Toleransi dalam Keragaman Masyarakat Jahiliah, Indonesia: Perlu Belajar dari Sana

0
304

teradesa.com. Masyarakat Arab dikenal sebagai masyarakat Jahiliah. Penyebutan jahiliah tidak mengarahkan pada makna kebodohan pengetahuan dan teknologi. Karena pada masa itu, mereka sudah memiliki pengetahuan san teknologi tepat guna untuk mendukung mata pencaharian berdagang mereka. Kejahiliaan merujuk pada makna umum, yaitu tidak mengindahkan etika dan norma sosial dan/atau agama Yahudi dan Nashrani.

Kebanyakan mereka sesat dan meninggalkan ajaran agama yang pernah dibawa oleh para Nabi dan Rasul nenek moyangnya, yaitu Nabi Musa as dan Nabi Isa as. Justru mereka mempercayai berhala-berhala yang dibuatnya sendiri. Dan, meyakini dapat memberikan mudlarat dan manfaat bagi kehidupan kesehariannya.

Pada awal dakwah Nabi Muhammad di kota Mekah, strategi dakwah yang digunakan adalah secara sembunyi-sembunyi. Nabi Muhammad melaksanakan dakwah secara sembunyi-sembunyi selama tiga bulan. Pertama-tama Nabi Muhammad saw mendakwahkan agama Islam kepada orang-orang terdekatnya; kepada keluarga besar, dan sahabat karib beliau. Dalam sejaran Islam, kelompok ini dikenal sebagai assabiqunal awwalun.

Ketika perintah dakwah secara terang-terangan turun, Nabi Muhammad saw mengajak masyarakatnya untuk menyembah Allah swt. Kaum kafir Quraisy merasa terganggu, karena kepercayaan mereka mulai dipermasalahkan dan berhala mereka mulai ditentangnya. Untuk itulah, kaum kafir Quraisy berusaha menghalangi dakwah Nabi Muhammad saw dengan berbagai cara.

Antara lain yang dilakukan oleh kaum kafir Quraisy adalah menjelek-jelekkan Islam, menuduh isi al-Qur’an sebagai dongeng-dongeng orang dahulu, dan melakukan penyiksaan terhadap para penganut Nabi Muhammad saw. Tujuannya adalah agar penganut Nabi Muhammad saw meninggalkan al-Qur’an dan dakwah Nabi Muhammad saw.

Kaum kafir Quraisy berusaha menawarkan gagasan untuk menyatukan Islam dan Jahiliah. Misalnya, mereka akan mengikuti ajaran Nabi Muhammad saw tanpa meninggalkan ajaran mereka (QS. al-Kafirun: 1-6). Nabi Muhmmad saw menolak tawaran tersebut secara lunak. Kaum kafir Quraisy semakin marah dan akhirnya melakukan pemboikotan terhadap Nabi Muhammad dan pengikutnya. Puncaknya, Nabi Muhammad memutuskan untuk hijrah ke kota Madinah.

Kedatangan Nabi Muhammad dan pengikutnya di Madinah disambut dengan gembira dan penuh rasa persaudaraan. Setelah sampai di Madinah Nabi Muhammad mendirikan masjid sebagai benteng pertahanan rohani, tempat pertemuan, dan lembaga pendidikan masyarakat umum.

Jika direfleksikan bahwa antara Negara Indonesia dengan jazirah Arab saat itu memiliki kesamaan struktur geografisnya. Jazirah Arab pra-Islam dengan negara Indonesia adalah sama-sama sebagai negara yang terdiri dari suku dan agama yang beragam.

Perbedaan suku, bahasa, warna kulit dan budaya di jazirah Arab tidak menghalangi mereka untuk dapat menjalani hidup bersama dengan penuh toleransi. Sementara, di negara Indonesia, masyarakatnya seringkali menjadikan perbedaan itu sebagai salah satu faktor penyebab timbulnya konflik yang berkepanjangan. Bahkan, kadang tanpa sebab yang jelas mereka melakukan pemberontakan, dan pada akhirnya mencemarkan nama baik mereka sendiri.

Oleh karena itu, masyarakat Indonesia perlu banyak mengambil ibrah yang positif dari negara Arab. Perlu meningkatkan toleransi sosial dan lebih terbuka untuk bermusyawarah dalam penyelesaian konflik. Sehingga tercipta kehidupan bersama, saling membantu, menghormati, dan tidak saling meniadakan satu diantara laiannya. #Sari Hidayati

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here