bisa jadi bahwa kata “menolak tua” untuk mendeskripsikan orang tua yang berperilaku seperti anak muda, suka bercinta.

Kedua, terlalu baper. Kalimat ini untuk menggambarkan bahwa kesan negatif bagi seseorang yang terbawa emosi dari isi sebuah lagu. Seolah-olah seseorang yang menyukai lagu demikian tidak rasional. Sebaiknya seseorang hanya lebih baik mendengarkan lagu-lagu yang akan menambah semangat dan kebaikan dalam hidup.

Ketiga, kalimat indah memiliki makna mendalam. Untaian kalimat dalam lagunya Ghea sama sekali tidak ada kata, kalimat, atau yang semakna dengan luapan cinta anak muda. Bahkan, didalam deskripsi di atas juga tidak ada yang bersinonim dengan penggambaran gelora cinta, dan cenderung membawa pada perasaan putus asa atau kesedihan yang mendalam.

Sebenarnya mana diantara ketiga respon di atas yang benar? Pada hakikatnya semua respon dalam bentuk apapun; ucapan, tulisan, sikap, dan perilaku memililiki kadar kebenaran dan kesalahan yang berbeda. Disini-lah kita bertemu dengan klasifikasi kebenaran. Masing-masing ketiga kategori di atas memiliki kebenaran subyektif sesuai sudut pandangnya masing-masing. Inilah, yang kemudian disebut sebagai kebenaran parsial.

Seseorang boleh saja “memaksakan” kebenaran parsialnya berpengaruh terhadap pihak lainnya. Tetapi ingat, bahwa adu argumentasi yang didasarkan pada rasionalitas universal-lah yang akan menaikkan derajat suatu kebenaran parsial menjadi kebenaran universal. Setiap orang memiliki hak yang sama untuk sepaham dan/atau tidak sepaham dengan suatu pandangan pihak lainnya. Semakin banyak yang sepaham itulah yang menentukan derajat universalitas gagasan.

Suatu dialog, diskusi atau apapun hendaknya tidak dilakukan dengan tujuan untuk saling menyerang. Bahkan, sebaiknya menjauhkan diri dari sikap underestimate, stereotype, dan/atau stigma terhadap pihak lain. Karena suatu pandangan seseorang belum tentu memiliki derajat keberan universal. Saling menghormati, menghargai, dan terlebih empati diperlukan untuk harmonisasi.

Harmonisasi merupakan prasarat terjadinya diskusi yang menghasilkan sesuatu cukup bermakna. Akan lebih bermakna jika seseorang mampu menggali apa yang sesuangguhnya diharapkan, diinginkan dibalik semua ucapan, kalimat, sikap dan perilaku (simbolisasi) pihak lain. Deskripsi yang ada dalam lagu Ghea di atas, hakikatnya menurut penulis memiliki makna dibaliknya yang sangat mendalam dalam kontek hidup asketis.

Semua jiwa yang bersemayam dalam diri seseorang, pada awalnya bahagia dalam dekapan Tuhan di alam mitsal. Setelah ia bersemayam kedalam diri seseorang di alam syahadah (alam indrawiyah/empiris), maka beragam pengetahuan dan pengalaman yang didapatkan suatu jiwa. Bahkan ia sering bersedih ketika jasad (manusia) yang hinggapi hidup penuh kepura-puraan.

Manusia cenderung berpura-pura sempurna. Sempurna dalam berpenampilan, sempurna dalam keilmuan, sempurna dalam kepemilikan, sempurna dalam jabatan, dan sempurna dalam bentuk apapun. Begitulah kecendrungan manusia untuk show dalam polesan yang menutupi ketidaksempurnaannya, hanya supaya dipandang sebagai idola. Berhentilah menjadi diri obses sempurna dan hiduplah apa adanya, agar tidak terus menderita. Karena hakikat makhluk adalah ketidak-sempurnaan. Cak Nur

Terpesona dibalik Hijab

0

teradesa.com. Dibagian terdahulu, saya sering mengulas tentang tanazzul-nya Tuhan kedalam setiap ciptaan-Nya (makhluk), karenanya semua makhluk memiliki manfaat. Itu, lagi-lagi, karena memang mereka merupakan manifest dari dzat yang Maha Rahmah.

Dunia dan seluruh isinya sejatinya bukan hal yang riil. Ia hanyalah “dunia manifest” dari dzat Tuhan, yang riil. Segala sesuatu yang manifest pada waktunya akan mengalami kemusnahan, hilang. Sedangkan, yang riil tetap eksis (ada) tanpa batas ruang dan waktu.

Bayangan kita di siang hari tampak sangat jelas, bahkan ke mana-pun kita pergi bayangan itu selalu mengikuti. Tetapi, ketika waktu mulai merangkak malam, maka bayangan itu semakin tidak kelihatan dan menghilang. Bayangan itu adalah manifest dari yang riil, diri kita.

Perjalanan hidup manusia dan semua makhluk di dunia ini, hakikatnya adalah untuk mengetahui, mengejar, dan menyatu dengan dzat yang riil. Berbeda, antara diri kita dan bayangan, meski selalu beriringan ke mana-pun yang riil (kita) berada, ia (bayagan) mengikuti. Keduanya tidak akan pernah menyatu. Sebaliknya, kita (bayangan) apabila mengejar yang riil (Tuhan), maka justru Tuhan-lah yang mendekat dan mendekap bayangan-Nya.

Dalam agama-agama monoteisme (Islam, Kristen) dan nonteisme (Hindu-Budha, Kepercayaan), usaha mengejar dan mendekatkan diri dengan Tuhan dilakukan melalui dua aspek, yaitu; doktrin dan metode. Doktrin bersandar pada prinsip esensial keimanan. Sedangkan, metode berkaitan dengan pemusatan pikiran terhadap yang dzat yang riil melalui meditasi, ibadah, dan/atau penyebutan nama-nama-Nya (dzikir).

Perjalanan Nabi Muhammad saw, dari Makkah ke Palestina dan menuju puncak keindahan, Sidratulmuntaha. Merupakan perjalanan spirutalis-asketisme yang tidak mudah diterima akal, apalagi tanpa keimanan. Hanya Nabi saw yang bisa bertemu dan berdialog secara langsung, tanpa hijab dengan Allah swt.

Nabi-Nabi sebelumnya tidak demikian. Nabi Ibrahim a.s menerima pesan spiritualis melalui proses mimpi, seperti pada saat menerima pesan tentang penyembelihan Ismail a.s (Qurban). Juga, Nabi Musa a.s tidak sanggup bertemu langsung dengan Tuhan. Jangankan bertemu, gunung-gunung saja langsung hancur ketika berdekatan dan bertemu dengan Tuhan. Sebagaimana diabadikan dalam al-Qur’an.

Dan ketika Musa datang untuk (munajat) pada waktu yang telah Kami tentukan dan Tuhan telah berfirman (langsung) kepadanya, (Musa) berkata, “Ya Tuhanku, tampakkanlah (diri-Mu) kepadaku agar aku dapat melihat Engkau.” (Allah) berfirman, “Engkau tidak akan (sanggup) melihat-Ku, namun lihatlah ke gunung itu, jika ia tetap di tempatnya (sebagai sediakala) niscaya engkau dapat melihat-Ku.” Maka ketika Tuhannya menampakkan (keagungan-Nya) kepada gunung itu, gunung itu hancur luluh dan Musa pun jatuh pingsan. Setelah Musa sadar, dia berkata, “Mahasuci Engkau, aku bertobat kepada Engkau dan aku adalah orang yang pertama-tama beriman.”” (QS. al-A’raf: 143).

Terdapat rahasia, dibalik mengapa Tuhan tidak menampakkan langsung pada hamba-Nya. Tuhan menampakkan diri pada setiap hambanya dalam bentuk tanazzul, dan memanifes kedalam semua ciptaan-nya melalui luapan kasih sayang (rahmah), sehingga semua fenomena manifes memiliki daya positif, dan manfaat bagi makhluk-makhluk lainnya.

