Waktu

0
260

teradesa.com. Kebalikan dari waktu adalah ruang, tetapi dilain pihak keduanya sejajar bahkan saling membutuhkan. Ruang membutuhkan waktu, dan begitu pula waktu membutuhkan ruang. Tiadanya ruang meniadakan waktu, dan tiadanya waktu meniadakan ruang. Keduanya akan kekal jika ada obyek. Obyek tidak kekal, tetapi ruang dan waktu kekal yang relatif, kekekalan ruang dan waktu tergantung dari kekekalan obyek.

Alam jagad raya (macrocosmis) dan manusia (microcosmic) atau ciptaan Tuhan (mahkluk) adalah obyek dari ruang dan waktu. Selama ada manusia, tumbuh-tumbihan, binatang dan alam semesta, maka ruang dan waktu akan selalu ada. Manusia dan keseluruhan isi alam semesta bersifat dinamis. Ia tumbuh (lahir), berkembang, dan mati—silih berganti satu dengan lainnya. Ia tidak kekal, terbatas oleh ruang waktu sesuai standart kehidupannya.

Entitas macrocosmis dan microcosmis adalah keabadian yang relatif. Sampai berapa ribu tahun ia ada dan membutuhkan ruang dan waktu? Jawabnya relatif. Bahkan mungkin, entitas itu akan sirna pada saat ruang dan waktu berhenti/dihentikan (kiamat). Inilah, letak relatifitas keabadian ruang dan waktu beserta seluruh entitas obyeknya.

Lalu, apakah ruang, waktu, dan obyek akan sirna? Tidak, keabadian relatifnya hanya akan beralih ke ruang yang lain dan dalam bentuk dan dimensi yang berbeda. Oleh karena itu, waktu juga akan mengikuti pergerakan/perubahan ruang. Oleh karena itu, Waktu dapat dibedakan menjadi tiga, ketiganya memiliki sifat relatifitas, yaitu; sarmad, waktu, dan dahr.

Pertama, sarmad. Sarmad adalah “waktu” keabadian yang terkait dengan dzat yang Maha mutlak (Tuhan). Ia tidak berdimensi, tidak terbatas, dan tidak memiliki permulaan dan akhir, ia bersifat mutlak, tetap, dan tidak berubah. Sarmad adalah “waktu” yang melekat pada Subyek (dzat) yang Maha mutlak dan semua ciptaanNya pada alam ruhani, alam jabarut, dan alam akhirat.

Dia yang pertama dan terakhir, Dia yang lahir (dhahir) dan Yang Batin” (QS al-Hadid/57: 3). Dalam sebuah hadis, Nabi saw bersabda, “ada suatu waktu yang didalamnya Allah swt ada dan yang lainnya tidak ada”. Sarmad adalah “waktu” yang ukuran kuantitas rotasinya berbeda dengan waktu (zaman) di dunia. Dalam QS al-Hajj/22: 47 dijelaskan sehari di akhirat setara dengan 1000 tahun di dunia, atau bahkan lebih lama, yaitu 50.000 tahun (QS al-ma’arij/70: 4).

Kedua, waktu/zaman. Waktu hanya berlaku di dunia. Ia memiliki awal dan akhir dan memiliki tiga dimensi, yaitu; waktu yang lalu, waktu sekarang, dan waktu yang akan datang. Siang, malam, detik, menit, jam, hari, pekan, bulan, dan tahun hanyalah waktu untuk mengingat suatu peristiwa saja bagi manusia. Dan, setiap pergilirannya memiliki makna pembelajaran bagi setiap orang yang mau belajar. “Dan masa (al-ayyam) itu Kami pergilirkan diantara manusia (agar mereka mendapat pelajaran)”. (QS Ali Imran/03: 140).

Waktu/zaman memiliki sifat keabadian yang relatif. Abadi karena ia meliputi rotasi/dinamika kerelatifan usia manusia, tumbuh-tumbuhan, dan hewan. Dan, relatif karena ia memiliki batas akhir—sampai semua unsur kimiawi, biologi dan planet tidak mampu berfungsi sebagaimana sunnatullah (hukum alam)nya. Manusia menjadi subyek yang memiliki peran penting untuk mempertahankan keberfungsian semua unsur alam jagad raya (obyek) agar tetap berotasi pada porosnya masing-masing.

Ketiga, Dahr (aeon). Dahr (aeon) adalah keberlangsungan terus menerus di masa mendatang. Dahr memiliki permulaan dan tidak berakhiran (terus menerus). Dahr adalah perpetuitas (perpetuity) atau dapat disebut metawaktu.Dahr beroperasi pada level entitas permanen/tak berubah (al-a’yan a-tsabitah) dari segala sesuatu yang ada di alam semesta, yang terletak diantara level sifat-sifat Allah swt dan aktifitas-aktifitas (ciptaan)-Nya. Nabi saw bersabda, “Janganlah kalian mencela dahr (waktu), karena dahr adalah Allah swt”.

Dahr ini penting untuk menunjukkan bahwa alam semesta ini dan semua entitas didalamnya  tidak abadi, tetapi harus memiliki sifat keabadian sumbernya (dzat Allah swt), karena ia pada dasarnya adalah emanasi atau peleburan (tajalli)-Nya Allah swt, meskipun tidak sama sifat keabadiannya. Oleh karena itu, alam semesta dan keseluruhan isinya tidak abadi (azali). Ia relatif terhadap sarmad, tidak pula baru terhadap waktu/zaman, tetapi baru terhadap dahr. Nur Kholis (LSP Community).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here