Tamu Guruminda

0
51

teradesa.com. Cuaca hari ini kembali terasa panas dan berdebu. Fenomena banyaknya debu akhir-akhir ini memicu penyakit yang banyak menyerang anak-anak. Beberapa kali aku dirawat di Rumah Sakit (RS) melihat sebagain besar dari mereka mengeluh terinfeksi bakteri yang terpapar dari debu. Terutama adalah flu, akibat terinfeksi saluran pernafasan.

Sebagian lainnya lebih parah lagi, infeksinya menjalar ke paru-paru. Dampaknya adalah bronchitis, omfisema, pneumonia, dan penyakit obstruktive kronis. Karenanya, senyampang tidak ada kepentingan sangat penting, aku membatasi keluar rumah. Selain itu, aku masih belum yakin diriku sudah aman.

Akhir-akhir ini banyak preman yang membuntutiku ke mana-pun aku pergi. Sebetulnya aku tidak tahu (tidak yakin) mengapa mereka menjadikan-ku sebagai sasaran kejahatannya. Apa hanya karena aku tidak mau menjual tanah peninggalan orang tua yang ada di Desa Sumberarum? Jika ia, mengapa sebegitu ambisinya mereka ingin menguasai tanah tersebut?

Untuk menghilangkan kepenatan, aku menghidupkan radio peninggalan orang tua. Radio ini sudah lama tidak di-on-kan. Maklum sejak orang tua meninggal aku tidak di rumah. Belakangan saja, setelah ditinggal suami, aku memutuskan untuk kembali ke kampung halaman.

Ketepatan stasuin radio FM yang bersih suaranya adalah FM 87,9 MHz BENs the fresh radio. Bagiku radio ini asyik, mendengar namanya mestinya yang diudarakan adalah lagu-lagu Barat, rege, dan POP. Tetapi, di sela-sela pemutaran lagu pop, yang kusuka adalah pembacaan cerita-cerita rakyat yang melegenda. Cerita-cerita demikian sebetulnya mengingatkanku saat masih kecil.

Ibuku selalu membuat cerita-cerita sebelum aku tidur. Cerita yang masih kuingat. Dan, sekarang juga sedang dibacakan oleh penyiar radio BENs, yaitu tentang Lutung Kasarung.

Kata ibu saat itu, “Dahulu hidup seorang pangeran yang sangat tampan bernama Sanghyang Guruminda, tetapi karena ia melakukan kesalahan di Kahyangan. Kemudian ia dihukum dengan dibuang ke bumi dan berubah wajahnya jelek berwujud seekor lutung”.

Ibu dulu memang sangat pandai bercerita, maklum ibu adalah seorang guru TK Darama Wanita, yang berlokasi di samping Gedung Balai Desa. Dari kebiasaan mendapat cerita sebelum tidur itu, sering aku tidak bisa tidur jika tidak didahului cerita dari ibu.

Dari berbagai cerita legenda, yang masih kuingat adalah tentang kecerdikan kancil, dan lutung kasarung ini. Cerita Lutung mengisahkan tentang cinta sejati, kejujuran, dan kebaikan akan selalu membuahkan kebahagiaan. Dan, sebaliknya kesombongan dan perangai jahat seperti yang diperankan Purbararang berbuah kesedihan dan menyedihkan.

Ibu mengakhiri ceritanya, “Lutung bertemu dengan gadis cantik bernama Purbasari, tetapi berubah jelek karena perlakuan saudara jahatnya, Pubararang. Ia juga diasingkan di hutang. Di hutan, Purbasari berteman baik dengan Lutung. Tetapi, saat mau mandi di telaga yang dibuat oleh orang tua Lutung, rupa Purbasari kembali cantik bak bidadari dari Kahyangan. Begitu pula, Lutung berubah wujud kembali menjadi Sanghyang Guruminda”.

Ditengah keasyikan mendengar cerita Radio, dan terpaut lamunan pada cerita-cerita legenda dari ibu. Sontak, aku dikagetkan oleh suara ketukan di pintu rumah. Sebenarnya aku malas menerima tamu, karena takut orang jahat lagi. Tetapi ketukannya tidak berhenti membuatku terpancing untuk membuka pintu.

Aku tidak kenal dia, tetapi cukup baik bicaranya dan sedikit sopan. Ia memberi isyarat untuk dipersilahkan duduk.

Baiklah, silahkan duduk bapak. Maaf, seadanya, kursinya banyak yang rusak”. Kataku, sambil mempersilahkan mereka masuk ke ruang tamu.

Ia tidak sendiri, ada dua orang lain. Tetapi wajahnya agak kasar, sepertinya tidak pernah mandi, kusam, jelak, dan hitam. Berbeda dengan si Sipit ini. Ia berkulit bersih, terawat, dan sedikit cakep—bayanganku seperti Guruminda.

Kenalkan, namaku Lee Chong Min, biasa dipanggil Hendrawan. Tujuanku kesini adalah bermaksud untuk membeli tanah ibu yang di Sumberarum”. Begitu kalimat tanpa basa-basi dari si cakep, Guruminda ini.

Kembali aku menegaskan bahwa tanah itu kapanpun tidak akan aku jual. Sepertinya wajah putihnya, memerah kaget. Lama-lama sikap sopan dan bahasa halusnya mulai berubah kasar. Dan, memaksa. Bahkan merayuku untuk dinikahi segala. Aku semakin risih dan tidak simpatik lagi.

Aku sangat tersinggung dengan pelecehan dan sikap kasarnya. Aku chat adikku, Andika. Dia langsung jawab singkat.

Tahan mereka dulu di rumah, aku segera kesana dengan anggota”. Jawaban adik membuatku semakin percaya diri, dihadapan Guruminda dan lutung-lutung itu.

Tidak lama kemudian, adik datang bersama anggota dan menangkap mereka. Dibawah ke kantor polisi dengan tuduhan pelecehan dan kekerasan.

#6 cerbung, by Cak Nur

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here