Begitu-lah perumpamaan yang dapat kita renungkan. Mengapa jarak antara pusat cahaya (matahari) dengan bumi dan semua yang terdapat di atas dan didalamnya. Jikalau matahari dekat bumi, maka bumi dan semua yang ada akan hancur dan musnah. Jarak yang ideal matahari dengan bumi, bahkan sinarnya masih terselubungi oleh ozon menjadikan semua yang ada di planet bumi tumbuh dan berkembang menjadi lebih baik.

Tuhan menciptakan hijab-hijab diri dan hijab-hijab semua makhluk-Nya untuk tujuan baik. Sinar matahari yang jauh dan terselubungi menjadikan kita dapat berjalan di atas bumi, dapat membedakan antar keragaman pemandangan, dapat menikmati keindahan alam semesta, menjadikan buah-buahan matang, menjadikan semua tanaman tumbuh dengan sempurna. Karena efek matahari juga, terproduksilah tambang-tambang; emas, perak, batu mulia, (akik & rubi), air, minyak, dll yang bermanfaat bagi manusia.

Akhirnya, perjalanan hidup kita sejatinya adalah kesadaran transenden untuk menikmati keragaman keindahan dalam ruang hijab yang memesonakan. Jangan sesekali membuka hijab jika belum siap mental. Takutnya pingsan, hmmm. Cak Nur

Magnit Rezeki

0

 

teradesa.com. “Allah adalah Dzat pemberi rezeki dan pemilik kekuatan yang kokoh” (QS. adz-Dzâriyât [51]: 58). “Dan berapa banyak makhluk bergerak yang bernyawa yang tidak (dapat) membawa (mengurus) rezekinya sendiri. Allah-lah yang memberikan rezeki kepadanya dan kepadamu. Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui” (QS. al-‘Ankabût [29]: 60).

Wahai orang mukmin! Dari uraian sebelumnya engkau telah mengetahui bahaya besar yang diakibatkan oleh permusuhan dan kebencian. Maka ketahuilah bahwa sikap tamak juga merupakan penyakit yang sama seperti rasa permusuhan, bahkan ia lebih berbahaya bagi kehidupan Islami. Ya, tamak adalah sebab kegagalan dan kerugian. Ia adalah penyakit, kenistaan, dan kehinaan. Tamak itulah yang menyebabkan ketidaksuksesan dan kerendahan.

Bukti nyata atas hal tersebut adalah kehinaan dan kenistaan yang dialami oleh bangsa Yahudi, bangsa yang paling rakus terhadap dunia. Tamak memperlihatkan dampak buruknya mulai dari wilayah makhluk hidup yang paling luas hingga individu yang paling kecil. Sebaliknya, mencari rezeki dengan sikap tawakkal mendatangkan kelapangan dan ketenangan. Ia memperlihatkan buahnya yang bermanfaat di setiap tempat.

Sebagai contoh, berbagai tumbuhan dan pohon berbuah yang membutuhkan rezeki—di mana ia termasuk kategori makhluk hidup—mendapatkan rezeki dengan sangat cepat meskipun ia tetap diam di tempatnya disertai tawakkal dan sikap qana’ah, tanpa menunjukkan tanda ketamakan. Ia mengalahkan hewan dilihat dari sisi pemberian nutrisi kepada buahnya.

Adapun hewan mendapatkan rezeki setelah melakukan berbagai upaya. Rezeki yang didapatkannya juga sedikit dan terbatas. Hal itu lantaran ia memburunya dengan sikap tamak. Bahkan, dalam dunia hewan pun kita melihat bagaimana rezeki dilimpahkan kepada yang masih kecil, yang menunjukkan rasa tawakkal kepada Allah lewat kondisi mereka yang lemah.

Rezeki mereka yang lembut dan sempurna dikirim dari perbendaharaan rahmat Ilahi. Sementara berbagai hewan buas yang memangsa buruannya dengan sangat tamak baru mendapatkan rezeki setelah melakukan usaha keras. Dua kondisi tersebut menjelaskan secara sangat gamblang bahwa sikap tamak menyebabkan keterhalangan. Sebaliknya, sikap tawakkal dan qana’ah menjadi sarana pembuka rahmat dan karunia Tuhan. Hal yang sama kita dapati dalam dunia manusia.

Bangsa Yahudi yang merupakan manusia paling rakus terhadap dunia dan lebih mencintai dunia ketimbang akhirat, bahkan mereka tergila-gila kepadanya melebihi bangsa lain, telah ditimpa kehinaan dan kenistaan. Mereka menjadi sasaran pembunuhan bangsa lain. Semua itu terjadi akibat aset ribawi yang mereka peroleh setelah melalui perjuangan panjang. Mereka tidak mau mengeluarkannya kecuali hanya sedikit. Seolah-olah tugas mereka hanya mengumpulkan dan menyimpan kekayaan.

Kondisi tersebut menjelaskan kepada kita bahwa tamak merupakan sumber kehinaan dan kerugian bagi umat manusia. Terdapat banyak kejadian dan peristiwa yang jumlahnya tak terhitung bahwa ketamakan selalu mengarah pada kerugian dan penyesalan sehingga ada pepatah yang berbunyi, “Orang yang tamak selalu gagal dan merugi”.

Semua orang menganggap pepatah tersebut benar adanya. Jika demikian, apabila engkau sangat mencintai harta, burulah ia dengan sikap qana’ah tanpa disertai sikap rakus agar ia datang kepadamu dalam jumlah besar.

Kita bisa mengumpamakan orang yang merasa cukup (qana’ah) dan orang yang tamak seperti dua orang yang masuk ke dalam jamuan besar yang disediakan oleh seseorang yang terpandang. Salah seorang dari keduanya berharap, “Kalau tuan rumah memberiku tempat berteduh sehingga aku bisa selamat dari cuaca dingin di luar, hal itu sudah cukup. Kalau kemudian ia memberiku tempat duduk seadanya di tempat yang paling rendah sekalipun, hal itu merupakan bentuk kebaikan dan kemurahannya” .

Sementara orang yang kedua bersikap seolah-olah memiliki hak yang harus dipenuhi pihak lain dan semua orang tampak terpaksa memberikan penghormatan kepadanya. Melihat hal itu ia pun berbisik dalam hatinya dengan sombong, “Tuan rumah harus memberiku posisi yang paling tinggi dan paling baik”. Begitulah, ia masuk ke dalam rumah dengan membawa sikap tamak dan mengharapkan posisi yang tinggi. Namun ternyata tuan rumah justru mengembalikan dan menurunkannya ke posisi yang paling rendah. Maka, ia merasa tidak nyaman dengan kondisi tersebut dan dadanya dipenuhi oleh kemarahan terhadap tuan rumah.

Pada saat dimana ia semestinya berterima kasih, ia malah melakukan yang sebaliknya. Ia mengkritik tuan rumah sehingga si tuan rumah kesal kepadanya. Sebaliknya, orang pertama masuk ke rumah dan menunjukkan sikap tawaduk dengan berusaha duduk di tempat yang paling rendah. Tuan rumah senang dengan sikap qana’ah yang ia tunjukkan. Ia menaikkan orang pertama tersebut ke posisi yang paling tinggi. Orang itu pun semakin menunjukkan rasa syukur dan ridha setiap kali naik ke tingkatan yang lebih tinggi.

Begitulah adanya. Dunia ini adalah negeri jamuan Tuhan (ar-Rahmân). Permukaan bumi adalah hidangan rahmat-Nya. Berbagai macam rezeki dan nikmat didalamnya laksana tempat duduk yang posisinya beragam. Dampak buruk dan akibat dari sikap tamak dapat dirasakan oleh setiap orang, bahkan meskipun sikap tamak tersebut terkait dengan hal yang paling kecil dan sepele. Contoh, semua orang merasa tidak nyaman menghadapi pengemis yang terus-menerus meminta sehingga ia terpaksa mengusirnya. Sebaliknya, semua orang merasa kasihan melihat pengemis yang tidak banyak bicara dan bersikap qana’ah sehingga mereka pun memberikan uang kepadanya.

Contoh lain: Misalkan suatu saat engkau susah tidur malam. Perlahan-lahan engkau bisa tertidur jika menghadapinya dengan santai dan tidak gelisah memikirkannya. Akan tetapi, jika engkau sangat ingin tidur dan gelisah dengannya sehingga terus berujar, “Kapan aku bisa tidur? Kenapa tidak bisa tidur?” tentu engkau tidak akan bisa tidur. Contoh lainnya: Misalkan dengan tidak sabar engkau sedang menunggu seseorang. Engkau pun bersikap tamak (terburu-buru) ingin menemuinya karena ada urusan penting.

