Zaman Kacau di Dunia Jalur Cepat

0
268

teradesa.com. Yuk berfikir berbalik sebentar. Apa bedanya antara sebelum dan sesudah ditemukan bohlam lampu? Banyak jawaban mungkin ya. Misal; produktifitas meningkat, waktu menjadi lebih panjang, dunia menjadi indah, teknologi berkembang, dan tentu masih banyak. Bahkan, kita bisa me-list hal-hal yang bersifat negatif.

Setiap temuan teknologi selalu berdampak terhadap perubahan suatu komunitas masyarakat (lokal, nasional, dan global). Pada dekade 1960an, Marshall McLuhan menerbitkan dua buku, yaitu; understanding media, dan diikuti dengan edisi infografisnya yang berjudul the medium is the massage.

Dua buku ini ingin menjelaskan kepada pembaca bahwa media akan atau telah mampu merubah dunia, berubah menjadi lebih baik atau buruk/kacau. Menurut McLuhan, dalam pikiran awalnya, kata “massage” dalam judul bukunya itu yang benar adalah “message”, tetapi penerbit kurang teliti dengan menulisnya menjadi massage. Setelah dihayati, McLuhan meminta pada penerbit untuk membiarkan tetap dengan kata massage (zaman kacau).

McLuhan cukup cerdas membaca kecendrungan zaman. Media menjadi titik balik perubahan sosial, itulah yang sangat diyakini dunia di sampai dekade 1990an. Bahkan pada dekade 2000an ini, setelah ditemukan teknologi internet perkembangan media menjadi sangat dahsyat. Di titik inilah, kita bertemu dengan zaman kacau (mass age). Inilah alasan mengapa McLuhan meminta tetap mempertahankan kata massage dalam judul bukunya “yang salah” itu.

Media online telah merubah gaya belajar dan/atau transformasi informasi. Media online inilah yang menyebabkan kita mengalami luberan informasi (information spill over). Dan, pada puncaknya kita banyak mengalami disorientasi dalam segala aspek kehidupan. Laki-laki ingin jadi perempuan dan sebaliknya, benar disalahkan dan sebaliknya, kekuasaan disalahgunakan, dan akademisi menulis serba copas dan lain-lain. Bahkan, juga disorientasi dalam beragama sekalipun. Dunia telah kacau.

Kekacauan zaman ini bahkan melahirkan generasi, yang oleh Nicholas Carr, disebut orang-orang dangkal (the shallows). Media sosial, seperti whatshap, telegram, facebook, instagram, dll telah menjadikan orang-orang menjadi mekanis. Informasi yang diterima dibaca sekilas bahkan tanpa kesadaran pengetahuan, dicopas, dan disebarkan. Individu menjadi hilang kesadaran ilmu pengetahuannya. Bahkan tidak menyadari dapat menyakiti orang/kelompok lain. Betul, media online telah mendestruksi kesadaran etik masyarakat.

Ini, tidak bermaksud menihilkan manfaat media digital. Tentu, banyak juga manfaat positifnya. Dan, sebagian dari kita mungkin akan berpendapat bahwa dampak (negatif) ini tergantung dari personnya. Betul, ini memang tergantung sikap kritis dalam membaca setiap informasi. Persoan-person-lah aktornya. Namun toh demikian, tetap harus diakui bahwa setiap teknologi mampu merubah masyarakat. Seperti temuan teknologi bahlom telah mampu meningkatkan produktifitas masyarakat.

Pada titik puncaknya, kesimpang-siuran informasi akan menjadi makanan, bahkan menjadi kebiasaan (habit) yang dipertahankan. Budaya dan kebiasaan dalam kesimpang-siuran informasi pada sisi yang lain memang dapat menguntungkan kelompok-kelompok yang menginginkan masyarakat kacau. Dan, mereka memetik keuntungan dari kekacauan itu. Disebarkan beragam informasi melalui berbagai media massa online.

Kekacauan zaman ini juga menyebabkan sulit membedakan siapa produsen dan siapa konsumen informasi. Semua orang atau kelompok dalam waktu bersamaan dapat menjadi produsen, pemilik media, dan sekaligus konsumen informasi. Saat ini, saya menulis, mengedit, mengunggah ke media/web, dan menyebarkannya ke khalayak. Selain itu, saya juga dapat menjadi pembaca atau konsumen dari media lainnya. Betul, saat ini kita berada pada dunia jalur cepat (fast track). #Nur Kholis.




LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here