Sumber Norma dan Nilai-Nilai Kemasyarakatan

0
193

teradesa.com.  Setiap perkembangan masyarakat, mulai dari zaman primitif sampai modern selalu ditopang oleh norma-norma dan nilai-nilai yang dianutnya. Norma dan nilai-nilai bersumber dari sistem kepercayaan masing-masing masyarakat dan praktik kemasyarakatan yang berlaku. Sistem kepercayaan pada masing-masing masyarakat berlaku bagi semua orang, ragam bahasa, etnis, suku. Inilah yang kemudian mendasari nilai-nilai universal. Sementara, norma-norma yang bersumber dari praktik sumbyektif komunitas masyarakat hanya mengikat dan berlaku bagi masing-masing komunitas yang bersifat lokalistic. Dengan demikian, norma-norma yang mendasari pengetahuan, sikap, dan perilaku masyarakat dapat bersifat universal dan lokal sekaligus.

Sistem kepercayaan suatu komunitas masyarakat dapat bersumber dari dua hal, yaitu; akal dan al-kitab. Sistem kepercayaan nenek moyang, yaitu Anymisme dan Dynamisme dapat dikelompokkan sebagai yang bersumber dari akal. Begitu halnya dengan agama-agama lainnya yang dikategorikan sebagai agama ardli—semuanya bermuara dari akal. Melalui pengerahan potensi akalnya, pencetus sistem kepercayaan ini mampu mengetahui tuhan. Begitu halnya dengan sejarah sebagian para Nabi, mereka dapat menemukan kebenaran (tuhan) melalui akalnya. Misalnya Nabi Ibrahim a.s, ia dapat menemukan otentik kebenaran melalui proses akal fikirnya. Pertama kali ia meyakini bintang-bintang adalah tuhan, kemudian ragu dan yakin salah, cara demikian berlanjut ke rembulan, matahari, dan berakhir pada keyakinan Tuhan adalah yang menciptakan itu semua.

Potensi akal dan juga semua penginderaan manusia adalah bersifat relatif. Kemampuan akal, oleh karenanya juga bersifat relatif untuk mengetahui suatu kebenaran. Dengan demikian, semua yang dihasilkan oleh indera dan akal manusia adalah bersifat relatif. Apa saja yang dihasilkan dari akal manusia? Banyak, diantaranya adalah tentang tuhan, norma, sistem nilai, ilmu pengetahuan, teknologi, sistem kemasyarakatan-kenegaraan dan lain sebagainya. Inilah yang kemudian diyakini oleh para ilmuwan bahwa pengetahuan yang dihasilkan dari pengalaman, dan ilmu pengetahuan ilmiah yang dihasilkan dari penelitian ilmiah—semuanya bersifat relatif. Meskipun pengetahuan manusia bersifat relatif, tetap saja memiliki fungsi dan manfaat yang besar dalam mendinamisir kemajuan peradaban manusia.

Hasil pengetahuan yang bersumber dari akal manusia berfungsi ganda. Pertama, berfungsi untuk menciptakan norma dan nilai-nilai dalam mengatur kehidupan bersama. Fungsi ini mewujud secara bertingkat, mulai dari bangunan sistem kenegaraan dan kebangsaan, kehidupan bersama dalam keagamaan, dan kehidupan kebersamaan dalam komunitas, dan bahkan berfungsi bagi setiap individu untuk mampu menempatkan diri secara elegan dalam setiap komunitas atau kelompok yang diikutinya. Kedua, berfungsi untuk menghasilkan pengetahuan yang berguna secara praktis dan pragmatis dalam kehidupan individu dan kemasyarakatan. Tidak bisa dipungkiri bahwa ilmu pengetahuan dan teknologi yang ditemukan manusia saat ini mampu meledakkan dan memajukan peradaban manusia. Tentu, ilmu pengetahuan dan teknologi juga berkembang seiring dengan tingkat kemampuan manusia dalam meramu semua unsur pengetahuan dan teknologi yang dihamparkan Tuhan di alam jagad raya ini.

Kedua fungsi pengetahuan akal manusia ini secara integratif mampu menopang dan mendinamisir perkembangan peradaban manusia menjadi satu kesatuan sistem bersama. Fungsi yang pertama menjadi sumber acuan sikap dan aktualisasi kehidupan bersama, sementara fungsi yang kedua sebagai bentuk implementasi perilaku berdasarkan norma dan nilai-nilai yang diacu secara bersama. Puncaknya, kedua fungsi ini berfungsi untuk mengakselerasi dan menyelaraskan antara pengetahuan, sikap, dan perilaku individu dengan sikap dan perilaku yang harus diwujudkan dalam kehidupan berkelompok dan bermasyarakat yang lebih luas. Sampai disini, kita memiliki pandangan bahwa melalui akal manusia mampu menjadikan hidup dan kehidupan menjadi lebih baik berdasarkan norma dan nilai yang ditemukan. Proses kebaikan kehidupan ini dicapai oleh manusia secara kontinue, berkelanjutan, akumulatif dan/atau revolusioner.

Ini yang tidak bisa disangkal bahwa sistem norma dan nilai yang bersumber dari al-Kitab adalah bersifat mutlak kebenarannya. Al-Qur’an misalnya, selain menjelaskan norma-norma dan nilai-nilai yang harus dipraktekkan manusia dalam hubungan individu dengan individu manusia, indvidu manusia dengan alam semesta, juga antara individu manusia dengan Tuhannya. Jika disederhanakan, norma dan nilai ini dapat dikategorisasikan menjadi dua, yaitu ubudiyah (ibadah) dan mu’amalah. Norma-norma dan nilai ini berfungsi untuk membaikkan akhlak individu sekaligus menormalkan dan memperbaiki kehidupan bersama. Norma ubudiyah misalnya mampu memperbaiki akhlak keindividual seseorang terhadap Tuhannya, sementara norma mu’amalah berfungsi memperbaiki akhlak kesosialan yang niscaya dipraktikkan individu dalam kehidupan bersama di masyarakat. #Nur Kholis.

 

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here