Dalam kondisi demikian, engkau merasa gelisah seraya berujar, “Mengapa ia belum datang? Mengapa ia datang terlambat?” Pada akhirnya, rasa tamak dan keinginan untuk bertemu itu melenyapkan kesabaran yang ada pada dirimu, sehingga engkau putus asa lalu pergi meninggalkan tempat tersebut. Namun, tiba-tiba orang yang ditunggu tidak lama kemudian datang. Akan tetapi, hasil yang diharapkan telah sirna.

Rahasia dan hikmah dibalik berbagai peristiwa di atas adalah bahwa sebagaimana keberadaan roti merupakan hasil dari sebuah proses; dipetik, ditimbun, digiling, dan dipanggang, demikian halnya dengan segala sesuatu. Ia terwujud berkat adanya proses yang bertahap. Adapun sifat tamak tidak bisa bergerak secara bertahap dan perlahan-lahan. Ia tidak memperhatikan tahapan dan tingkatan maknawi yang terdapat dalam segala hal. Ia ingin segera melompat sehingga akhirnya terjatuh atau meninggalkan salah satu tahapan sehingga tidak bisa mencapai tujuan yang diharapkan. By Badiuzzaman Said Nursi, “Misteri Puasa Hemat & Syukur”,

Pengaburan Perilaku

0

teradesa.com. Kebanyakan tindakan seseorang, kelompok, dan negara berkutat pada ranah simbolik. Bahkan bahasa menjadi instrument represif seseorang atau kekuasaan untuk melegitimasi tindakan subyektifnya. Bentuk legitimasi bahasa terhadap suatu tindakan subyektif adalah melalui terbentuknya wacana. Meski tindakan subyektif itu menyalahi norma-norma sosial dan/atau agama, maka wacana itu menjadi dasar pembenaran yang esfisien.

Bahasa (apapun) membuat seseorang dapat saling berinteraksi dan pencerminan (mirroring) di wilayah imajiner. Selain itu, simbolik tidaklah tunggal, tetapi bisa bermacam-macam dan selalu dinamis (dapat berubah-rubah secara terus menerus). Sehingga seseorang tidak lagi berfikir pada, apa yang oleh Zizek dalam bukunya, violence, disebutnya sebagai the big other.

Sebagai contoh; Pertama, gerakan memerangi teroris yang dilancarkan oleh Amerika Serikat (AS) pasca tragedi 11 September 2001, yang dikenal sebagai peristiwa Selasa kelabu. Pengibaran perang melawan teroris sampai mempengarugi Negara-Negara di seluruh dunia. Bahkan sampai sekarang-pun setiap Negara memiliki unit khusus untuk melawan teroris. Di Indonesia dikenal dengan Densus 88.

Sebagai Negara adidaya, AS memiliki kuasa untuk mempengaruhi dan/atau menekan Negara manapun untuk terlibat dalam program memerangi teroris. Bahkan mengerahkan anggaran yang besar untuk tujuan ini. “Kuasa” secara sadar dapat membuat suatu narasi untuk melegitimasi tindakan dehumanisasi yang represif, massif, dan terstruktur. Dalam konteks ini, jelas AS berusaha mengeksklusi teroris dari “paradaban kita”.

Wacana dan gerakan untuk mengeksklusi teroris oleh AS menunjukkan ada yang salah dalam ranah simbolik, hal ini karena yang berjalan adalah logika totalitarian. Kekerasan simbolik yang terdapat dalam bahasa/narasi secara tidak langsung merujuk kepada suatu tahapan identifikasi Lacanian, yaitu fase oedipal, di mana identitas subyek dikukuhkan dihadapan kuasa the big other dalam wujud bahasa.

Negara-negara, kelompok, dan individu “follower” AS tidak pernah menjangkau tindakan obyektif, apa tujuan hakikat dibalik yang terjangkau oleh indra (simbolik) dari serangan perlawanan terhadap teroris yang dimotori oleh AS. Sebetulnya, mereka tahu, tetapi selalu ditutupi oleh tindakan subyektifnya sehingga yang muncul dipermukaan selalu “dikaburkan”. Tujuannya adalah untuk mendapatkan verifikasi dan legitimasi dari masyarakat bahwa tindakan dehumanisasi itu normal dan benar.

Kedua, praktik pesugihan dan seksual di gunung Bolo, Tulungagung. Juga dapat didekati dengan teori ini. Seseorang yang datang ke makam Roro Kembang Sore di bukit Bolo tujuannya untuk mendapatkan kekayaan instan. Mereka rela melakukan ritual pesugian dengan melakukan perzinaan dan penyembelihan kambing. Semua pasti mengetahui bahwa tindakan subyektif-nya itu menyalahi norma-norma agama dan/atau sosial. Tetapi demi untuk mendapatkan tujuannya itu mereka mengaburkan pengetahuannya itu.

Pengaburan itu-lah tindakan simbolik efisien dengan memaklumkan kepada semua komunitas pecinta Bolo. Maka, rame-rame datanglah “penjual seks” di bukit pusaran sehingga menjadi pasar sperma abadi. Bahkan semua khalayak dan pemerintah mempermaklumkannya sebagai hal yang normal, wajar. Ritual seks untuk mendapatkan kekayaan dan diakhiri dengan penyembelihan kambing adalah tindakan untuk mendapat verifikasi, yang bersifat sugesti. Dan, tidak pernah mengetahui hakikat bagaimana kekayaan itu akan mewujud (the big other).

Dari dua contoh yang agak kontradiktif itu, dapat kita tarik benang merah bahwa “kuasa” (individu, kelompok, pemerintah) selalu dapat mengaburkan hakikat tujuan tindakan obyektif dengan menyelimuti tindakan subyektifnya melalui narasi, wacana. Sehingga mendapatkan legitimasi, pembenaran dari khalayak. Meskipun sejatinya melanggar hakikat kemanusiaan. Dengan demikian, dapat dipahami, mengapa sekarang rame-rame ada pekerjaan baru, yaitu Buzzer.

Pengaburan dengan cara mendramatisasi suatu peristiwa melalui corong wacana dan narasi (bahasa). Wacana yang bersumber dari “penguasa” secara mudah akan mendapat permakluman (legitimasi), baik secara sukarela amaupun represif. Oleh karena itu, sebetulnya terkadang wacana akan menjadi instrument dehumanisasi atau kekerasan bagi individu, kelompok dan/atau pemerintah kepada masyarakat. Dan, semua tindakan khalayak hanya disetting pada ranah simbolik, yang berfungsi untuk permakluman. Cak Nur

 

Logika Kejahatan

0

teradesa.com. Tulisan ini digerakkan oleh pertanyaan sederhana. Mengapa ada orang yang baik dan jahat? Bukannya semua jiwa manusia sama? Selalu condong kepada kebenaran sekaligus kebaikan? Al-Qur’an menyebutnya dengan al-hanif.

Ki Hajar Dewantoro  menjelaskan bahwa jiwa manusia merupakan diferensiasi dari kekuatan-kekuatan, yang disebutnya “tri-sakti”. Ketiga kekuatan yang dimaksudnya adalah pikiran, rasa, dan kemauan.

Kemauan bersumber dari nafsu-nafsu kodrati, dorongan, keinginan, dan insting. Hewan, tumbuh-tumbuhan, dan manusia memiliki kemauan ini. Oleh karena itu, ketiganya pada hakikatnya memiliki jiwa. Unsur jiwa yang paling rendah adalah kemauan.

Meskipun toh demikian, kemauan tetap didasarkan pada pengetahuan. Pada tulisan sebelumnya saya banyak mengulas tentang pengetahuan. Pengetahuan yang terendah adalah pengetahuan indrawiyah. Semua makhluk memiliki tingkat pengetahuan. Dengan demikian, kemauan selain digerakkan insting, juga dipandu oleh pengetahuan indrawiyah.

Hewan, tumbuhan dan manusia memiliki pengetahuan dan kemauan. Karena pada hakikatnya setiap ciptaan Allah swt dilengkapi dengan insting dan pengetahuan indrawiyah (ruh/jiwa). Insting dan pengetahuan indrawiyah hanya berfungsi untuk pertumbuhan eksistensinya.

Hewan dan tumbuh-tumbuhan memiliki pengetahuan dan insting; makan, minum, dan berkembang biak, begitu halnya dengan manusia. Ketiganya (makan, minum, & berkembang biak) merupakan nutrisi penting untuk pertumbuhannya. Dengan demikian, seseorang yang hanya fokus pada tiga hal ini, maka tidak ada bedanya dengan hewan dan tumbuh-tumbuhan.

Manusia harus bergerak pada level yang lebih tinggi, selain tumbuh, juga harus berkembang. Berkembang memiliki makna telah dicapainya level jiwa rasa dan pikiran (analisis-logic). Disinilah, letak yang membedakan manusia dengan makhluk-makhluk lainnya. Manusia, selain dapat tumbuh, sekaligus dapat berkembang.

Kemampuan (potensi) berkembang itulah yang menyebabkan manusia menerima amanah kekhalifahan di bumi. Tugas utama kekhalifahan manusia adalah memakmurkan bumi. Memakmurkan adalah mengelola bumi dan kesemestaan ini untuk eksistensi manusia itu sendiri. Karena memang hakikat penciptaan alam hanya diperuntukkan bagi manusia. Kemampuan memakmurkan bumi dapat dilakukan hanya jika seseorang bergerak mencapai level berkembang (memiliki rasa & pikiran, etika & estetika).

Jika kita dapat mensinonimkan rasa dan pikiran dengan berkembang, maka ini berarti etika dan estetika bagian didalamnya. Karena sesungguhnya hanya manusia yang memiliki sifat jiwa estetika dan etika. Hewan memiliki kemauan tetapi tidak memiliki etika dan/atau estetika, baik saat makan, minum, maupun perkembang-biakan (seks).

Immanuel Kant, menjelaskan estetika sebagai ilmu tentang menertibkan bekerjanya panca indra dalam hubungan dengan alam dan zaman. Sedangkan Baumgarten, menjelaskan estetika sebagai ilmu tentang kesempurnaan pandangan panca indra. Dan, etika disebutkan oleh Kant sebagai transzendentale logic.

Sampai di sini, dapat dipahami bahwa kejahatan manusia adalah akibat dari tidak dimilikinya; rasa dan pikiran, estetika dan etika. Orang-orang yang jahat didominasi oleh pengetahuan indra yang bersifat dangkal, dan hanya mementingkan ego-insting kemauan.

Panca indra hanya mampu meneropong hal-hal yang bersifat lahiriyah. Maka tugas rasa dan pikiran yang menganalisisnya sesuai pengetahuan internal, nilai-nilai, norma dan kehendak kolektifnya. Tugas estetika dan etika-lah merefleksikan hasil jepretan panca indra menjadi pengetahuan dan pemahaman yang tertib-manusiawi. Sebagai tambahan, yang menarik untuk analisis lagi adalah hubungan antara etika-estetika, rasa-pikiran dengan taqwa?. Cak Nur

Perubahan Kampungku

0

teradesa.com. Bukan kampungku lagi. Begitulah, kira-kita untuk menggambarkan perubahan yang terjadi di kampung kelahiranku. Saat pulang kampung, kucoba napak tilas tempat-tempat bermain, merumput, belajar ngaji, belajar di Madrasah, kegiatan keagamaan di Masjid, dan berkumpul dengan teman sebaya. Terutama, permainan favorit saat bulan purnama adalah sodoran.

Kampungku seperti erus, dikelilingi perbukitan. Sekitar 46 tahun yang lalu saat tengah hari (siang bolong), saya melihat langsung ada kemamang, semacam api yang merambat di gampeng, perbukitan batu. Begitu melihat hal yang nyata, kami bersama teman langsung lari sipat kuping, balik ke perkampungan dengan melewati jurang dan perbukitan.

Begitu pula, beberapa hari yang lain, di lereng bukit lainnya. Kami mendengar suara orang yang sedang melahirkan, langsung kami kabur. Tentu, waktunya sama tengah siang. Karena biasanya jam-jam tersebut kami sudah pulang dari Madrasah. Biasanya bersama teman-teman mencari mentor yang jatuh, tentu miliknya orang lain. Harga mentor saat itu 11 butir Rp. 25., lumayan untuk uang jajan sekolah.

Sekarang, bukit-bukit itu sudah rata. Pembangunan jalan tol Surabaya-Jakarta telah menghancurkannya. Tetapi, masyarakat di kampung menyukainya karena yang dijual tanah berbukit. Setelah tanah rata mereka dapat menjadikannya sebagai tegalan atau sawah. Perubahan fisik perkampungan rupanya juga berdampak terhadap pola relasi sosial anak-anak dengan alam sekitarnya.

————-

Sepertinya tidak mudah untuk menentukan faktor dependensi dan independensi antara perubahan fisik dengan perubahan sosial. Perubahan fisik suatu kampung mempengaruhi perubahan pola relasi sosial dan/atau sebaliknya. Mirip dengan sulitnya menentukan mana yang lebih dulu antara telur dengan ayam. Tetapi, yang pasti keduanya memiliki sifat saling mempengaruhi.

Saat itu, sebelum berdirinya pabrik-pabrik di sepanjang jalan Jetis, Wringin Anom sampai Sepanjang, pola relasi sosial anak-anak mengikuti pola permainan tradisional, merumput, dan sesekali naik ke perbukitan. Bahkan, di saat musim hujan bermain seluncur layaknya di pegunungan salju menggunakan pelepah daun Jambe di perbukitan sumber garam di pinggiran kampung.

Industrialisasi mulai tumbuh secara massive sejak tahun 1990an di Daerah tersebut menyebabkan pola relasi sosial anak-anak menjadi berubah. Anak-anak tidak banyak, bahkan tidak ada yang mau membantu orang tua merumput dan melakukan permainan tradisional. Pembangunan pabrik-pabrik menjadikan orientasi anak-anak lulus sekolah langsung bekerja di pabrik.

Perubahan zaman terus mengalami percepatan. Pada awal industrialisasi anak-anak lulusan sekolah menengah pertama dapat diterima di pabrik. Sepanjang tahun tersebut anak-anak tidak banyak yang melanjutkan sekolah sampai perguruan tinggi, tetapi juga karena faktor ekonomi orang tua. Setidaknya pilihan pragmaatis anak-anak mulai tumbuh, berkembang, dan menjalan kesemua anak-anak muda belia.

Sekarang sudah sangat berbeda. Pemerintah telah melakukan perubahan besar dalam rekrutment tenaga kerja. Jika sebelumnya rekrutmen tenaga kerja dilakukan langsung oleh lembaga/pabrik, maka melalui UU ketenagakerjaan nomor 13 tahun 2003 rekrutmen disubkontrakkan kepada pihak ketiga (outsourcing). Sementara, persyaratan ke pabrik harus lulusan sekomah menengah atas.

Perubahan syarat rekrutmen pabrik demikian ini menyebabkan anak-anak yang awalnya mengandalkan ijazah sekolah menengah pertama, harus antri mengikuti sekolah kejar paket C. Beberapa teman yang fokus di yayasan belajar kemudian menambahkan program sekolah kerjar paket C atau marak mengikuti sekolah terbuka (kelompok belajar). Inilah fenomena yang saya sebut sebagai degradasi ijazah.

Sebetulnya degradasi ijazah tidak hanya dialami oleh anak-anak Indonesia. Di semua negara lainnya juga mengalami hal yang sama. Karena itu, sebaiknya anak-anak perlu membekali beberapa pengetahuan, ketrampilan dan apa saja yang dibutuhkan 5-10 tahun kedepan. Mempersiapakan diri untuk hidup dan kehidupan ke depan merupakan suatu keniscayaan, agar tetap survive. begitulah, perubahan selalu bersifat alamiah dan pasti terjadi. Cak Nur

 

 

 

 

 

 

 

 

Bersahabat dengan Alam

0

teradesa.com. Perjalanan ini sengaja menggunakan sepeda motor. Saya paling suka, karena dapat menyasar daerah-daerah yang tidak mungkin menggunakan kendaraan lainnya. Perjalanan di daerah puncak Pagerwojo dan Sendang lebih menyenangkan dibanding di daerah selatan, sepanjang jalur lintas selatan, terutama bagian timur…Gersang.

Banyaknya air laut di daerah ini, sampai saat ini belum dapat dimaksimalkan untuk kepentingan pertanian dan pemenuhan kebutuhan sehari-hari masyarakat sekitar. Melimpahnya air laut sebetulnya berkah, jika dikelola dengan baik, yakni merubah dari air asin menjadi air tawar. Teknologi ini sebetulnya sudah aplicable hanya saja Pemerintah belum melihatnya sebagai peluang.

Di beberapa wilayah Selatan, misalnya di Wonotirto, Pucanglaban, Besuki, Watulimo, dan Munjungan air laut masih sebatas digunakan untuk tambak udang. Pemanfaatan seperti ini hanya menguntungkan pengusaha dan sedikit pamasukan APBD. Perlu ada usaha maksimal lagi, agar selain digunakan untuk tambak, ditambah usaha untuk merubah menjadi air tawar agar bermanfaat bagi masyarakat sekitar.

Selain itu, perlu ada usaha perintisan rekayasa melimpahnya air pada saat musim hujan untuk pengairan di saat musim kemarau. Misalnya pembuatan terowongan niama di Sidem mampu mengatasi masalah banjir di Kota Tulungagung. Tetapi pelimpahan air yang bersumber dari pegunungan Pagerwojo dan Sendang ini terbuang percuma, bahkan banyak membawa sampah perkotaan ke dasar laut. Sementara, masyarakat sekitar masih membutuhkan untuk kebutuhan pengairan pertanian.

—————

Cerita di atas hanyalah contoh kecil gambaran bagaimana manusia dapat bersahabat dengan alam. Memang sudah seharusnya kita merubah mindset menjadikan alam sebagai sahabat/mitra. Ada semacam perubahan pola pikir tentang posisi alam dihadapan manusia. Misalnya pada era tradisional alam dimaknai sebagai tempat para dewa karenanya dikultuskan. Sementara, pada era modern alam dijadikan sebagai objek pembangunan.

Dampak dari mindset demikian menimbulkan trend masalah besar krisis lingkungan yang dihadapi masyarakat adalah kekeringan dan banjir. Hal demikian setidaknya disebabkan oleh dua hal. Pertama, masalah-masalah lingkungan hidup yang disebabkan oleh kemiskinan ditambah dampak konsentrasi penduduk. Kedua, masalah perusakan dan pengotoran lingkungan hidup yang diakibatkan oleh proses pembangunan.

Baiklah, disini saya hanya akan menganalisis problem kepadatan/konsentrasi penduduk yang berdampak pengotoran dan kerusakan lingkungan. Terkonsentrasinya penduduk pada kota-kota tidak dapat terhindari selama Pemerintah belum memecah kota administrasi dan pusat bisnis. Kebanyakan kota-kota besar di Indonesia, selain berfungsi sebagai pusat administrasi pemerintahan, juga berfungsi sebagai pusat bisnis.

Tidak bisa dipungkiri bahwa urbanisasi menjadi trend baru. Urbanisasi yang tiada henti, dari satu generasi ke generasi berikutnya akan berdampak pada beberapa problem pengikut. Misalnya banjir, kotor, dan tidak sehatnya air bersih/rumah tangga. Semakin banyaknya jumlah penduduk, maka mau tidak mau pemerintah perlu menyediakan rumah dan/atau apartemen. Dengan demikian pembangunan perumahan dan perkantoran menjadi suatu niscaya.

Dampak lanjutannya adalah layanan kota (municipal service), seperti penyediaan listrik, pengambilan dan penumpukan sampah, riolering (drainage system, sewers), air leding, transportasi untuk masyarakat umum. Gambaran ini hanyalah sebagian kecil poblem masyarakat perkotaan. Belum lagi ditambah masalah pengangguran, kekurangan perumahan, kekerasan, dan narkoba dll.

Pembangunan kota yang tidak terencana akibatnya tidak mungkin dapat menampung luapan air di musim hujan. Pembangunan drainase tradisional, yang hanya berfungsi untuk mengalirkan air, sekarang tidak lagai relevan. Perlu ditambah biopori dalam drainase. Masyarakat perkotaan juga perlu diwajibkan untuk membuat biopori sebanyak-banyaknya di pekarangan/halaman rumah.

Ditempat lain, di daerah perdesaan dan pegunungan juga menghadapi problem yang hampir mirip. Kemiskinan yang menyelimuti kebanyakan masyarakat di daerah ini memungkinkan melahirkan sikap acuh dan pengrusakan hutan menjadi lahan pertanian. Sudah menjadi pemandangan umum bahwa misalnya di daerah selatan Tulungagung ratusan hektar hutan disulap menjadi tanaman tebu dan jagung.

Perubahan pemanfaatan hutan menjadi lahan pertanian dan perikanan akan berdampak pada ancaman banjir dan kekeringan. Sementara, kemungkinan akibat pembangunan Bandara Kediri dan ambisi Pemerintah untuk pembangunan jalan lingkar wilis akan menjadi ancaman terhadap hutan lereng Wilis yang sekarang menjadi satu-satunya hutan yang sangat menyejukkan.

Sudah dapat kita pahami bahwa sekarang dan ke depan perlu dibangun keserasian antara manusia dengan alam. Keserasian yang dimaksud di sini adalah pentingnya membangun “rasa”, yaitu induk penglihatan dan pemikiran kita, bahkan tidak bisa lepas dari intuitif, ekspresif dan estetis manusia serta kemampuan untuk berkomunikasi secara non-verbal. Rasa, bahwa manusia hakikatnya tidak bisa hidup tanpa kesempurnaan alam. Maka, tugas manusia adalah membangun lingkungan fisik dan nonfisik yang ramah lingkungan alam.  Salam satu jiwa dengan alam. Cak Nur.

 

 

Ilusi Perubahan

0

teradesa.com. Liburan kali ini saya sempatkan mengunjungi seseorang yang saya anggap sebagai kakek. Dia berada di suatu tempat, pegunungan, tempatnya asri. Rumahnya sangat sederhana, untuk tidak menyebutnya sangat tidak layak. Lingkungan alamnya sangat menyenangkan, hijau alami, ada aliran sungai kecil yang deras, airnya sangat bening.

Tentu, tumbuhan, rumput dan bunga tumbuh liar. Ohya, di pekarangan belakang rumahnya terdapat ternak ayam kampung dan kambing. Tiap hari kakek, sejak beberapa tahun lalu kukenal ya hanya merumput untuk ternak kambingnya. Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari dari menjual ayam dan kambing.

Seperti biasanya, saat berkunjung ke rumahnya. Saya selalu membawakan mbako yang kubeli dari pasar langgananku. Dia memang perokok berat, tetapi ngelinting sendiri. Katanya tidak cocok dengan rokok yang sudah jadi. Saya seh asyik saja ngobrol dengannya sambil merokok, meski saya sendiri tidak merokok.

Hidup dan kehidupannya tidak pernah berubah, yang berubah hanyalah usianya, yang semakin menua. Jika berbicara sangat berapi-apai sambil mengebulkan uap rokoknya. Dia bercerita bahwa sampai sekarang ia mengalami beragam masa pemerintahan; penjajahan, orde lama, orde baru, orde reformasi dan post reformasi. Baginya, tidak ada bedanya, tetap saja seperti ini hidupnya.

—————

Hakikat dari perubahan adalah ilusi bagi kebanyakan kelompok masyarakat yang tidak memiliki akses politik, seperti si kakek ini. Dan, sebaliknya, perubahan adalah fatamorgana bagi sebagian masyarakat shadow, yang terbuai oleh efek politik dalam dunia maya. Sementara, perubahan adalah fakta bagi komunitas kecil yang memiliki akses politik dan ekonomi.

Perubahan hidup dan kehidupan seseorang hakikatnya tidak dirubah oleh seorang pemimpin, atau oleh apapun diluar individu yang bersangkutan. Hanyalah kita sendiri yang bisa merubahnya. Patut kita renungkan hadis Nabi saw bahwa kita sendirilah yang dapat merubah hidup kita. Perubahan hidup tidak banyak tergantung dari luar kita.

Perubahan yang dilakukan oleh pemimpin, misalnya pemimpin politik-Negara adalah menciptakan regulasi dan fasilitas umum negara-masyarakat. Fasilitas-fasilitas umum, baik berupa fisik maupun kebijakan dalam bidang pendidikan, kesehatan, ekonomi dan sosial budaya tidak serta merta dapat merubah kehidupan individu tanpa usaha yang bersangkutan.

Fasilitas dan kebijakan dalam berbagai bidang di atas tidak ada yang diberikan pemerintah secara gratis kepada masyarakat. Semuanya, lagi dan lagi, individu bersangkutan yang harus mengusahakan. Misalnya, pendidikan, trend-nya lembaga yang bermutu biaya sekolah semakin tinggi. Kesehatan, masyarakat “dipaksa” ber-iuran BPJS. Kebijakan ekonomi dijalankan secara liberal bahkan lebih liberal dibandingkan dengan negara-negara liberal sekalipun.

Setiap individu hanya harus terus belajar berdamai dengan keadaan masing-masing. Kebijakan dan fasilitas umum adalah kondisi eksternal yang disiapkan oleh pemerintah, lembaga, dan masyarakat untuk umum. Untuk dapat mengaksesnya diperlukan kemampuan (kondisi internal) yang mencukupi. Jika tidak mampu, lagi-lagi individu harus berdamai untuk tidak mengaksesnya.

Individu perlu selalu belajar mensiasati kemampuan internalnya untuk dapat mencapai tujuan hidupnya masing-masing. Seperti yang dialami kakek, hidupnya tidak perlu muluk-muluk. Baginya kebahagiaan bukan terletak pada kepemilikan materi, tetapi terletak pada apa yang dipikirkan dan diresapi dalam hatinya. Setiap hari jika sudah ada persediaan untuk makan, merokok dan minum kopi, baginya sudah cukup.

Hidup adalah proses belajar yang tiada henti, karena setiap orde pemerintahan memiliki tantangan yang terus harus ditundukkan sendiri. Pemerintah tidak pernah hadir dalam setiap solusi individu masyarakat. Kebijakan pemerintah dan fasilitas umum dalam berbagai aspek kehidupan hanya dapat diakses oleh orang-orang yang memiliki hak privileged.

Masyarakat beserta rona-rona yang ada didalamnya hanyalah beckground kehidupan. Bagi orang-orang yang berkecukupan dan memiliki akses politik, maka beckground itu tampak indah, bahkan ingin sekali berlama-lama di tempat tersebut. Tetapi, bagi yang lain belum tentu indah. Maka keindahan kehidupan bukan terletak beckgorund-nya, tetapi keindahan hidup terletak pada “rasa” diri.

Tugas kita semua adalah hendaklah terus hanya belajar dari setiap perubahan kondisi eksternal kita, untuk selalu mampu menyesuaikan dengan kemampuan kondisi internal kita. Selain itu, memang kewajiban kita adalah  selalu belajar untuk dapat eksis dalam mengoptimalkan peran dan potensi agar dapat menjadi diri yang wajar. Cak Nur

 

Belajar dari Orang Pinggiran

0

teradesa.com. Saya sangat sadar bahwa kalimat-kalimat berikut masih bersifat debateble. Bukan saja karena ujung dari tulisan ini, selain bertujuan untuk menarik kembali netralitas makna radikalisme, yang sudah kadung dianggap negatif. Tetapi, juga untuk mengasah kesadaran kritis untuk melihat realitas secara obyektif.

Dalam suatu pelatihan yang kami lakukan beberapa tahun lalu, yang diikuti oleh beberapa kelompok masyarakat pinggiran. Misalnya pengurus lokalisasi, wanita pekerja seks (WPS), anak jalanan, pecandu narkoba, komunitas gay dan waria. Dan, pemilik cafe yang tergabung dalam komunitas PAWAHITA.

Secara garis besar pandangan-pandangan mereka tentang realitas obyektifnya mendasarkan pada pikiran atau refleksi kesadaran obyektif. Misalnya muncul pandangan mencita-citakan anaknya untuk nyantri di pondok pesantren, merasa tidak punya hak atas tubuhnya sendiri, ingin bebas dari ketergantungan napza, dll.

Kesadaran obyektif perlu saya garis bawahi. Ini, menjadi faktor signifikan pentingnya menarik kembali makna radikalisme ke titik obyektif (nol/0), bahkan positif. Akhir-akhir ini memang radikalisme dipahami sebagai sesuatu yang negatif. Bahkan, pada kelompok tertentu memerangi radikalisme, tetapi justru menontonkan wajah radikal pula. Tidak suka radikal tetapi ia menujukkan sikap radikal. Jeruk minum jeruk.

Radikalisme yang didasarkan pada berkesadaran obyektif justru akan melahirkan sikap kreatif dan positif. Dalam suatu kongres yang diikuti oleh anak-anak pecandu napza seluruh Indonesia yang dilaksanakan di gedung PKBI di Jakarta, ketepatan saya ikut. Semuanya satu suara bahwa mereka adalah korban (victim).

Pemakai narkoba adalah korban (victim). Kesadaran obyektif ini diungkapkan dalam beragam gaya kreatifnya anak-anak muda. Untaian kalimat dan statemen dalam suatu diskusi kongres, menurutku mencerminkan perspektif baru. Atraksi drama bercampur puisi bernada kritis sosial. Beragam coretan ungkapan kritis dalam kaos yang dijual, dll.

Mereka menggugat penguasa yang lebih suka bermain mata, bahkan terang-terangan berselingkuh dengan bandar besar. Dan, memusuhi pemakai. Dalam kongres itu, mereka juga mengkritisi undang-undang produk perselingkungan pemerintah, legislatif dan “pengusaha” narkoba. Tetapi-pun demikian, suara kritis mereka hanya terdengar dalam telinga internal komunitas semata.

Para WPS juga memiliki kesadaran kritis. Ia tidak lagi memiliki hak atas tubuhnya sendiri. Ya, tubuh mereka dikuasai oleh pembeli, para kiwir-nya (pacar). Subyek lokalisasi tidak lagi WPS, tetapi pengurus lokalisasi, pengusaha seks (mami-papi). Lokalisasi menjadi “sawah” baru bagi semua orang yang meggantungkan pendapatannya pada industri ini.

Struktur sosial telah menciptakan WPS sebagai komoditi bisnis dalam pusaran ketidak-berdayaan. Formalisasi kelembagaan lokalisasi semakin menjadikan WPS sebagai obyek yang sepadan dengan barang lainnya. Perasaan, kasih sayang, cinta, harapan, tujuan, emosi dan sisi kemanusiaannya terengguh oleh sistem kontrol yang diciptakan secara sengaja.

Fenomena anak jalanan dan/atau pekerja anak hampir sama. Dalam usia anak yang seharusnya dioptimalkan untuk bertumbuh dan berkembang, tetapi nyatanya tergadaikan (bounded) oleh ketidakberdayaan orang tua mereka. Dari beberapa hasil penelitian, karena ketidakberdayaan orang tuanya tenaga dan anak-anak mereka digadaikan kepada para majikan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Berbeda dengan radikalisme yang ditumbuhkan oleh semangat sektarianisme, justru akan melahirkan radikalisme baru. Lebih dari itu, sektarianisme yang disuburkan oleh fanatisme senantiasa akan bersifat mengebiri kreatifitas, tetapi justru destruktif. Sektarianisme menciptakan mitos-mitos, dan, karenanya dapat menimbulkan alienasi. Banyak contoh, radikalisme yang didasarkan pada sektarianisme, mitos, dan fanatisme kelompok justru melahirkan kekerasan baru.

Sektarianisme, dalam banyak hal justru mengebiri kebabasan. Kebebasan adalah ciri utama manusia sejati. Seseorang pasti akan mengusahakan dirinya bebas. Bebas dalam berfikir, bebas dalam bersikap, dan bebas dalam bertindak. Kebebasan diri akan melahirkan jiwa, sikap, dan bertindak secara kritis. Kesadaran kritis inilah yang dicitakan bersama agar dapat melahirkan tatanan sosial yang baik.

Kesadaran kritis pada puncaknya dapat melahirkan tindakan radikal dalam makna positif. Kesadaran kritis, inilah yang mendasari bersatunya anak-anak muda dari seantero Indonesia untuk menyatukan cita dalam bingkai sumpah pemuda. Sumpah pemuda itulah yang selanjutnya menjadi inner force  anak-anak mudah segera memerdekan bangsa dari penjajah. Kesadaran kritis, itulah yang mendasari sebagian anak jalanan dan WPS merubah perilakunya.

Radikalisasi dalam makna demikian ini mencakup peningkatan keyakinan terhadap posisi yang telah dipilih seseorang. Meminjam istilah penyanyi, Suliyana “sadar posisi”. Dengan demikian, keterlibatan yang semakin jauh dalam usaha untuk mengubah realitas yang konkrit dan obyektif. Sebaliknya, sektarianisme, karena membangun mitos-mitos dan irasional, maka dapat memblikkan realitas menjadi sebuah “realitas” palsu. By Nur

 

 

 

 

Legacy Pendidikan Soeharto

0

teradesa.com. Pembaca semua pasti tahu, dan ingat Presiden kedua RI, yaitu Soeharto. Sejak kejatuhan pemerintahannya di tahun 1998, nama Soeharto agak jarang dibincangkan. Padahal, sejak tahun 1967 ia telah menjabat sebagai orang nomor satu di Indonesia.

31 tahun, tentu waktu yang cukup panjang untuk mewariskan (legacy) pemikiran, dedikasi, dan kerja-kerja untuk umat dan bangsa di Indonesia. Sepanjang itu, sekiranya ada kekurangan dan kelebihannya yang dapat kita kenang dan kita rasakan sebagai dampak langsung maupun tidak langsung dari kebiajakan pembangunan.

Tulisan ini hanya dibatasi untuk memotret dan sedikit menguraikan kebijakan, program dan pembangunan di bidang pendidikan. Kebijakan merupakan dasar dari semua program dan kegiatan dalam suatu pembangunan. Kebijakan-kebijakan pemerintaham orde baru selalu dituangkan dalam ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) 5 tahunan.

Setidaknya terdapat empat kebijakan mendasar pada era Soeharto. Pertama, penyediaan pendidikan agama di sekolah-sekolah. Sebagai implementasi sila pertama dari Pancasila, Soeharto selalu menekankan pengajaran pendidikan agama di sekolah sesuai keragaman agama murid-muridnya.

Diversifikasi pengajaran pendidikan agama sudah dikenalkan di era ini. Sekolah-sekolah harus menyediakan guru agama yang berbeda-beda sesuai agama murid-muridnya. Sampai sekarang kebijakan ini masih tetap dijalankan oleh semua sekolah. Bahkan, murid yang sekolah di yayasan agama tertentu juga harus menyediakan guru agama yang sesuai keragaman muridnya.

Kedua, penyelenggaraan kegiatan ekstrakurikuler yang menanamkan moral dan etika. Kegiatan ekstrakurikuler di sekolah cukup beragam. Misalnya pramuka, drumband, kelompok pengembangan bakat-minat, organisasi osis, dll. Guru pembina pada kegiatan-kegiatan ini harus memasukkan kurikulum tentang moral dan etika dalam pergaulan bersama di sekolah dan masyarakat.

Materi moral dan etika tidak hanya bersifat teori, tetapi pada umumnya adalah penerapan langsung dalam setiap program dan kegiatan kelompok belajar ekstrakurikuler. Pengetahuan tentang moral-etika didapatkan murid melalui mata pelajaran keagamaan. Sedangkan, implementasi pengetahuannya dipraktikkan dalam kegiatan ekstrakurikuler.

Ketiga, pendidikan untuk semua (education for all). Pemerintah menyadari bahwa masyarakat Indonesia sangat kompleks. Baik pada aspek ekonomi, sosial, geografi, maupun sosial-budaya. Oleh karenanya sekolah harus dapat dijangkau oleh semua anak. Di desa-desa terpencil sekalipun didirikan Sekolah Dasar Negeri Inpres, atau kelompok belajar. Guru mendatangi murid-murid, terutama di daerah pelosok/terpencil.

Keempat, akselerasi pembangunan sekolah dasar dan menengah. Pada awal kebijakan ini muncul, setiap Desa minimal terdapat satu sekolah dasar dan setiap Kecamatan terdapat satu sekolah menengah pertama. Pembangunan sekolah-sekolah ini sangat tergantung pada topografi Daerah/Kecamatan. Kelanjutan kebiajakn ini adalah pada umumnya pembangunan Sekolah Dasar setiap Desa dibangun dua Sekolah Dasar Negeri (SDN) dan dua Sekolah Menengah Pertama Negeri (SMPN).

Kebijakan pendidikan di atas pada hakikatnya didasarkan pada pemikiran pendidikan Presiden Soeharto. Dari berbagai referensi yang penulis dapatkan, setidaknya terdapat empat pemikiran pendidikan Presiden Soeharto di era orde baru.

Pertama, pendidikan adalah kunci untuk pembangunan ekonomi dan sosial. Pada negara-negara maju lainnya, pendidikan merupakan program pembangunan utama. Bahkan, di negara-negara Eropa anak-anak dapat bersekolah dan kuliah secara gratis. Hal ini karena terdapat kesadaran bersama bahwa pendidikan kunci pembangunan suatu bangsa. Makanya pemerintah menyediakan biaya penuh untuk pendidikan masyarakatnya.

Kedua, pendidikan adalah hak asasi manusia. Setiap manusia dilahirkan dengan memiliki potensial untuk tumbuh dan berkembang. Perkembangan seseorang selalu mengarah pada aspek non-fisik, seperti; emosi, pemikiran, moral dan pengetahuan. Sedangkan, pertumbuhan mengarah pada aspek fisik. Kedua potensial ini dapat ditumbuh-kembangkan melalui pendidikan yang berkualitas.

Ketiga, pendidikan harus dapat dijangkau oleh semua orang. Kewajiban pemerintah adalah menyediakan sekolah-sekolah yang dapat dijangkau oleh masyarakat. Keterjangkauan untuk sekolah ini bermakna dua, yaitu; terjangkau biaya dan terjangkau lokasi. Sekolah-sekolah harus didekatkan pada masyarakat pengguna. Dan, sekolah-sekolah tidak boleh membebani masyarakat. Karenanya, pemerintah memberikan biaya subsidi pendidikan.

Keempat, pendidikan harus berkualitas. Pendidikan yang berkualitas merupakan instrumen utama untuk menghasilkan lulusan yang hebat. Kualitas pendidikan dapat meliputi; insfrastruktur dan suprastruktur sekolah. Infrastruktur sekolah meliputi bangunan fisik, tata letak sekolah, fasilitas pembelajaran. Sedangkan, suprastruktur sekolah meliputi budaya sekolah, hubungan harmoni antar unsur sekolah, ekstrakurikuler, dll.

Dan, dari semua pemikiran dan kebijakan di atas, yang tidak kalah pentingnya dari legacy Presiden Soeharto adalah program wajib belajar 9 tahun. Program ini mulai dilaunching pada tahun 1994. Tujuan utama program ini adalah untuk memastikan bahwa setiap anak Indonesia memiliki kesempatan yang sama untuk mengenyam pendidikan dasar.

Wajib pendidikan tidak lagi hanya sekolah enam tahun (lulus SD), tetapi wajib melanjutkan pada jenjang sekolah menengah pertama (SMP). Semua anak-anak di Indonesia, yang awalnya hanya wajib sekolah sampai SD (6 tahun), harus/wajib ditingkatkan sampai lulus SMP (plus 3 tahun). Makna pendidikan dasar berubah dari hanya sekolah dasar (SD) tetapi SMP merupakan bagian dari sekolah dasar. By Nur

Keteguhan Cinta

0

teradesa.com. Pada hakikatnya tidak seorang-pun yang tidak pernah mendapat cobaan, kesedihan, kesulitan, dan kekurangan. Begitu pula sebaliknya, tidak seorang-pun yang tidak pernah merasakan kebahagiaan, kelapangan, dan kegembiraan.

Kesulitan-kemudahan, kesempitan-kelapangan, kesukaran-kemudahan, kesedihan-kegembiraan selalu datang silih berganti. Kesempitan pasti ada ujungnya, begitu pula kelapangan juga ada ujungnya. Tetapi ujung keduanya tidak bersifat final. Selalu ada kesempitan dan kelapangan yang baru.

Kehidupan setiap individu manusia selalu dinamis, karena memang hakikat dari hidup adalah dinamis. Setiap fenomena materi yang hidup selalu dinamis. Bahkan immateri yang melekat pada materi juga dinamis. Misalnya, pikiran seseorang (immateri) karena ia menempel pada materi (jasad manusia hidup), maka pikiran itu dinamis.

Setiap yang jasadi (materi) selalu menampakkan pertumbuhan dan perkembangan. Baik, aspek kualitatif maupun kuantitatif. Manusia, hewan, tumbuh-tumbuhan selalu mengalami pertumbuhan dan perkembangan yang mengarah pada perubahan struktur pertambahan dan pengurangan (kuantitatif). Manusia juga selalu mengalami perubahan menjadi lebih pinter, sehat, dewasa dan bermoral (kualitatif).

Dinamika internal ini juga terkait secara langsung maupun tidak langsung dengan dinamika di dunia eksternalnya. Kisah Siti Asiyah Binti Muzahim, istri Fir’aun misalnya, ia tetap beriman dan bertaqwa kepada Allah swt, meski suaminya orang yang paling dzalim dan durhaka kepada Allah swt.

Menurut Ibnu Jarir bahwa suatu ketika Siti Asiyah Binti Muzahim disiksa dibawah terik matahari oleh Fir’aun. Kemudian Fir’aun meninggalkannya sendiri dalam terik-panasnya matahari, Malaikat menutupinya dengan sayapnya dan ia melihat rumahnya didalam surga. Rumah itu jauh lebih indah dibanding dengan rumah yang dibangunkan oleh Fir’aun.

Kesaksian Siti Asiyah Binti Muzahim ini merupakan bentuk respon dari doa yang selalu dimunajatkan setiap hari sebagaimana diabadikan didalam QS. At-Tahrim/66: 11, “Ya Tuhankubangunkanlah untukku sebuah rumah di sisi-Mu dalam surga dan selamatkanlah aku dari Fir’aun dan perbuatannya, dan selamatkanlah aku dari kaum yang dzalim”.

Doa-doa yang dipanjatkan oleh Siti Asiyah Binti Muzahim ini merupakan wujud cintanya kepada Allah swt, meski ia dikelilingi oleh tumpukan harta dan kehormatan duniawi. Kekayaan dan kehormatan di dunia ini tidak sebanding dengan kehormatan dan kemulyaan di sisi-Nya.

Kenyataan yang kita alami di dunia ini; dalam wujud kesulitan-kelapangan dan sebagainya hakikatnya adalah wujud pembelajaran bagi setiap manusia agar dapat tumbuh dan berkembang menjadi lebih dewasa, bermartabat dan bertaqwa. Maka, selalu bertemu, berkumpul dan berdiskusi dengan orang-orang yang dapat meneguhkan kebaikan adalah kewajiban kita semua.

“Ya Allah aku memohon curahan cinta-Mu dan kecintaan orang-orang yang mencintai-Mu, serta mohon curahan amal yang dapat menghantarkan diriku mencintai-Mu. Ya Allah, jadikanlah kecintaan kepada-Mu lebih tertanam dalam jiwaku melebihi kecintaanku kepada diri sendiri dan keluargaku”. (Imam Nawawi, 1987: 398) Riyadus Sholihin, Darrurayyan li turats.Cak Nur

Cinta dan Kebaikan

0

teradesa.com. Keduanya; cinta dan kebaikan merupakan bagian dari kategori positivity, yang tidak hanya dimiliki manusia tetapi juga makhluk lainnya (kesemestaan). Guru mencintai murid dan sebaliknya, orang tua mencintai anak dan sebaliknya. Petani mencintai tanaman dan sebaliknya. Peternak mencintai hewan ternak dan sebaliknya.

Cinta selalu menghadirkan kebaikan, tetapi tidak selalu sebaliknya—kebaikan mesti menghadirkan cinta. Dalam sebuah hadis Qudsi bahwa Allah swt sebelumnya adalah dzat yang sendiri dan memiliki 100 rahmah (kasih sayang, cinta), maka diciptakanlah makhluk (termasuk manusia) agar ia dapat menerima luberen rahmah itu.

Seseorang yang mencintai lainnya akan selalu menghadirkan kebaikan, kehangatan dan kebahagiaan bagi yang dicintainya. Orang tua yang mencintai anak-anaknya, maka ia akan selalu berusaha membahagiakan anak-anak dengan cara apapun—halal atau haram. Petani yang mencintai tanamannya, ia akan selalu merawatnya secara baik. Dan, karena cinta-Nya, maka Ia selalu menghadirkan kebaikan (rizki) bagi setiap makhluk-Nya.

Irfan (18/11/2023) nekat mencuri alat-alat rumah tangga, dan sepeda motor agar ia dapat membelikan susu anaknya. Kejadian ini bergulir ke ranah hukum dan sempat dihentikan oleh kejaksaan berdasarkan kebijakan restorative justice, setelah dapat didamaikan antara pelaku dan korban. Bahkan, banyak diantara orang tua yang bekerja keras siang malam di rantau untuk belanja kebutuhan keluarganya.

Cinta itulah yang menjadi energi untuk lahirnya suatu tindakan dan kebaikan. Cinta itu yang menggerakkan Allah swt menciptakan semua makhluk. Cinta itu yang menggerakkan orang tua selalu bersemangat dalam bekerja. Cinta itu yang menggerakkan para petani bercocok tanam. Cinta itu yang menggerakkan para peternak bertahan dalam suka duka. Dan, cinta itu yang menggerakkan guru dalam mengajar.

Tetapi sebaliknya, kebaikan tidak selalu dapat menghadirkan cinta. Semua kesemestaan diciptakan untuk saling menghadirkan kebaikan. Keindahan alam semesta adalah pantulan kebaikan-Nya. Ritme dan rotasi planet-planet semesta adalah gerakan kebaikan. Denyutan jantung manusia dan hewan, sinar matahari,  lambaian dedaunan, liukan pohon yang terterpa angin adalah kebaikan.

Kebaikan-kebaikan demikian merupakan luberan kebaikan Allah swt dalam bentuk tanazzul-Nya. Tanpa luberan itu, kesemestaan ini tidak akan menghadirkan kebaikan bagi diri dan lainnya. Setiap saat matahari menghadirkan kebikan bagi semua unsur semesta. Tanaman menghadirkan kebaikan bagi manusia. Manusia menghadirkan kebaikan bagi semua tanaman dan tumbuhan. Dan, antar manusia juga saling menghadirkan kebaikan.

Kebaikan selalu berdimensi ganda, karenanya dapat hadir bagi/untuk apapun dan siapapun. Kebaikan seseorang harusnya dilakukan untuk siapapun dan kapanpun. Kebaikan matahari berlaku untuk semua makhluk. Kebaikan tanaman hadir untuk siapapun dan apapun yang dapat menjangkaunya. Kebaikan barang untuk siapapun dan apapun yang dapat memanfaatkannya.

Sementara, cinta berdimensi ganda, tetapi ia harus dapat hadir untuk hanya pada satu. Terdapat dimensi cinta dunia dan akhirat. Cinta harta dan benda. Cinta perempuan dan laki-laki. Cinta nafsu dan kebaikan. Tetapi cinta-cinta yang demikian seharusnya hanya diarahkan untuk mencintai seseorang atau barang hanya karena Allah swt. Begitulah keniscayaan cinta.

Berbeda dengan cintanya Allah swt. Keniscayaan cinta manusia hanya diarahkan untuk satu. Sedangkan cintanya Allah swt berdimensi satu, tetapi diarahkan untuk semua makhluknya tanpa pengecualian. Semua tumbuh-tumbuhan, semua manusia (iman atau tidak beriman), semua hewan (darat, laut, udara), unsur kesemestaan lainnya selalu menerima keniscayaan cinta Allah swt. Karena memang sejatinya Allah swt itu maha cinta. Cak Nur.

- Advertisement -

MOST POPULAR

STUNTING

Multitasking

Dia dan Kita

HOT NEWS